Selasa, 21 Januari 2020

Turis Mau Foto, Ada Monyet Lewat Kasih Jari Tengah

Kelakuan monyet di Monkey Forest Ubud memang ada-ada saja. Yang terbaru, seekor monyet mengerjai foto keluarga turis dengan jari tengah.

Dikumpulkan detikcom dari berbagai sumber, Kamis (13/6/2019) kejadian tak biasa itu dialami oleh satu keluarga asal Australia saat liburan di Ubud seperti diberitakan media Daily Mail.

Adalah Judy (37), Simon (36) dan ketiga anaknya, Elijah (13), jimmy (11) dan Kayleigh (8) yang mendapat pengalaman tak biasa tersebut. Awalnya adalah ketika mereka hendak foto keluarga dengan dibantu guide mereka.

"Ketika kami di sana, seorang guide menawarkan untuk memotret kami. Ketika ia memotret kami, tiba-tiba ada seekor monyet lewat di depan kamera," ujar Judy.

Kebetulan, sang guide memang membawa kacang dan menarik perhatian para monyet yang tengah melintas. Lucunya, ada salah satu monyet yang lewat sambil mengacungkan jarinya.

"Ketika saya melihat foto, saya menyadari kalau salah satu di antara monyet itu mengacungkan jarinya. Saya menunjukkannya pada suami saya, dan kami sama-sama tertawa," ujar Judy.

Dijelaskan oleh Judy, foto itu didapatnya saat tengah liburan ke Bali bersama keluarganya di bulan Desember 2018 lalu. Hanya saja baru ia bagikan secara online minggu ini.

"Saya mengunggah fotonya ke Facebook dan Instagram, dan semua keluarga dan teman saya menganggapnya lucu," ujar Judy.

Pengalaman itu pun disebut Judy sangat berkesan. Ia pun mengatakan kalau ia ingin kembali lagi ke Bali suatu hari nanti. Ada-ada saja ya.

Roma Sudah Muak dengan Turis

Kota Roma di Italia sudah begitu jengah dengan kehadiran turis. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya aturan yang harus ditaati oleh turis.

Traveler yang liburan ke Roma harus lebih mawas diri. Alasannya, ada banyak regulasi yang diterapkan oleh Pemerintah Roma untuk membatasi kelakuan turis yang dianggap kurang tahu adab.

Salah satunya adalah larangan untuk memakai kostum ala prajurit Roma di tempat wisata. Dikumpulkan detikcom dari berbagai sumber, Kamis (13/6/2019), larangan itu diberlakukan agar orang-orang dalam balutan kostum prajurit Roma itu tidak seenaknya menagih uang dari turis seperti diberitakan media New York Times.

Apabila traveling ke Roma, pemandangan orang memakai kostum prajurit adalah hal biasa di Trevi Fountain dan Colosseum. Masalahnya, malah jadi seperti scam atau penipuan.

Kebijakan itu pun dipertegas dengan kehadiran polisi yang siap menilang siapa pun yang memakai kostum prajurit Roma. Kalau tertangkap, bisa didenda 400 Euro atau sekitar 6,4 juta rupiah.

"Mereka datang dengan kebijakan anti Centurion (kostum prajurit Roma)," ujar pemakai kostum Centurion, Daniele Di Porto (44) pada media Wall Street Journal.

Aturan itu pun juga berlaku untuk para turis, baik yang memakai kostum prajurit Roma maupun yang berfoto dengan mereka. Tak sedikit turis yang diminta untuk menghapus fotonya.

"Kami hanya memakai kostum ini untuk bersenang-senang. saya dapat mengerti aturan itu dan sedikit lebih lega karena mengetahuinya," ujar turis Spanyol Remi Sanz seperti diberitakan media Guardian.

Selain larangan mengenakan kostum prajurit Roma, turis yang kedapatan makan di objek wisata juga bakal kena denda. Soalnya, makanan yang dibwa turis dianggap bisa mengotori objek wisata bersejarah di sana.

"Ini melanggar aturan? Saya tidak tahu, saya kira ini tidak apa-apa," ujar Giuseppe, turis asal Italia yang kedapatan makan pizza di dekat Trevi Fountain.

Selain dua aturan di atas, traveler juga tidak diperkenankan menarik koper beroda saat melewati tangga jalan bersejarah, mabuk hingga menyanyi di transportasi publik.

"Aturan yang lama telah diperbaharui dengan kebutuhan di era modern ini," ujar polisi Marco Cardilli seperti diberitakan media Guardian. 

Kota di Inggris yang Akan Hilang Karena Pemanasan Global

Sebuah kota pesisir di Inggris sedang jadi perbincangan hangat. Kota ini akan terancam hilang karena pemanasan global.

