Jumat, 20 Desember 2019

Liburan ke Cirebon, Wajib Coba Kuliner Nasi Lengko

Berkunjung ke Cirebon dan kulineran di sana, tentunya yang terbersit di pikiran adalah Empal Gentong atau Nasi Jamblang. Tapi, jangan lupakan Nasi Lengko!

Iya, memang harus diakui, dua masakan khas Cirebon ini memang lebih terkenal. Empal Gentong bahkan sudah dijual bukan hanya di Cirebon.

Tapi, khusus Nasi Jamblang, memang cuma di Cirebon saja yang menjual. Yang menjual nasi Jamblang, ada Bu Nur, Mang Doel dan lainnya.

Namun, selain dua masakan khas Cirebon tersebut, ada satu lagi makanan khas Cirebon yang ternyata enak. Saya diberitahu oleh Pengemudi Taksi Online yang saya tumpangi ketika berkunjung ke Cirebon.

Makanan tersebut adalah Nasi Lengko. Setelah berkeliling Cirebon dan memutuskan untuk ke Stasiun karena harus berpindah kota, akhirnya saya dan teman saya menemukan tempat makan nasi Lengko di dekat Stasiun Cirebon.

Ada semacam pertokoan di depan Stasiun. Cukup berjalan kaki saja. Dan kami pun memesan Makanan khas cirebon ini.

Sebenarnya apa sih Nasi Lengko?

Nasi Lengko adalah Nasi Putih, dengan lauk tempe dan tahu yang digoreng dan dipotong kecil-kecil berukuran dadu. Ada juga timun dan daun kucai dan tauge.

Cara penyajiannya adalah tahu, tempe, timun dan tauge ini setelah dipotong-potong, disiram dengan bumbu kacang dan ditaburi dengan daun kucai.

Bumbu kacang ini, rasanya seperti bumbu kacang di Sate Ayam. Bumbu kacang dengan tauge, tahu dan tempe ini, membuat Nasi Lengko sedap untuk disantap. Selain itu juga, tentunya makanan ini kaya akan protein.

Soal harga, Nasi Lengko ini juga murah. Satu piring dihargai dengan sepuluh ribuan saja. Tidak mahal bukan? Nah, kalau kita mampir ke Cirebon, jangan cuma menyantap Nasi Jamblang saja. Ada nasi Lengko.

Jalan Panjang Menaklukkan Rantemario, Gunung Tertinggi di Sulawesi

Jalur Tolajuk adalah jalur baru wisata pendakian Gunung Rantemario, puncak tertinggi di Pulau Sulawesi. Traveler yang mengaku pecinta alam wajib coba!

Jalur baru ini dikenal dengan sebutan jalur timur. Puncak Rantemario sendiri termasuk dalam salah satu Seven Summit Indonesia.

Menginap di Rumah Nenek Kalobang

Kisah Petualangan pembukaan jalur timur pendakian yang dimulai dari Desa Tolajuk (Kabupaten Luwu) hingga ke titik tertinggi Sulawesi, Gunung Rantemario (3447 mdpl) adalah sejarah baru pendakian sekaligus literasi kehidupan bagi para petualang.

Semoga saja jalur lintasannya memberi kesan terbaik, sama seperti mendaki Rantemario jalur Desa Karangan, Enrekang. Kisah pendakian ini dimulai dari Desa Tolajuk Kecamatan Latimojong Kabupaten Luwu sebagai titik awal pendakian.

Berikut kisahnya:

Satu jam lagi benang sore akan putus. Kabut tipis mulai turun. Cahaya matahari melemah, menghantam kaca mobil yang telah membawa kami tiba di Desa Tolajuk. Mobil itu terparkir di depan sebuah rumah panggung. Modelnya gagah. Tinggi menjulang. Bercat orange. Halamannya dipenuhi deretan bunga "tabang" yang daunnya merah.

Kami turun bersamaan peralatan dan perlengkapan pendakian yang telah terpacking dalam carriel. Oh iya, kami berjumlah 12 orang. Sebelas orang bernaung dalam organisasi Pecinta Alam Aktivitas Anak Rimba (AKAR) Indonesia dan seorang lagi seorang penggagas jalur timur Tolajuk-Rantemario sekaligus kami angkat sebagai leader dalam pendakian kali ini.

Dari 12 orang tersebut, satu pendaki cilik usia 6 tahun turut ambil bagian dalam pembukaan jalur yang kami target rampung selama 4 hari.

Di ujung tangga kami disambut ramah tuan rumah dan menyilahkan kami masuk duduk melingkar di lantai beralas tikar plastik. Kami beramah tamah sambil menikmati kopi panas khas Latimojong dipadu kue tradisional yang digoreng berbahan terigu dan gula saja. Sungguh nikmat di tengah cuaca dingin.

Kami bercerita banyak. Didominasi tuan rumah. Bermula ia memperkenalkan diri. Namanya Haji Majonni. Penduduk sekitar menyebutnya dengan sebutan Nenek Kalobang. Usianya sudah mencapai 92 tahun. Namun kondisi fisiknya jauh menggambarkan usia yang sesungguhnya.

