Senin, 20 Januari 2020

Dari 17 Ribu Orang, Hanya 10 % Penumpang Pesawat Tujuannya Wisata

Harga tiket pesawat yang melambung dianggap mempersulit orang bepergian dengan berbagai kepentingan. Kalau yang terbang untuk wisata, angkanya sedikit.

Seperti yang diutarakan oleh Alvin Lie, anggota Ombudsman RI sekaligus pakar penerbangan mengatakan bahwa umumnya orang yang naik pesawat sebagian besar bertujuan untuk dinas dan bisnis.

"Saya mengutip data survei pengguna jasa tahun 2018. Dengan responden 17 ribu orang, tujuan perjalanan terbesar itu dinas, 42 persen. Bisnis 12 persen, itu saja sudah 54 persen. Kemudian kepentingan pribadi dan keluarga 32 persen, berwisata hanya 10 persen," ujarnya saat ditemui dalam Kongkow Bisnis Pas FM di Hotel Millenium, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Rabu (19/6/2019).

Menurut Alvin, perjalanan bisnis dan dinas pun menjadi pandangan utama maskapai. Sedangkan pariwisata hanya musiman atau di saat tertentu. Hal ini cenderung masuk akal, apabila mengacu pada musim libur seperti lebaran, Natal, liburan sekolah atau akhir dan awal tahun.

"Bagi industri transportasi udara wisata ini seasonal, di saat-saat tertentu saja. Dan itu, dari jumlah 17 responden 15 persennya hanya melakukan 1 kali penerbangan dalam setahun. Maksimal 10 kali 63 persen, kalau saya ambil median rata-rata terbang 5 kali setahun, jumlah penumpang diangkut lebih kurang 100 juta. Yang memanfaatkan transportasi udara 25 juta orang dari populasi 250 juta. Hanya 8 persen. Kebanyakan untuk bisnis," imbuh dia.

Alvin juga mengatakan bahwa penerbangan di daerah-daerah yang belum terjangkau juga harus diperhatikan. Dalam hal ini, daerah pelosok yang membutuhkan pesawat kecil.

"Ini masalahnya jauh lebih luas daripada sekadar tourism atau wisata. Kemarin yang diturunkan Menhub hanya Tarif Batas Atas. Notabenenya melayani kota besar, yang baling-baling nggak disentuh. Padahal yang baling-baling yang dibutuhkan di kota-kota kecil. Kurang ada keadilan kenapa yang diurusin yang itu saja. Di sisi lain ada daerah yang menggantungkan transportasi," paparnya.

Sejarah Tercipta, Ini Kapten Wanita Pertama Kapal Pesiar Besar

Hanya sedikit wanita yang berprofesi sebagai pelaut. Namun, wanita satu ini akan menciptakan sejarah dengan menjadi nakhoda kapal pesiar besar.

Ia bernama Wendy Williams dari Kanada. Seperti dilansir CNN, Rabu (19/6/2019), perjalanannya akan membuat sejarah karena sebagai kapten wanita pertama dari sebuah kapal pesiar besar.

Wendy akan mengemudikan kapal terbaru dari Virgin Voyages, yakni Scarlet Lady yang akan berlayar pada musim semi mendatang. Menurut data pelayaran, kurang dari 3 persen pelaut dunia adalah wanita.

"Saya pikir kami membuat langkah luar biasa sekarang. Ketika kamu berjalan ke jembatan ini kamu tidak memiliki jenis kelamin. Kamu seorang Mariner. Kamu seorang perwira, inilah yang kamu lakukan. Inilah yang kita lakukan bersama," kata Williams.

Virgin Voyages mengumumkan pada tahun lalu bahwa mereka berencana untuk menjembatani kesenjangan gender dalam peran memimpin. Bersama Williams, hampir selusin perwira dan insinyur wanita telah direkrut untuk bergabung, termasuk Jill Anderson sebagai direktur hotel, Christin Wenge sebagai petugas keselamatan dan Lindsay Kerber sebagai petugas lingkungan.

Wendy lahir di Sept-Iles, Quebec dan tinggal di Pulau Vancouver, British Columbia. Lebih dari 28 bekerja di kapal dan memulai karirnya di kapal ikan komersial.

Selama bertahun-tahun, Wendy naik pangkat dari kelasi menjadi kapten kapal feri hingga menjembataninya bekerja kapal pesiar.

"Latar belakang Kapten Wendy yang luas menjadikannya pilihan untuk memimpin Scarlet Lady. Semangat dan dorongan untuk kehidupan di laut yang berbeda membuatnya cocok untuk bergabung dengan keluarga Virgin Voyages," kata Tom McAlpin, presiden dan chief executive officer Virgin Voyages.

