Minggu, 22 Desember 2019

Patung Merlion, Nasibmu Kini...

Ikonnya Singapura, Patung Merlion terancam tutup. Akan ada mega proyek yang mengancam eksistensinya. Padahal, belum sah ke Singapura kalau belum foto di sini.

Siapa traveler yang tidak tahu Patung Merlion? Ikonnya Singapura ini jadi tujuan utama kalau melancong ke negeri ini. Belum sah rasanya liburan ke Singapura kalau belum berfoto di depan si patung singa.

Namun dalam waktu dekat, wisatawan yang melancong ke Singapura bisa jadi tak lagi menemukan patung Merlion di Pulau Sentosa. Itu karena akan ada mega proyek pembangunan jalan raya yang menghubungkan Sentosa bagian selatan dan utara.

Dikutip detikcom dari Business Insider, Minggu (22/9/2019), menurut One Faber Group tanggal 20 Oktober 2019 akan jadi hari terakhir patung singa Merlion beroperasi. Nantinya di lokasi tersebut akan dibangun jalan raya yang menghubungkan Sentosa bagian selatan dan utara.

Patung Merlion Sentosa ini adalah satu dari 7 patung merlion di Singapura. Patung ini merupakan yang tertinggi. Tingginya mencapai 37 meter.

Meski nantinya ditutup, traveler bisa melihat 6 patung merlion lain yang tersebar di seantero Singapura. Termasuk di antaranya yang berada di depan Hotel Fullerton.

Penutupan Patung Merlion di Sentosa pastinya akan membuat banyak wisatawan kecewa. Untuk menghibur warga Singapura, manajemen One Faber Group pun menawarkan tiket setengah harga untuk warga sejak 21 September 2019 hingga penutupan pada 20 Oktober 2019 mendatang. Untuk pemesanan tiket bisa melihat laman resmi One Faber.

Nantinya, Sentosa Merlion akan membuat pertunjukan edisi khusus yakni Sentosa Merlion Magic Light setiap malam yakni pukul 19.45, 20.20, 20.55 dan 21.30 waktu setempat. Selain itu juga akan ada permainan interaktif, spot foto instagrammable.

Meski disebut akan berhenti beroperasi pada Oktober mendatang, belum diketahui apakah patung 'singa' khas Singapura ini bakal dirobohkan atau tidak. Sentosa Development Corporation belum mengonfirmasi mengenai hal tersebut.

Kata Warga Soal Keseruan Festival Musik di Kepulauan Seribu

Setelah berlangsung selama tiga hari, akhirnya Oceanik Folk Festival Jakarta resmi selesai hari ini. Respon masyarakat pun cukup baik.

Dilangsungkan selama tiga hari dari tanggal 20-22 September 2019, pagelaran Oceanik Folk Festival Jakarta di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu telah usai hari ini, Minggu (22/9/2019). Aneka respon masyarakat akan event itu pun cukup beragam.

Diwawancarai detikcom di lokasi, event musik tersebut terbukti mendatangkan wisatawan ke Pulau Tidung selama beberapa hari kemarin. Datangnya wisatawan pun otomatis menggerakkan roda pariwisata di sana, seperti dituturkan oleh salah satu warga bernama Pipit.

"Kalau buat saya bermanfaat banget kan, jadi rame banyak pengunjungnya khusus buat pedagang jembatan cinta," ujar Pipit.

Selama acara berlangsung, Pipit mengaku tidak sempat melihat pagelaran acara karena sibuk berjaga di warung. Namun, ke depannya ia berharap agar festival serupa lebih sering digelar untuk meramaikan roda ekonomi di pulau.

"Senang sih, kalau bisa sering-sering ada hiburan buat warga sini. Bisa menghibur, kan jarang ada hiburan di sini," ujar Pipit.

Hal senada juga dituturkan oleh Husin, salah satu warga setempat yang aktif menjadi pengemudi bentor.

"Sering-sering, maksudnya rame saja demen. Ada rezeki buat bentor lumayan. Sini kan Sabtu Minggu doang rame," ujar Husin.

