Minggu, 19 Januari 2020

Laris! Ribuan Tiket Dieng Culture Festival Sudah Terjual

 Tiket Dieng Culture Festival (DCF) sudah mulai dijual. Saat ini, dari 5.500 tiket yang disediakan dan 2.500 tiket di antaranya sudah terjual. Kamu sudah beli?

Panitia DCF, Khaerul Anam mengatakan, bagi wisatawan yang ingin merasakan sensasi dinginnya Dieng dan melihat ruwatan rambut gimbal bisa memasan secara online maupun offline tiket DCF. Tahun ini, pantia DCF menyediakan 5.500 tiket.

"Sampai saat ini sudah sekitar 2.500 tiket yang terjual. Tetapi angka ini terus berubah karena selalu ada yang memesan. Mungkin nanti malam sudah tambah lagi tiket yang terjual," ujarnya saat dihubungi detikcom, Rabu (26/6/2019).

Untuk pemesanan secara online, tiket DCF dijual melalui traveloka. Sedangkan untuk penjualan offline bisa menghubungi masing-masing panitia DCF.

"Ada juga yang dijual melalui biro. Karena biasanya biro perjalanan ada paket mulai dari perjalanan, tiket hingga penginapan," terangnya.

Tiket DCF dijual seharga Rp 350 ribu. Di dalamnya termasuk tiket ke tiga objek wisata di Dieng, tas, kain batik, caping lampion hingga bisa mengikuti semua rangkaian acara DCF. Termasuk salah satunya adalah ruwatan rambut gimbal di Candi Arjuna.

"Dengan tiket itu, gratis ke Kawah Sikidang, Telaga Warna dan Candi Arjuna," sebutnya.

DCF ke-10 digelar mulai tanggal 2-4 Agustus 2019. Selain ruwatan rambut gimbal, juga festival lampion, jazz atas awan dan beberapa rangkaian acara lainnya.

Siap-siap! Asia Africa Carnival Bakal Digelar di Kota Bandung

Asia Africa Carnival (AAC) akan digelar di Kota Bandung pada 29 Juni 2019. Beragam seni budaya pertunjukan musik, hingga keunggulan dari negara-negara Asia dan Africa, akan dipamerkan di perhelatan tersebut.

"Asian Africa Carnival merupakan maha karya untuk memperingati Konferensi Asia Africa di Bandung tahun 1955. Sebuah simbol pemersatu negara-negara peserta konferensi. Berbagai budaya dunia akan menghiasi karnaval ini. Tentunya ini menjadi sebuah atraksi wisata yang patut untuk disaksikan," kata Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam keterangan tertulis, Rabu (26/6/2019).

Kadisbudpar Kota Bandung Kenny Dewi Kaniasari mengatakan sejak pertama kali digelar jumlah pengunjung yang datang ke AAC terus meningkat. Bahkan tahun ini ia menargetkan bisa menggaet 100 ribu pengunjung.

"Event ini bukan hanya milik Kota Bandung saja tapi sudah menjadi perhatian nasional," jelas dia.

Kenny menjelaskan, seperti tahun-tahun sebelumnya, event ini dibagi menjadi tiga event yakni praevent, road to main event dan main event. Dalam pra event akan ada dua subevent yakni Asia Africa Ramadhan Fair dan Ngabuburit On The Street yang rencananya digelar pada 19 Mei hingga 9 Juni 2019 lalu.

Kemudian road to main event akan digelar Asia Africa X-Po dan Asia Africa Geographic and Food Market dengan melibatkan UMKM, hotel dan resto binaan Disbudpar Kota Bandung.

"Sebagai puncak acara AAF 2019 akan digelar di Jalan Sukarno dan Cikapundung Riversport pada 29 Juni 2019," ujar Kenny.

Selain itu, ada Gelaran Seni dan Budaya Asia Africa. Event ini merupakan salah satu acara yang paling ditunggu-tunggu dengan menampilkan kesenian dan kebudayaan dari negara-negara Asia Africa. Pertunjukan spektakuler dalam Keanekaragaman Seni dan Budaya Asia Africa ini menjadi daya tarik pengunjung.

Jumat, 17 Januari 2020

Resah Isu Arabisasi, Tokoh Agama Minta Pemkab Banyuwangi Bersikap

Wisata halal yang dikembangkan Pemkab Banyuwangi disebut Arabisasi oleh sebagian netizen. Resah dengan ini, tokoh agama dan budayawan minta Pemkab bersikap.

Segmentasi wisata halal di Banyuwangi dengan mengembangkan pantai syariah beberapa tahun silam jadi perbincangan yang cukup hangat di media sosial beberapa waktu terakhir. Ada tulisan yang menuding konsep itu sebagai bentuk Arabisasi.

