Senin, 30 Desember 2019

Hai Pecinta Kopi, Ada Festival Kopi Bandung Nih!

Kamu yang liburan ke Bandung, datang saja ke Bandung Coffee Festival. Dijamin para pecinta kopi akan terpuaskan di sini. Yuk!

Dinas Pertanian Kabupaten Bandung akan kembali menggelar Bandung Coffee Festival Volume 3 Tahun 2019 yang diselenggarakan dari tanggal 23-25 Agustus 2019.

"Bandung Coffee Festival Tahun 2019 ini merupakan yang ketiga dan akan digelar Festival Citilink Kota Bandung, selama tiga hari," kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung Risna Umaran di Soreang, Rabu (21/8/2019).

Ia mengungkapkan, tren kopi di Kabupaten Bandung baru mulai pada tahun 2003 dan berkembang di tahun 2006. Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Bandung sulit mengenalkan kopi kepada para petani, karena para petani enggan alih komoditi dan memilih bertani hortikultura.

"Kita merasa apa yang dilakukan kita dari Tahun 2003 sampai 2006 merupakan masa perkenalan kopi sebagai komoditas yang ditawarkan menggantikan holtikultura," ungkapnya.

Ia menjelaskan masyarakat sulit mengganti komoditas hortikultura menjadi kopi. Dibutuhkan perjalanan panjang, bagi pemerintah mengajak masyarakat untuk beralih menjadi petani kopi, padahal kopi di Kabupaten Bandung memiliki kualitas tinggi.

"Pada saat itu, kita menawarkan kopi masyarakat tani kita masih menertawakan. Padahal kopi Kabupaten Bandung merupakan kopi yang berciri khas tinggi, punya rasa asam dan varian kopi di Kabupaten Bandung memilikimu kualitas tinggi," jelasnya.

Ia berujar, lahan kopi di Kabupaten Bandung dari tahun ke tahun terus meningkat.

"Sekarang ada 1.000 hektare lahan kopi di Kabupaten Bandung, bahkan sejak ada program Citarum Harum hampir 200 hektare nya diberikan kepada Pemkab Bandung," ujarnya.

Melalui pameran kopi ini, pihaknya ingin petani kopi tidak hanya pintar bertani tapi memiliki keterampilan dalam mencicipi rasa kopi.

"Kopi kita bisa diterima baik di dalam atau luar negeri, nilai ekonominya tinggi. Kita ingin mengajak masyarakat agar mencintai kopi, dimulai dari cara mencicipi kopi itu sendiri, nantinya itu bertujuan agar petani kita tidak dibohongi oleh pengepul atau eksportir," paparnya.

Terkait pelaksanaan festival kali ini yang membedakan akan dilaunching terkait dengan Gopay, peserta dikasih barcode yang nanti bonus Gopay.

Pembeda acara Kopi Festival Tahun 2019 dari tahun sebelumnya akan ada 20 peserta kopi master, sebelumnya hanya 16 peserta. Selain itu, pesertanya tidak hanya dari Bandung, ada juga dari Jakarta, Karawang, Semarang dan Padang.

"Ini acara kopi master Indonesia bukan lokal, karena pemenangnya akan dihadirkan ke London. Jadi sisi kualitas kita meningkat, karena pemberangkatannya dari kita. Dari Kabupaten Bandung untuk dunia," tuturnya.

Gunung Prau dan Negeri di Atas Awan

Pulau Jawa dianugerahi sejumlah gunung yang cantik dengan pemandangan indah. Salah satunya, adalah Gunung Prau.
Memiliki ketinggian 2.565 mdpl terletak di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah, dari pucaknya menyajikan panorama yang begitu indah dengan Gunung Sindoro dan Gunung SUmbing berdiri gagah di balik samudera awan. Di Gunung Prau bisa dijumpai banyak bunga Daisy tumbuh dengan cantik oleh warnanya beragam juga ada susunan bukit-bukit yang kerap kali disebut bukit teletubies.

Suatu nikmat hakiki adalah ketika bangun dari tidur menatap hamparan awan dan panorama pegunungan berbaris di depannya, sungguh sebuah keindahan mahakarya Tuhan yang luar biasa! Ada rasa menyeruak dalam sanubari, begitu cantik pesona negeri ini, duduk di depan tenda puncak Gunung Prau, seakan menemukan negeri di atas awan yang sesungguhnya. Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing berdiri gagah di antara gumpalan awan bergulung-gulung selayaknya kapas putih yang sangat luas.

Gunung Prau atau sering disebut juga Gunung Prahu memiliki ketinggian 2.565 mdpl terletak di kawasan Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah. Berada di antara tiga kabupaten, yakni Kabupaten Batang, Kendal, dan Wonosobo. Puncak Gunung Prau merupakan padang rumput luas yang memanjang dari barat ke timur. Bukit-bukit kecil dan sabana, dapat di jumpai di area puncaknya.

Sejauh ini ada 3 pos pendakian Gunung Prau yang cukup dikenal di kalangan pendaki, diantaranya Jalur pendakian via Patak Banteng, bisa dikatakan ini adalag jalur pendakian yang sering dipilih pendaki. Alasannya karena jalur ini sangat pendek dan cepat sampai di puncak. Akan tetapi medan pendakian Patak Banteng, cukup terjal dan menanjak.

Menteri Pariwisata Resmi Buka Festival Pacu Jalur di Riau

Menpar Arief Yahya resmi buka Festival Pacu Jalur (pacu sampan) di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) Riau. Acara pacu jalur ini akan diikuti 8.500 perserta lomba.

