Minggu, 19 Januari 2020

Ada Fenomena Embun Es di Dieng, Wisatawan Datang Sejak Pagi

Fenomena embun es di dataran tinggi Dieng terus membuat wisatawan penasaran untuk melihat langsung. Hari ini, Sabtu (22/6/2019) wisatawan mulai berdatangan sejak pukul 05.30 WIB.

Bramantyo, salah satu wisatawan sengaja menyempatkan diri ke Dieng lantaran penasaran dengan fenomena embun es. Beruntung, niat berlibur ke Dieng kali ini terbayar dengan munculnya embun es. Mengingat kemunculan embun es tidak setiap hari dan sulit diprediksi.

"Saya dari Jogja, dan memang sengaja ingin melihat langsung embun es. Sebelumnya pernah, tetapi sampai Dieng ternyata embun es tidak muncul," ujarnya.

Meski suhu terasa dingin, namun ia mengaku puas bisa melihat embun yang membeku. Termasuk air yang menggenang di plastik yang ikut membeku.

"Rasanya memang dingin sekali, karena suhu udara juga sampai minus 5 derajat celsius. Tetapi ini moment langka jadi tetap menyenangkan," tuturnya.

Kepala UPT Pengelolaan Obyek Wisata Banjarnegara Aryadi Darwanto mengatakan, wisatawan sudah mulai berdatangan sejak pagi buta. Wisatawan tersebut sengaja memburu embun es, lantaran obeyk wisata lainnya belum buka.

"Para wisatawan ini sudah mulai berdatangan sejak pagi. Mereka ke lapangan Saung yang berada di sekitar komplek Candi Arjuna. Di sana tidak ada obyek wisata lain, kecuali hamparan embun es," terangnya.

Untuk komplek Candi Arjuna mulai buka untuk wisatawan pukul 07.00 WIB. Kebetulan, saat ini embun es di komplek Candi Arjuna justru lebih tipis jika dibanding lapangan Saung.

"Biasanya di komplek Candi Arjuna tebal, tetapi hari ini justru lebih tipis. Jadi wisatawan menuju lapangan Saung," kata dia. 

Citilink Terbang ke Kamboja Langsung Jadi Primadona

Citilink mulai melayani penerbangan langsung antara Jakarta dan Phnom Penh, Kamboja. Rute itu langsung jadi primadona.

Ada sejumlah puluhan ribu penumpang yang akan ke Indonesia tapi harus transit di beberapa lokasi. Nah keberadaan maskapai LCC ini jadi pilihan utamanya.

"Faktor niche market berperan penting dalam menentukan destinasi yang akan dibuka. Dibandingkan dengan membuka rute ke negara tetangga di ASEAN lainnya yang sudah banyak kompetitornya. Di sini Citilink disambut dengan baik bagai primadona, semua Kementerian di Kamboja datang," kata VP Corporate Strategy Citilink Indonesia Heriyanto di Kamboja, Jumat (21/6/2019).

Citilink mengaku optimis dengan pembukaan rute penerbangan langsung Jakarta-Phnom Penh ini. Menurut staf Citilink yang lain, dulu ada penerbangan Garuda Indonesia ke Phnom Penh, namun itu sudah berlalu puluhan tahun yang lalu, yakni berkisar 50 tahun lamanya.

"Kita mesti optimis tiap kali buka. Data kita di tahun 2017 itu ada 75.000 orang yang nggak langsung. Kata Dubes Sudirman Haseng itu tumbuh 30 persen orang Indonesia pada waktu itu," Jelas Heriyanto.

"Nah kita berharap. Target tahun ini, paling nggak 3 kali seminggu bisa stabil. Maksudnya marketnya bisa bener-bener stabil lah. 75-76 persen keterisian kursi," tegas dia menambahkan.

Jadi primadona bukan tanpa risiko. Citilink mengaku ada pertaruhan yang lumayan besar di rute barunya, namun ia punya ruang gerak yang lebih lebar.

"Memang pertaruhan yang lumayan tinggi juga. Tapi paling nggak di sini kita jadi primadona. Karena jadi niche market kita punya ruang gerak yang lumayan lebar di sini," jelas Heriyanto.
Dijelaskan dia, Airline di Kamboja tak seperti di Indonesia, yakni masih kecil. Bahkan, flag carrier atau maskapai utama di sana hanya memiliki 4 pesawat ATR.

"Internasionalnya hanya ke Thailand dan Vietnam," kata Heriyanto.

Selain Saloka, Menpar Kunjungi Kota Lama dan Lawang Sewu

Menteri Pariwisata Arief Yahya melakukan kunjungan kerja (kunker) ke sejumlah destinasi wisata di Jawa Tengah. Sejumlah tempat wisata disambanginya. Mulai dari Cafe Spiegel, Kota Lama, Lawang Sewu, hingga meresmikan Saloka Theme Park.