Tuduhan tersebut mendapat respons keras dari sejumlah tokoh lintas agama dan budayawan Banyuwangi. Mereka menggelar pertemuan dengan pejabat Pemkab Banyuwangi, di Pendopo Sabha Swagata Blambangan Banyuwangi, Sabtu (29/6/2019).

Ketua I Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banyuwangi KH Nur Khozin menyebut pengembangan pariwisata halal di Banyuwangi sama sekali jauh dari Arabisasi.

"Arabisasi itu berarti menerapkan budaya Arab. Di Banyuwangi tidak ada seperti itu," ujarnya.

Perwakilan dari Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Banyuwangi I Komang Sudira mengatakan, pengembangan wisata dan kebudayaan di Banyuwangi telah berjalan dengan sangat baik dan menghargai keberagaman. Seni-budaya berbasis kearifan lokal Suku Osing (masyarakat asli Banyuwangi) digelar rutin dan semarak.

"Sampai saat ini, tidak saya temukan upaya untuk memaksakan nilai-nilai agama tertentu yang dapat merusak keberagaman yang ada. Apalagi dalam hal kebudayaan dan kesenian," terangnya.

Ketua Badan Musyawarah Antar Gereja (BAMAG) Banyuwangi Pendeta Anang Sugeng Sulistiyo mengatakan, kebudayaan dan kesenian yang berkembang dari suku Osing selama ini berlaku universal. Dia mencontohkan Tari Gandrung yang tak hanya ditarikan warga beragama tertentu. Anak-anak muda lintas agama juga menarikannya dalam berbagai festival seni yang ada di Banyuwangi.

"Semua agama bisa menarikannya. Baik muslim, Hindu, Kristen, Budha dan lainnya, semuanya bisa menarikannya. Jadi, tak ada pemaksaan sebagaimana yang dituduhkan dengan istilah arabisasi itu," tutur Pendeta Anang.

Sejumlah budayawan juga menolak tuduhan arabisasi terhadap pariwisata di Banyuwangi. Apalagi tuduhan tersebut hanya berdasarkan potongan informasi yang tak lengkap.

"Jika diamati, tuduhan miring yang disematkan kepada pariwisata Banyuwangi ini dilakukan oleh orang luar Banyuwangi. Yang saya yakin, dia tidak tahu benar dengan kenyataan yang ada," ungkap budayawan Banyuwangi Samsudin Adlawi.

Bahkan, tambah Samsudin, sejumlah foto dan narasi yang dibangun untuk melegitimasi tuduhan arabisasi itu hanya berdasarkan prasangka. "Menyebut suku Osing dan kebudayaannya itu sebagai Hindu adalah tuduhan yang buta sejarah dan tak faktual," tegas mantan ketua Dewan Kesenian Blambangan tersebut.

Samsudin meminta tak ada upaya memecah belah kerukunan di Banyuwangi. Dia menyebut tulisan yang menuding ada Arabisasi terhadap umat Hindu di Banyuwangi adalah upaya mengadu domba. "Tapi itu tidak akan berhasil karena semua orang mengetahui betapa keberagaman dan kearifan lokal di Banyuwangi ini dirawat dan dirayakan, bukan dihilangkan," ujarnya.

Pengembangan destinasi wisata halal, imbuh Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, tak lebih dari strategi pemasaran saja. Pangsa pasar wisata halal di dunia terus mengalami kenaikan. Pasar inilah yang kini coba dibidik oleh Banyuwangi.

"Halal tourism selama ini terus meningkat trendnya. Bahkan, di negara-negara yang notabenenya orang muslim bukan mayoritas, wisata halalnya sangat maju. Sementara itu, kita yang merupakan negara dengan mayoritas penduduknya muslim, jauh tertinggal," ungkap Anas.

Ceruk pasar tersebut yang coba diambil oleh dunia wisata di Banyuwangi. Dengan branding halal tourism diharapkan mampu menarik peminat wisata halal ke ujung timur pulau Jawa ini.

"Banyuwangi sendiri, sebenarnya, wisatanya sudah memenuhi standarisasi halal tourism. Hampir semua wisata, ada tempat ibadahnya. Makanannya pun makanan halal. Jadi, halal tourism ini bukan soal arabisasi, tapi soal promosi dan segmentasi pasar sana. Urusan komersial untuk mendatangkan wisatawan, tidak lebih, dan jelas bukan Arabisasi," tegas Anas.

Pertemuan tersebut juga diikuti Ketua I Forum Kerukunan Umat Beragama, budayawan senior Banyuwangi, Hasnan Singodimayan, serta sejumlah tokoh budaya lainnya seperti Taufiq Hidayat dan Budianto.