Kamis, 06 Februari 2020

Merasakan Keramahan Suku Osing Langsung di Banyuwangi

Bila berlibur ke Banyuwangi, sempatkanlah untuk mampir ke Desa Kemiren. Ada Suku Osing yang masih sangat kental adat budayanya di sana.

Banyuwangi, kabupaten paling timur di Pulau Jawa ini memiliki warga desa yang ramah dan pasti membuat kita betah berlama-lama di sana. Adem, tenteram suasananya hingga pemandangan hamparan rumput hijau berhias bunga akan semakin memanjakan mata.

Hal itu detikcom rasa saat bertandang ke rumah Mbok Ning (72). Dengan senang hati ia menyambut kehadiran kami dan langsung mempersilakan masuk ke rumah untuk melihat isi dapur dan bagian belakang rumah, bernama Tingkle.

Sambil berbincang, ia menyempatkan diri mengunyah sirih selayaknya orang tua di masa lalu. Ia melayani kami dengan perbincangan ringan akan adat istiadat dan kebiasaan warga Suku Osing.

Asal mula kata Desa Kemiren, wilayah Suku Osing berada menurut sesepuh desa, dahulu saat pertama kali ditemukan berupa hutan. Nah di situ terdapat dominasi pohon kemiri dan duren (durian) sehingga mulai saat itu dinamakan 'Desa Kemiren', kemiri-duren.

Menurut sejarah, masyarakat desa adat Kemiren berasal dari orang-orang yang mengasingkan diri dari Kerajaan Majapahit karena mulai runtuh sekitar tahun 1478 M. Selain menuju ke ujung timur Pulau Jawa, orang-orang Majapahit juga mengungsi ke Gunung Bromo (Suku Tengger) dan Pulau Bali.

Kelompok masyarakat yang mengasingkan diri ini kemudian mendirikan Kerajaan Blambangan di Banyuwangi yang bercorak Hindu-Buddha seperti halnya kerajaan Majapahit. Berkuasa selama 200 tahun, akhirnya jatuh ke tangan Kerajaan Mataram Islam pada tahun 1743 M.

Desa Kemiren ini lahir pada zaman penjajahan Belanda, tahun 1830-an. Awalnya, desa ini hanyalah hamparan sawah hijau dan hutan milik para penduduk Desa Cungking yang konon menjadi cikal bakal Suku Osing.

Desa wisata Kemiren secara administratif masuk di Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur dan secara historis geneologis-sosiologis masih memperlihatkan tata kehidupan sosio-kultural yang mempunyai kekuatan nilai tradisional Osing. Efeknya pada saat kepemimpinan Gubernur Jawa Timur Basofi Sudirman, Desa Kemiren ditetapkan menjadi kawasan wisata Desa Adat Osing dan menjadi tempat wisata di Banyuwangi.

Dalam lingkup lebih luas, Osing merupakan salah satu bagian sub-etnis Jawa. Dalam peta wilayah kebudayaan Jawa, Osing merupakan bagian wilayah Sabrang Wetan yang berkembang di daerah ujung timur Pulau Jawa.

Keberadaan komunitas Osing berkaitan erat dengan sejarah Blambangan (Scholte, 1927). Menurut Leckerkerker (1923:1031), orang-orang Osing adalah masyarakat sisa keturunan kerajaan Hindu Blambangan yang berbeda dari masyarakat lainnya (Jawa, Madura dan Bali), bila dilihat dari adat-istiadat, budaya maupun bahasanya (Stoppelaar, 1927). 

Lounge Bandara Narita Jepang yang Manjakan Traveler

Menunggu penerbangan bisa menjadi hal menyenangkan. Bandara Internasional Narita di Tokyo, Jepang punya Sakura Lounge yang menyediakan pijat gratis.

detikcom diajak Japan Airlines (JAL) dan Japan National Tourism Organization (JNTO) berkunjung ke Jepang beberapa waktu lalu. Dalam kunjungan ini detikcom mampir ke Sakura Lounge di Narita International Airport, Tokyo, Jepang.

Sakura Lounge berada persis di depan pemeriksaan imigrasi bandara. Lokasinya sangat mudah ditemukan.

Penumpang JAL dengan kelas premium ekonomi dan bisnis bisa mengakses lounge ini secara gratis. Begitu masuk, traveler akan disambut meja resepsionis dan diminta menunjukkan boarding pass.

Setelah pengecekan traveler akan langsung menemukan restoran. Hal yang paling di cari di restoran adalah menu kari.

"Banyak penumpang yang minta upgrade lounge hanya untuk menikmati kari di Sakura Lounge," ujar M Agil Saputra, Passanger Sales Executive Japan Airlines.

Memang, dilihat dari antrean menu makanan ini yang paling mengular. Kari ini tidak terlalu kental dan memiliki rasa manis. Potongan kentang dan daging membuat rasa kari makin menggoyang lidah.