Tinggal di pulau, memang jauh dari hiburan. Hadirnya festival semacam ini pun jadi hiburan untuk warga. Salah satunya adalah Tia, salah satu warga yang juga berprofesi sebagai pedagang.

"Acara kemarin seru, membantu menarik wisatawan dan menghibut buar kita," pungkas Tia.

Itulah beberapa komentar warga terkait acara Oceanik Folk Festival Jakarta yang dilangsungkan tiga hari kemarin. Semoga acara serupa dapat kembali hadir tahun depan dengan format yang tak kalah menarik.

5 Hal dari Selandia Baru yang Orang Indonesia Suka Salah Paham

Selandia Baru atau New Zealand merupakan negara di Oseania, tetangganya Australia. Menjadi incaran turis Indonesia, apakah kamu sudah tahu betul mengenai negara ini?

Mungkin, traveler lebih familiar dengan nama New Zealand. Terkenal dengan berbagai alamnya, ternyata Selandia Baru memiliki sejumlah fakta unik.

Berdasarkan rilis yang diterima detikcom dari Tourism New Zealand, Minggu (22/9/2019) ada sejumlah hal yang masih jadi salah kaprah tentang Selandia Baru dari sudut pandang Indonesia. Berikut selengkapnya?

1. Selandia Baru dan New Zealand

Selandia Baru merupakan terjemahan langsung dari New Zealand. Hal ini menjadi persepsi karena sebuah kata memiliki padanan dalam Bahasa Indonesia.

Jangan salah ya, terkadang masih saja ada yang mengira bahwa Selandia Baru dan New Zealand dua negara yang berbeda. Sebenarnya, sama saja kok, hanya bahasa yang digunakan saja berbeda.

2. Letak Selandia Baru

Letak Selandia Baru berada di wilayah geografis Oseania yang meliputi Australasia, Melanesia, Micronesia dan Polynesia.

Selandia Baru juga terbagi menjadi dua pulau utama, yakni Pulau Utara dan Selatan. Keduanya sama-sama memiliki pemandangan alam yang indah sebagai daya tarik utama. Tidak jarang, wisatawan datang untuk road trip keliling Selandia Baru.

Untuk dapat berkendara di Selandia Baru, traveler harus memiliki SIM internasional. Sama seperti di Indonesia, kursi supir berada di sebelah kanan. Jadi, tidak terlalu sulit bagi pengemudi Indonesia.

3. Musim dingin di Selandia Baru

Nah, jika sejumlah negara di belahan bumi Utara umumnya mengalami musim dingin di akhir menjelang awal tahun, di Selandia Baru lain ceritanya.

Selandia Baru mengalami musim dingin pada bulan Juni sampai Agustus. Sedangkan, musim panas berlangsung Desember hingga Februari. Pada saat musim semi (September-Oktober) dan gugur (Maret-Mei) juga tidak kalah indah. Traveler bisa menikmati pemandangan alam cerah dengan suasana yang segar.

4. Visa

Untuk WNI yang ingin ke Selandia Baru, harus mendaftar visa melalui agen VFS Global. Biaya pengajuan visa turis senilai NZD 246 (sekitar Rp 2,2 juta) yang juga termasuk dengan biaya retribusi International Visitor Conservation and Tourism (IVL) sebesar NZD 35.

Untuk pembuatan visa, traveler harus menunggu selama 20 hari kerja. Sebaiknya, daftarkan visa 1-2 bulan sebelum keberangkatan. Perhatikan dengan detil syarat dan ketentuan agar visa lebih mudah diterima.

5. Pengalaman budaya yang beragam

Biasanya, Selandia Baru hanya terkenal dengan panorama alamnya saja. Ternyata, banyak juga budaya yang seru untuk dieksplor.

Misalnya saja menjelajahi dengan bertemu dengan suku Maori, suku asli Selandia Baru. Traveler dapat menikmati pōwhiri, upacara tradisional penyambutan tamu suku Maori yang hangat lewat sambutan resmi, tari-tarian, nyanyian dan tentu saja salam khas Maori, Hongi (ritual saling menempelkan hidung yang menciptakan koneksi 'napas kehidupan' di antara kedua orang) dan berbagai pengalaman menyenangkan lainnya.