Pembukaan Pacu Jalur ini dilaksanakan di alun-alun Pemkab Kuansing di tengah kota Taluk Kuantan, Rabu (21/8/2019). Dalam sambutannya, Arief menyebutkan Festival Pacu Jalur akan masuk dalam agenda kalender wisata nasional.

"Acara pacur jalur ini sangat bagus. Tetapi saya sampaikan, acara ini sangat kurang dipromosikan, sekali lagi kurang dipromosikan terutama pada kalangan muda," kata Arief.

Namun demikian, tambah Arief, pacu jalur ini saat ini masuk dalam topik nasional di media sosial.

"Dan alhamdulilah, Festival Pacu Jalur ini sudah menjadi tranding topic nasional. Tadi pagi saya lihat di twitter, media sosial, seluruh media nasional memberitakan festival pacur jalur," kata Arief.

Dalam kesempatan membuka acara ini, Arief memberikan dana bantuan untuk hadiah pacur jalur sebesar Rp 100 juta.

"Saya berjanji akan memasukan acara Festival Pacu Jalur di dalam kalender wisata nasional tahun depan," kata Arief.

Untuk mengenal sejarah pacu jalur ini, Ketua Lembaga Adat Melayu Kuansing, Febri Mahmud dalam sambutannya menjelaskan, bahwa awalnya acara pacu jalur (sampan) ini diselenggarakan dalam hari ulang tahun Ratu Wilhelmina di Belanda.

"Dulunya acara pacu jalur ini dilakukan semasa Belanda masih berkuasa. Acara ini dibuat untuk memperingati hari ulang tahun Ratu Wilhelmina," kata Febri.

Lebih lanjut Febri, pacu jalur sempat dihentikan ketika perang dunia II di Jepang berkuasa. Sejak Jepang berkuasa, acara pacu jalur memperingati ultah Ratu Belanda itu dihentikan.

"Pasca kemerdekaan, pacu jalur kembali diaktifkan. Jika awalnya memperingati hari ulang tahun Rawu Willhemina, bergeser sebagai peringatan hari kemerdekaan Indonesia. Sejak dulu acara ini sudah digelar masyarakat Kuansing di Sungai Kuantan," kata Febri.

"Itu sebabnya, acara pacur jalur sekarang dilaksanakan saat hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia," kata Febri.

Sayangnya, walau acara pacu jalur ini sebagai bentuk memperingati hari ulang tahun kemerdekaan, di alun-alun yang tersedia tiang Bendara yang menjulang tinggi tidak terpajang Sang Merah Putih. Tiang bendera yang kokoh itu hanya terkait tali tanpa bendera Merah Putih.

"Kami sayangkan sekali, acara resmi pemerintah dalam rangka memperingati hari kemerdekaan dengan acara pembukaan festival pacu jalur, namun tiang bendera tidak berkibar merah putih. Sepertinya panitia luput akan hal ini," kata Imron warga setempat kepada detikTravel.

Hai Pecinta Kopi, Ada Festival Kopi Bandung Nih!

Kamu yang liburan ke Bandung, datang saja ke Bandung Coffee Festival. Dijamin para pecinta kopi akan terpuaskan di sini. Yuk!

Dinas Pertanian Kabupaten Bandung akan kembali menggelar Bandung Coffee Festival Volume 3 Tahun 2019 yang diselenggarakan dari tanggal 23-25 Agustus 2019.

"Bandung Coffee Festival Tahun 2019 ini merupakan yang ketiga dan akan digelar Festival Citilink Kota Bandung, selama tiga hari," kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bandung Risna Umaran di Soreang, Rabu (21/8/2019).

Ia mengungkapkan, tren kopi di Kabupaten Bandung baru mulai pada tahun 2003 dan berkembang di tahun 2006. Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Bandung sulit mengenalkan kopi kepada para petani, karena para petani enggan alih komoditi dan memilih bertani hortikultura.

"Kita merasa apa yang dilakukan kita dari Tahun 2003 sampai 2006 merupakan masa perkenalan kopi sebagai komoditas yang ditawarkan menggantikan holtikultura," ungkapnya.

Ia menjelaskan masyarakat sulit mengganti komoditas hortikultura menjadi kopi. Dibutuhkan perjalanan panjang, bagi pemerintah mengajak masyarakat untuk beralih menjadi petani kopi, padahal kopi di Kabupaten Bandung memiliki kualitas tinggi.

"Pada saat itu, kita menawarkan kopi masyarakat tani kita masih menertawakan. Padahal kopi Kabupaten Bandung merupakan kopi yang berciri khas tinggi, punya rasa asam dan varian kopi di Kabupaten Bandung memilikimu kualitas tinggi," jelasnya.

Ia berujar, lahan kopi di Kabupaten Bandung dari tahun ke tahun terus meningkat.

"Sekarang ada 1.000 hektare lahan kopi di Kabupaten Bandung, bahkan sejak ada program Citarum Harum hampir 200 hektare nya diberikan kepada Pemkab Bandung," ujarnya.

Melalui pameran kopi ini, pihaknya ingin petani kopi tidak hanya pintar bertani tapi memiliki keterampilan dalam mencicipi rasa kopi.

"Kopi kita bisa diterima baik di dalam atau luar negeri, nilai ekonominya tinggi. Kita ingin mengajak masyarakat agar mencintai kopi, dimulai dari cara mencicipi kopi itu sendiri, nantinya itu bertujuan agar petani kita tidak dibohongi oleh pengepul atau eksportir," paparnya.