Pemanasan global menjadi masalah genting yang sedang dihadapi oleh bumi. Mencairnya es di Antartika membuat kenaikan pada permukaan air laut, Seperti yang diintik detikcom dari CNN, Jumat (14/6/2019).

Hal ini kini dirasakan oleh sebuah kota peisisir Inggris yang bernama Fairbourne di Welsh. Kota yang berpenduduk 1.000 orang ini harus rela meninggalkan rumah mereka karena kenaikan muka air laut.

Kenaikan muka air laut adalah naiknya air laut ke daratan atau bisa dibilang banjir. Masalah ini sudah mulai menggerogoti Kota Fairbourne sejak tahun 1990an.

Mengapa tidak membangun sea wall atau tembok? Ada beberapa hal yang perlu dipahami. Pembangunan sea wall atau dinding pembatas di pinggir pantai akan mempengaruhi perilaku laut dan membuatnya berubah. Biayanya pun sangat mahal.

Dewan lokal, Gwynedd Council, telah menghabiskan lebih dari USD 11 juta atau sekitar Rp 156.941.950.000 untuk skema manajemen resiko banjir.

Kalau diperkirakan Fairbourne membutuhkan tembok setinggi 6 meter untuk perlindungan di tahun 2054. Biayanya tak tanggung-tanggung, USD 220 juta atau sekitar Rp 3 T!

Huw Williams, seorang insinyur sipil di Gwynedd Council bahkan mengatakan bahwa tembok tersebut mungkin tidak akan menolong. Karena jika ada yang melanggar atau melewati tembok ini maka konsekuensinya akan sangat mengerikan.

"Ketika permukaan laut naik, ada lebih banyak energi, gelombang lebih besar, badai yang lebih sering. Akan semakin banyak air yang menutupi tanggul,"ujar Williams.

Lalu apa alasannya untuk menghilangkan kota ini? Sangat sederhana. Pihak pemerintah ingin menghilangkan jejak manusia, bangunan dan infrastruktur supaya tidak mencemari laut saat kota ini tenggelam.

"Kami harus menghapus jejak yang ada yang tinggal di sana. Supaya air laut yang masuk ke sana tidak tercemar oleh apa pun yang dibuat oleh manusia," ujar Lisa Goodier, seorang manajer proyek senior di tim manajemen risiko banjir dan erosi pantai di Dewan Kota.

Namun tak semuanya sependapat. Warga lokal protes karena penonaktifan kota ini. Menurut mereka, cara ini sangatlah ekstrem.

Selain itu, masyarakat juga mengaku bahwa isu ini berdampak buruk bagi harga rumah dan pariwisata Fairbourne. Bagaimana menurutmu traveler?

Turis Mau Foto, Ada Monyet Lewat Kasih Jari Tengah

Kelakuan monyet di Monkey Forest Ubud memang ada-ada saja. Yang terbaru, seekor monyet mengerjai foto keluarga turis dengan jari tengah.

Dikumpulkan detikcom dari berbagai sumber, Kamis (13/6/2019) kejadian tak biasa itu dialami oleh satu keluarga asal Australia saat liburan di Ubud seperti diberitakan media Daily Mail.

Adalah Judy (37), Simon (36) dan ketiga anaknya, Elijah (13), jimmy (11) dan Kayleigh (8) yang mendapat pengalaman tak biasa tersebut. Awalnya adalah ketika mereka hendak foto keluarga dengan dibantu guide mereka.

"Ketika kami di sana, seorang guide menawarkan untuk memotret kami. Ketika ia memotret kami, tiba-tiba ada seekor monyet lewat di depan kamera," ujar Judy.

Kebetulan, sang guide memang membawa kacang dan menarik perhatian para monyet yang tengah melintas. Lucunya, ada salah satu monyet yang lewat sambil mengacungkan jarinya.

"Ketika saya melihat foto, saya menyadari kalau salah satu di antara monyet itu mengacungkan jarinya. Saya menunjukkannya pada suami saya, dan kami sama-sama tertawa," ujar Judy.

Dijelaskan oleh Judy, foto itu didapatnya saat tengah liburan ke Bali bersama keluarganya di bulan Desember 2018 lalu. Hanya saja baru ia bagikan secara online minggu ini.

"Saya mengunggah fotonya ke Facebook dan Instagram, dan semua keluarga dan teman saya menganggapnya lucu," ujar Judy.

Pengalaman itu pun disebut Judy sangat berkesan. Ia pun mengatakan kalau ia ingin kembali lagi ke Bali suatu hari nanti. Ada-ada saja ya.