Minggu, 22 Desember 2019

Serunya Nonton Konser Tanjidor di Pulau Gusung Patrick

Oceanik Folk Festival Jakarta di Kepulauan Seribu masuk hari ketiga. Penampilan pun berlanjut di Pulau Gusung Patrick dengan orkes Tanjidor.

Setelah dilangsungkan selama dua hari dari Jumat (20/9) kemarin, acara Oceanik Folk Festival Jakarta pun memasuki hari terakhir, Minggu (22/9/2019). Berbeda dengan sebelumnya, atraksi penutupan hari ini pun khusus dilangsungkan di Pulau Gusung Patrick yang berjarak sekitar satu jam perjalanan dari Pulau Tidung.

Tiba di pulau sekitar pukul 09.30 WIB, sejumlah seniman hari sebelumnya yang terdiri dari penampil akustik turut diajak untuk tampil di Pulau Gusung Patrick. Mulai dari Orkes Tanjidor Betawi, grup musik Supa Kalula dan lainnya unjuk kebolehan memainkan permainan musik meseka.

Untuk informasi, Pulau Gusung Patrick merupakan pulau pasir tak berpenghuni yang hanya muncul ke permukaan saat air surut. Durasinya pun hanya sebentar saja. Hanya bagi music director Frankie Raden yang menjadi ide di balik Oceanik Folk Festival Jakarta, itu menjadi tantangan.

"Saya pikir hari ketiga saya bawa mereka ke sini, dan saya pikir buat mereka juga ada sesuatu yang beda. Ini juga sangat challenging karena cuma dua jam. Ini juga gak pakai listrik, akustik semua," ujar Frankie.

Dijelaskan oleh Frankie, ide pemilihan tempat ini berawal dari Kasudinparbud Kepulauan Seribu, Cucu Ahmad Kurnia. Lokasi Pulau Gusung Patrick juga sangat sejalan dengan tema besar festival. Agar lebih ramai, juga ada lomba body painting hingga instalasi layang-layang.

"Kebetulan ini kan folk festival, banyak elemen akustik kayak tanjidor. Visual seperti body painting. Layangan buat ornamen vertikal," ujar Frankie.

Lebih lanjut, Frankie melakukan ini dalam upayanya untuk membantu mempromosikan Kepulauan Seribu di kancah internasional.

"Pada dasarnya kita mau promosi Pulau Seribu. Saya pikir ini perlu buat teaser kuta tahun depan. Target kita kan turis mancanegara," tutup Frankie.

Acara penutupan pun berlangsung sekitar dua jam saja sebelum Pulau Gusung Patrick kembali tertutup air laut. Sisanya adalah pengumuman hasil pemenang lomba yang telah lalu.

Catat! Ini Destinasi Surfing Populer di Sinabang

Pulau Sinabang di Provinsi Aceh mungkin lebih dikenal wisman karena ombaknya. Buat kamu yang mau liburan ke sini, ini aneka destinasi surfingnya.

Selain Pulau Sabang di Provinsi Aceh, Kabupaten Simeulue di Pulau Sinabang juga menjadi primadona wisman. Bedanya, wisman yang datang ke Pulau Sinabang mayoritas adalah penggila surfing.

Dalam ekspedisi Tim detikcom dengan Bank BRI di Sinabang dari 28 Agustus-5 September 2019, detikcom pun mengunjungi sejumlah pantai cantik di sana yang populer dengan ombaknya.

Salah satu yang cukup populer adalah Pantai Matanurung di Kecamatan Teupah Tengah. Berlokasi kurang dari 10 menit kalau dari Bandar Udara Lasikin, pantai ini diapit oleh dua penginapan surfing.

Yang pertama adalah Sea Salt Resort yang dimiliki investor asing. Lalu di belakangnya ada Ranu Surf Camp yang dimiliki oleh putra daerah, Ranu Amilus. Untuk informasi, Ranu merupakan salah satu dari sekian nasabah Bank BRI yang bergerak di bidang ini.

Lalu ada Pantai Pulau Tapah di Kecamatan Teupah Selatan. Untuk mencapainya, traveler harus lebih dulu menyeberang ke Pulau Tapah sebelum menuju pantai. Kemudian ada juga Pantai Nancala di Kecamatan Teupah Barat. Jaraknya 27 Km dari pusat Kota Sinabang.

Selain memiliki ombak, Pantai Nancala juga kerap jadi venue langganan lomba surfing. Bahkan di saat tertentu, ombak yang ada di pantai ini bahkan bisa menembus 5 meter!