Sakura Lounge terdiri dari 2 lantai. Setelah makan, traveler bisa turun ke lantai 1 dan bersantai sejenak.

Taman Cantik Bak Lukisan di Jepang

Tak hanya Tokyo, cobalah main ke Nara saat liburan di Jepang. Kota kecil ini punya taman cantik, dengan rusa-rusa yang berkeliaran bebas di sana.

Di tengah hiruk-pikuknya liburan di Jepang, tampaknya akan sangat menyenangkan jika diisi dengan kegiatan yang santai di lokasi yang sejuk dan tenang. Nara Park bisa menjadi pilihan bagi traveler yang sedang berlibur di Jepang dan ingin mendapatkan ketenangan, kesejukan, tapi tetap bisa memanjakan mata dan beraktivitas menyenangkan.

Nara Park terletak di Prefektur Nara, Jepang. Lokasinya berada di kaki Gunung Wasakusa atau disebut juga Wakakusayama sehingga membuat udara dan suasananya sangat sejuk dan tenang. Maka tak heran jika banyak keluarga termasuk orang tua dan anak-anak yang kerasan berlama-lama di sini karena udaranya yang segar.

Bagi traveler yang datang bersama orang tua dengan bantuan tongkat maupun kursi roda, atau membawa bayi dengan stroller, jangan khawatir, jalanan di taman ini sangat mendukung untuk hal tersebut.

Selain jalan-jalan santai dan menikmati pemandangan bukit-bukit maupun bunga-bunga yang indah, aktivitas paling banyak dilakukan di taman ini adalah memberi makan rusa. Ada ribuan rusa yang dibiarkan hidup secara bebas.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, rusa-rusa di taman sangat dijaga dan dihormati karena dianggap sebagai hewan yang sakral. Hal ini berkaitan dengan kepercayaan masyarakat setempat yang mengkaitkan peran rusa-rusa di taman tersebut dengan salah satu dewa yang mereka yakini. Namun sekarang rusa-rusa ini dianggap sebagai hewan yang memang patut dijaga karena telah ditetapkan sebagai harta nasional dan dilindungi.

Para pengunjung bisa memberi makan rusa dengan panganan yang telah disediakan pengelola. Taman ini sangat luas dan terdapat beberapa kuil atau shrine di berbagai sudutnya. Ada kolam-kolam dengan air yang bersih dan tenang.

Aneka bunga-bunga dengan beragam warna pun menambah keindahan Nara Park yang sangat luas. Maka disarankan bagi traveler untuk menggunakan alas kaki yang nyaman untuk berjalan jauh jika ingin puas menikmati setiap sudut di Nara Park ini. Di pinggir jalanan Nara Park terdapat deretan toko-toko kecil yang menjual beraneka ragam barang seperti suvenir dan juga makanan lokal.

Merasakan Keramahan Suku Osing Langsung di Banyuwangi

Bila berlibur ke Banyuwangi, sempatkanlah untuk mampir ke Desa Kemiren. Ada Suku Osing yang masih sangat kental adat budayanya di sana.

Banyuwangi, kabupaten paling timur di Pulau Jawa ini memiliki warga desa yang ramah dan pasti membuat kita betah berlama-lama di sana. Adem, tenteram suasananya hingga pemandangan hamparan rumput hijau berhias bunga akan semakin memanjakan mata.

Hal itu detikcom rasa saat bertandang ke rumah Mbok Ning (72). Dengan senang hati ia menyambut kehadiran kami dan langsung mempersilakan masuk ke rumah untuk melihat isi dapur dan bagian belakang rumah, bernama Tingkle.

Sambil berbincang, ia menyempatkan diri mengunyah sirih selayaknya orang tua di masa lalu. Ia melayani kami dengan perbincangan ringan akan adat istiadat dan kebiasaan warga Suku Osing.

Asal mula kata Desa Kemiren, wilayah Suku Osing berada menurut sesepuh desa, dahulu saat pertama kali ditemukan berupa hutan. Nah di situ terdapat dominasi pohon kemiri dan duren (durian) sehingga mulai saat itu dinamakan 'Desa Kemiren', kemiri-duren.

Menurut sejarah, masyarakat desa adat Kemiren berasal dari orang-orang yang mengasingkan diri dari Kerajaan Majapahit karena mulai runtuh sekitar tahun 1478 M. Selain menuju ke ujung timur Pulau Jawa, orang-orang Majapahit juga mengungsi ke Gunung Bromo (Suku Tengger) dan Pulau Bali.

Kelompok masyarakat yang mengasingkan diri ini kemudian mendirikan Kerajaan Blambangan di Banyuwangi yang bercorak Hindu-Buddha seperti halnya kerajaan Majapahit. Berkuasa selama 200 tahun, akhirnya jatuh ke tangan Kerajaan Mataram Islam pada tahun 1743 M.