Nenek Kalobang masih terlihat bugar dan menurutnya masih aktif menggarap sawah yang menghampar di kiri-kanan rumahnya. Cukup luas. Dua tangannya juga masih lincah menggiring dua kerbau miliknya.

Nenek Kalobang adalah mantan kepala desa selama beberapa periode di Desa Tolajuk. Sebagai tetua kampung, nenek Kalobang tahu betul sejarah Tolajuk. Menurutnya, sebutan Tolajuk diartikan sebagai orang tinggi.

3 Gua Alam di Bogor yang Belum Banyak Orang Tahu

Bogor tak cuma punya air terjun, ada 3 buah gua yang masih belum dieksplorasi. 3 Gua itu adalah Gua Sipahang, Gua Simenteng dan Gua Simasigit. Ada apa di sana?

Kala itu, kami (Trackers Bogor) memutuskan untuk travelling bersama menuju gua. Kami berkesempatan mengunjungi salah satu tempat wisata di Bogor tepatnya di Desa Argapura, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Bila sebelumnya Trackers Bogor mengunjungi tempat wisata seperti curug, pantai atau gunung. Trip kali ini sedikit berbeda, untuk pertama kalinya kami mengunjungi gua, tepatnya Gua Gudawang. Salah satu tempat wisata yang sudah kami incar dari awal tahun lalu, namun baru terealisasikan bulan ini.

Total peserta trip Gua Gudawang ini ada 14 orang dengan 9 motor. Perjalanan menuju gua Gudawang ini memakan waktu kurang lebih 1 jam 30 menit. Kondisi jalan bisa dibilang 85 persen mulus.

Kami berjalan beriringan memastikan agar setiap peserta tidak terpisah, karena sebagian dari kami masih ada yang belum pernah mengunjungi daerah ini. Ketika memasuki daerah Cigudeg, kami dimanjakan dengan pemandangan bukit yang indah dan perkebunan sawit.

Secara keseluruhan perjalanan menuju Gua Gudawang, Alhamdullillah dilalui dengan lancar. Sesampainya di pintu masuk Gua Gudawang, biaya untuk tiket masuk yang harus dibayarkan adalah Rp 7.000 per orang dan Rp 1.000 per motor.

Namun mengingat kami akan mengekplor gua yang gelap, berliku-liku dan medan yang sulit. Demi kenyamanan dan keamanan, kami memutuskan menyewa seorang tour guide. Jadi biaya yang dikeluarkan kurang lebih Rp 10.000 per orang.

Oh ya, terdapat tiga gua yang bisa kita kunjungi di sini, di antaranya Gua Sipahang, Gua Simenteng dan Gua Simasigit. Sebelum mengekplor ketiga gua tersebut, lebih baik tinggalkan tas, makanan dan lainnya di pos loket kepada penjaganya. Bawa hanya senter, air minum, dompet/hp yang terbungkus plastik dan alat dokumentasi.

Gua yang pertama kami ekplor lebih dalam adalah Gua Sipahang. Panjang Gua Sipahang ini menurut info yang terpercaya mencapai 1 km. Namun hanya bisa diekplor sedalam 600 meter dikarenakan debit air yang tinggi, sehingga medan sulit dan tidak bisa dilewati.

Di dalam Gua Sipahang ini banyak sekali pemandangan yang menakjubkan yang bisa dilihat, baik itu stalaktit maupun stalgmit. Bahkan di beberapa bagian gua, pengunjung bisa menyaksikan ribuan kelelawar yang bergelantungan.

Medan di dalam Gua Sipahang sangat licin, jadi disarankan memakai sepatu/sendal khusus. Tak hanya licin, beberapa titik medan pun harus dilalui dengan membungkuk, jalan miring, dan jalan jongkok. Di dalam Gua Sipahang, terdapat aliran air yang kedalamannya bervariasi, dari semata kaki hingga leher orang dewasa.

Gua yang kedua adalah Gua Simasigit. Yang unik dari gua ini yaitu memiliki pintu masuk berupa kepala singa. Gua Simasigit ini memiliki panjang 40 meter menurut papan petunjuk, sehingga tidak lama untuk mencapai ujung dari gua tersebut.

Yang terakhir, adalah Gua Simenteng. Gua yang memiliki pintu masuk seperti Gua simasigit yaitu kepala singa. Kami tidak banyak mengekplor tempat ini. Dikarenakan ketika berada di dalam gua, kami merasa seperti sesak napas dan sudah kelelahan mengeksplor gua-gua sebelumnya.

Akhirnya kami putuskan untuk kembali ke pos loket untuk berganti baju yang kotor dan basah, beristirahat dan menikmati bekal yang kami bawa.

Terima kasih kepada semua teman-teman yang ikut trip gua Gudawang kali ini. Semoga panjang umur dan diberi kesehatan agar kita bisa bertemu di trip berikutnya.