Bergeser ke Pantai Alus-alus yang masih di Kecamatan Teupah Selatan, pantai ini memiliki ombak yang tidak tinggi serta tiada karang. Hal itu membuat para pecinta surfing yang belum terlalu mahir datang ke pantai ini.

Jika traveler mengaku pecinta surfing, waktu terbaik untuk datang ke Sinabang adalah pada bulan Agustus hingga Desember.

Ikuti terus berita tentang ekspedisi di pulau-pulau terdepan Indonesia di tapalbatas.detik.com!

Bermain di Atap Hutan Gunung Halimun Salak

Anda bisa bermain di atap hutan di Gunung Halimun Salak. Hawa sejuk dengan lanskap hijau melingkupinya dan inilah Canopy Trail.

Suka dengan ketinggian? Kunjungilah Resort Stasiun Penelitian Cikaniki, di Desa Malasari, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Di area zona pemanfaatan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak ini terdapat Canopy Trail Gunung Halimun Salak. Ketinggiannya 25 meter dengan panjang bentangan sekitar 125 meter.

Dulunya Canopy Trail Gunung Halimun Salak ini dibuat untuk pengamatan beragam satwa di area hutan hujan terluas di Pulau Jawa. Ada beragam burung juga terdapat primata Owa Jawa yang bisa diintip di sana.

"Canopy Trail dibangun tahun 1998, awalnya untuk kepentingan pengamatan sambil rekreasi. Lokasi ini terdapat beragam ekosistem, seperti berbagai jenis burung seperti Elang Jawa, Elang Hitam, Brontok, burung-burung kecil, terutama primata Owa Jawa," kata Muhammad Arsa, Kepala Resort Stasiun Penelitian Cikaniki, Sabtu (29/9/2019).

Sayangnya saat detikcom di lokasi tidak sempat melihat langsung primata yang dilindungi tersebut. Namun, dari kejauhan terdengar suara sayup-sayup mirip Owa Jawa.

Ada ratusan anak tangga yang harus dilewati untuk sampai ke Canopy Trail Gunung Halimun Salak paling atas. Selain berketinggian maksimal 25 meter, ada pula yang hanya 15 meter yang keduanya sama-sama melintasi aliran sungai kecil.

Ada beberapa aturan yang harus dipatuhi traveler saat naik. Yakni, kanopi ini hanya bisa mengakomodir maksimal 5 orang dengan jarak 5 meter per orangnya per shelter saat melintas.

"Selain itu, tidak boleh berlari atau melompat-lompat saat berada di atas shelter," jelas Arsa.

Adrenalin terpacu saat melangkahkan kaki pertama kali ke atas pijakan kayu Canopy Trail Gunung Halimun Salak. Angin yang lumayan kencang di ketinggian dengan perlahan membuat jalur kanopi bergoyang.

"Kita pastikan aman, setiap hari kita cek kondisinya. Mengingat jalur menuju lokasi memang harus melalui trek yang lumayan berbatu. Pengunjung kita rata-rata hanya 50 orang per bulannya," tutur Arsa.

Tarif untuk merasakan sensasi Canopy Trail Gunung Halimun Salak hanya Rp 25 ribu per orang. Untuk rombongan per 10 orang harganya bisa lebih murah lagi, yakni hanya Rp 150 ribu.

Masih belum puas dan ingin menginap di lokasi? Bisa, jaraknya hanya sekitar 200 meter dari lokasi Canopy Trail Gunung Halimun Salak yang juga merupakan kantor resort. "Untuk menginap per kamar Rp 250 ribu untuk satu malam," ucap Arsa.

Selain kanopi, masih di sekitar lokasi tersebut, ada objek wisata air terjun yakni Curug Macan dan perkebunan teh Nirmala. Saat malam, ada lagi suguhan pemandangan ajaib dari Glowing Mushroom, jamur yang mengeluarkan cahaya hijau

Untuk pengguna kendaraan pribadi dari arah Jakarta yang ingin menuju lokasi begitu keluar Tol Jagorawi langsung masuk ke Tol Bocimi. Lalu arahkan kendaraan ke Cigombong menuju Stasiun Parungkuda melewati Kecamatan Kalapanunggal, Bojong Genteng, Kabandung (Kantor Balai) kemudian berlanjut ke Cipeteuy dan masuk Kawasan Cikaniki.

"Kalau kendaraan pribadi memakan waktu dari Tol Bocimi sekitar 2 hingga 3 jam. Kalau pengguna angkutan umum bisa naik Bus dari Kampung Rambutan, arah ke Stasiun Parungkuda, naik angkot L300 jurusan Cipeteuy. Berlanjut naik ojek seharga Rp 75 ribu sampai Rp 100 ribu untuk ke lokasi ini," pungkasnya.