Pendaki Pria & Wanita Dipisah, Rinjani Jadi Gunung Syariah?

Gunung Rinjani rencananya akan menerapkan aturan baru, syariah. Pendaki adam dan hawa akan dipisah. Bagaimana ceritanya?

Dituturkan Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani BTNGR Sudiyono dalam sambungan telepon dengan detkcom, Rabu (19/6/2019), ada dugaan penyimpangan yang dilakukan wisatawan. Awal mulanya saat mereka mendaki ke bukit di sekitar Sembalun, seperti Bukit Pergasingan.

"Konsep kita bahwa kita nggak tahu pendaki ini yang berpasang-pasangan itu sudah resmi atau belum. Kemudian yang kedua adanya dugaan wisatawan ke destinasi di sekitar Rinjani itu kurang baguslah," imbuh dia.

Jika ditilik dari sisi pariwisata, pemisahan pendaki ini memang tak jauh dari pemahaman wisata halal. Itu digaungkan Pemerintah NTB dalam memasarkan potensi wisatanya agar berbeda dengan Bali.

Dilihat dari sisi yang lain, Sudiyono mengaku adanya penyimpangan wisatawan laki-laki dan perempuan yang mendaki bukit-bukit di sekitar Sembalun. Namun jika mendaki ke Gunung Rinjani akan lebih kecil potensi terjadi penyimpangan.

"Iya ada penyimpangan. Tapi saya kira pendakian ke Gunung Rinjani akan berbeda. Karena mendaki Gunung Rinjani ini cukup memakan energi," jelas Sudiyono.

"Berbeda dengan ke bukit di sekitar Sembalun. Sehingga ke Gunung Rinjani dan berbuat macam-macam ya kecil. Secara logika begitu," tambah dia.

Wacana memisahkan pendaki laki-laki dan perempuan di Gunung Rinjani digagas oleh BTNGR sendiri. Nantinya, pemisahan tersebut hanya sebatas saat akan tidur

"Tetapi kita menghormati usulan-usulan yang masuk itu ke depan. Kita akan membedakan tenda di tempat camp itu antara laki-laki dan perempuan," tegas dia.

Dari 17 Ribu Orang, Hanya 10 % Penumpang Pesawat Tujuannya Wisata

Harga tiket pesawat yang melambung dianggap mempersulit orang bepergian dengan berbagai kepentingan. Kalau yang terbang untuk wisata, angkanya sedikit.

Seperti yang diutarakan oleh Alvin Lie, anggota Ombudsman RI sekaligus pakar penerbangan mengatakan bahwa umumnya orang yang naik pesawat sebagian besar bertujuan untuk dinas dan bisnis.

"Saya mengutip data survei pengguna jasa tahun 2018. Dengan responden 17 ribu orang, tujuan perjalanan terbesar itu dinas, 42 persen. Bisnis 12 persen, itu saja sudah 54 persen. Kemudian kepentingan pribadi dan keluarga 32 persen, berwisata hanya 10 persen," ujarnya saat ditemui dalam Kongkow Bisnis Pas FM di Hotel Millenium, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Rabu (19/6/2019).

Menurut Alvin, perjalanan bisnis dan dinas pun menjadi pandangan utama maskapai. Sedangkan pariwisata hanya musiman atau di saat tertentu. Hal ini cenderung masuk akal, apabila mengacu pada musim libur seperti lebaran, Natal, liburan sekolah atau akhir dan awal tahun.

"Bagi industri transportasi udara wisata ini seasonal, di saat-saat tertentu saja. Dan itu, dari jumlah 17 responden 15 persennya hanya melakukan 1 kali penerbangan dalam setahun. Maksimal 10 kali 63 persen, kalau saya ambil median rata-rata terbang 5 kali setahun, jumlah penumpang diangkut lebih kurang 100 juta. Yang memanfaatkan transportasi udara 25 juta orang dari populasi 250 juta. Hanya 8 persen. Kebanyakan untuk bisnis," imbuh dia.

Alvin juga mengatakan bahwa penerbangan di daerah-daerah yang belum terjangkau juga harus diperhatikan. Dalam hal ini, daerah pelosok yang membutuhkan pesawat kecil.

"Ini masalahnya jauh lebih luas daripada sekadar tourism atau wisata. Kemarin yang diturunkan Menhub hanya Tarif Batas Atas. Notabenenya melayani kota besar, yang baling-baling nggak disentuh. Padahal yang baling-baling yang dibutuhkan di kota-kota kecil. Kurang ada keadilan kenapa yang diurusin yang itu saja. Di sisi lain ada daerah yang menggantungkan transportasi," paparnya.