Menurut Deputi Bidang Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Pariwisata, Dadang Rizki Ratman, mengatakan Jawa Tengah mempunyai banyak potensi. Banyak destinasi unggulan yang bisa diangkat.

"Menpar akan mengangkat potensi pariwisata Jawa Tengah. Khususnya Semarang. Karenanya, ada beberapa destinasi yang dikunjungi. Dan destinasi yang dipilih adalah yang sangat khas," tutur Dadang dalam keterangannya, Sabtu (22/6/2019).

Tempat pertama yang akan disinggahi adalah Cafe Spiegel/Cafe Covare, di kawasan Kota Lama Semarang. Di tempat ini, Arief melakukan diskusi santai.

Dari Spiegel, dia kemudian melakukan site visit ke Kota Lama menggunakan golf car. Site visit dilakukan untuk terus mengangkat Kota Lama. Karena, kawasan ini sedang didorong menjadi Unesco Heritage Site.

"Site visit ini menjadi bentuk dukungan dari Kementerian Pariwisata untuk Kota Lama. Khususnya untuk mendorong Kota Lama agar menjadi Unesco Heritage Site," tutur Asisten Deputi Pengembangan Destinasi Regional II Kemenpar Reza Pahlevi.

Usai berkeliling di Kota Lama, Arief akan berkunjung ke destinasi lainnya, Lawang Sewu. Kemudian, dilanjutkan makan siang di Iwak Manyung Ibu Fat. Destinasi terakhir yang dikunjungi adalah Saloka Theme Park. Sekaligus meresmikan destinasi baru di Jawa Tengah itu.

"Saloka adalah destinasi baru buat keluarga. Grand openingnya baru dilakukan Sabtu (22/6/2019). Dan rencananya, peresmian akan dilakukan langsung Menteri Pariwisata. Saloka akan menjadi daya tarik baru di Jawa Tengah. Karena sangat ramah buat keluarga," tutur Reza Pahlevi.

Grand opening Saloka Theme Park sendiri dijamin akan meriah. Sebab, akan menghadirkan penyanyi papan atas Indonesia Via Vallen. Selain itu, ada juga band The Rain yang akan tampil.

Buat Arief, Jawa Tengah sangat kaya akan destinasi. Hal ini menjadikan Jateng salah satu destinasi terbaik untuk dikunjungi.

"Jawa Tengah memiliki destinasi yang sangat lengkap. Dan lokasinya tersebar ke banyak kota. Itulah yang membuat Jawa Tengah kaya. Ada kawasan Candi di Jogja dan Magelang, ada Keratonndi Solo dan Jogja, ada Kota Lama dan Lawang Sewu di Semarang. Dan kekayaan destinasi itu akan dilengkapi dengan Saloka Theme Park di Kabupaten Semarang. Wisatawan akan memiliki banyak pilihan saat berkunjung ke Jawa Tengah," katanya.

Ada Fenomena Embun Es di Dieng, Wisatawan Datang Sejak Pagi

Fenomena embun es di dataran tinggi Dieng terus membuat wisatawan penasaran untuk melihat langsung. Hari ini, Sabtu (22/6/2019) wisatawan mulai berdatangan sejak pukul 05.30 WIB.

Bramantyo, salah satu wisatawan sengaja menyempatkan diri ke Dieng lantaran penasaran dengan fenomena embun es. Beruntung, niat berlibur ke Dieng kali ini terbayar dengan munculnya embun es. Mengingat kemunculan embun es tidak setiap hari dan sulit diprediksi.

"Saya dari Jogja, dan memang sengaja ingin melihat langsung embun es. Sebelumnya pernah, tetapi sampai Dieng ternyata embun es tidak muncul," ujarnya.

Meski suhu terasa dingin, namun ia mengaku puas bisa melihat embun yang membeku. Termasuk air yang menggenang di plastik yang ikut membeku.

"Rasanya memang dingin sekali, karena suhu udara juga sampai minus 5 derajat celsius. Tetapi ini moment langka jadi tetap menyenangkan," tuturnya.

Kepala UPT Pengelolaan Obyek Wisata Banjarnegara Aryadi Darwanto mengatakan, wisatawan sudah mulai berdatangan sejak pagi buta. Wisatawan tersebut sengaja memburu embun es, lantaran obeyk wisata lainnya belum buka.

"Para wisatawan ini sudah mulai berdatangan sejak pagi. Mereka ke lapangan Saung yang berada di sekitar komplek Candi Arjuna. Di sana tidak ada obyek wisata lain, kecuali hamparan embun es," terangnya.

Untuk komplek Candi Arjuna mulai buka untuk wisatawan pukul 07.00 WIB. Kebetulan, saat ini embun es di komplek Candi Arjuna justru lebih tipis jika dibanding lapangan Saung.

"Biasanya di komplek Candi Arjuna tebal, tetapi hari ini justru lebih tipis. Jadi wisatawan menuju lapangan Saung," kata dia.