Kamis, 30 April 2020

Menkes Terawan Apresiasi Bantuan CT Corp ke RSCM untuk Tangani Corona

Menteri Kesehatan RI, Terawan Agus Putranto, mengapresiasi bantuan CT Corp terkait alat kesehatan yang disumbangkan ke Rumah Sakit dr Cipto Mangunkusumo (RSCM). Dalam sambutannya, ia menyampaikan bantuan tersebut meningkatkan semangat para tenaga medis dalam menghadapi pandemi Corona.
"Semoga dengan adanya hibah alat kesehatan ICU utk pasien Corona di RSCM ini akan meningkatkan semangat tenaga kesehatan dalan memberikan pelayanan bagi pasien Coron. Sekali lagi kami ucapkan terina kasih kepada pak Chairul Tanjung melalui CT Corp yang telah memberikab bantuan," ungkapnya saat menghadiri acara penyerahan bantuan di RSCM Kiara, Kamis (30/4/2020).

Bantuan yang diberikan CT Corp yaitu berupa 20 intensive care unit (ICU) bed, 75 high care unit (HCU) bed, 128 unit multislice computed tomography (MSCT) scan, 1 digital mobile X-Ray, 20 ventilator, 95 monitor bed, 105 infusion dan sring pump, EKG dan defibrilator, central monitor, oxygen mobile.

Ia juga menjelaskan saat ini 213 negara tengah menghadapi kesulitan yang sama. Maka dari itu ia mengimbau untuk sama-sama bergotong royong menghadapi pandemi Corona.

"Peran serta masyarakat dalam membantu gotong royong peningkatan kapasitas pelayanan rumah sakit sangat diharapkan sebagai salah satu bentuk kepedulian sesama," pungkasnya.

Kisah Haru Dokter Naik-turun Gunung Pakai APD Lengkap untuk Obati Anak Sakit

Dokter saat ini menjadi garda terdepan dalam menangani penyakit terutama wabah Corona yang menginfeksi jutaan orang di seluruh dunia. Terkadang dalam melayani pasien, mereka bahkan tidak mementingkan diri sendiri demi menyelamatkan dan merawat banyak orang.
Seperti yang dilakukan oleh seorang dokter di Thailand bernama Dokter Soi yang bekerja di sebuah klinik kesehatan pedesaan di Provinsi Nan, Thailand. Ia menjadi viral karena keberanian dan perjuangannya mendaki dua gunung dan menyeberangi sungai untuk mengobati seorang anak.

Dikutip dari World of Buzz, dr Soi berkata bahwa dia akan mengunjungi seorang anak yang mengeluh sakit. Sebagai persiapan, selain membawa obat-obatan, ia juga mengenakan APD lengkap sebagai tindakan pencegahan dan pengamanan terutama di masa pandemi COVID-19. Ia juga mengenakan sepatu bot karena tahu akan menyeberangi sungai.

Setelahnya, dr Soi kemudian berangkat ke desa dengan sepeda motor bersama seorang asisten. Saat sampai di daerah pedesaan, hanya ada jalan tanah yang curam dan sempit sehingga mereka harus berjalan kaki sembari menuntun sepeda motornya. Saat itu suhu juga mencapai 38 derajat celcius.

Tepat sebelum tiba di tujuan, ada jalan yang sangat curam dan dr Soi sudah sangat lelah namun ia tetap bersemangat. Karena khawatir, asistennya menanyakan kondisinya yang dijawab dengan "tidak apa-apa, aku baik-baik saja,".

Kondisinya yang letih membuat dr Soi beberapa kali tergelincir dan jatuh. Ia memegang akar atau pohon untuk membantunya berjalan. Ketika akhirnya ia sampai di puncak, dr Soi melihat sebuah gubuk kecil di kejauhan.

Semakin dekat, dia dapat melihat bahwa gubuk kayu kecil itu berada di tengah-tengah sebuah peternakan dan ada sekitar enam orang di sana, dua wanita tua dengan empat anak. Mereka sangat senang melihat dokter dan asistennya. Karena kewalahan, dr Soi merasakan air matanya mengalir deras tetapi dia menutupinya dengan bertanya kepada anak-anak apakah tinggal di pertanian itu menyenangkan. Semua orang mengatakan itu menyenangkan.

dr Soi langsung memeriksa anak yang sedang sakit karena mereka ingin kembali ke klinik sebelum petang tiba. Anak itu mengalami sedikit demam dan sakit tenggorokan jadi dr Soi memberinya obat dan meminta ibunya untuk memantau kondisi anaknya.

Saat kembali dari desa, dr Soi benar-benar kelelahan tetapi tidurnya terganggu karena terus memikirkan kondisi anak yang dirawatnya. Setelah tiga hari, orang yang mengirim makanan ke keluarga yang tinggal di gubuk kecil di desa itu mengatakan kepada dr Soi bahwa anak itu telah pulih.

Merasa lega, dr Soi mengatakan bahwa berinteraksi dengan penduduk desa kala itu membuatnya melupakan segala lelah dan kesulitan yang ia hadapi saat bekerja. Satu-satunya hal yang ia inginkan adalah agar masyarakat menerima perawatan kesehatan dengan baik.

Bukan dari China, Wabah Corona di New York Diklaim Berasal dari Eropa

Dua proyek penelitian terpisah menunjukkan bahwa virus Corona baru telah beredar di New York lebih awal dari yang diperkirakan dan kasus-kasus pertama kemungkinan berasal dari para pelancong yang datang dari Eropa dan bagian lain Amerika Serikat, bukan Asia.
"Mayoritas (genom virus) jelas berasal dari Eropa," sebut Harm van Bakel, ahli genetika di Fakultas Kedokteran Icahn di Mount Sinai dalam penelitian yang saat ini tengah ditinjau kepada The New York Times.

Penelitian terpisah yang dilakukan oleh Grossman School of Medicine Universitas New York yang menganalisis genom virus pada pasien juga mendapati kesimpulan yang sama.

Adriana Heguy, anggota tim peneliti dari Universitas New York mengatakan bahwa temuan ini bisa menjadi informasi kepada pemerintah Amerika Serikat agar tidak membatasi pengujian Corona hanya pada orang yang pernah bepergian ke China saja.

Ia juga menyebut beberapa strain virus di New York memiliki mutasi yang unik dan tidak ditemukan di tempat lain. "Saat itulah Anda tahu ada transmisi lokal yang terjadi dan tidak terdeteksi," sebut Heguy.

Para peneliti di Mount Sinai juga mulai mempelajari genom virus dari pasien di New York. Mereka menemukan jenis genom virus Corona pada pasien baru berbeda dengan pasien yang sembuh dan tidak saling terkait.

Ana Silvia Gonzalez-Reiche dan timnya mengatakan virus yang dimaksud hampir identik dengan yang ditemukan di seluruh Eropa meski mereka tidak dapat menentukan penerbangan dari daerah mana yang membawa virus ke New York,

"Pperiode penularan global yang tidak terlacak antara akhir Januari hingga pertengahan Februari," sebut Gonzalez-Reiche.

pakar penyakit menular Amerika Serikat Dr Anthony Fauci, mengatakan bisa saja virus Corona di New York beredar lebih awal yang diperkirakan dengan sebagian kasus berasal dari Eropa.

"Eropa menjadi pusat episentrum cukup cepat setelah China dan ledakan kasusnya benar-benar sangat masif. Kami menghentikan perjalanan dari Tiongkok relatif lebih awal dan jumlah kasus dari China relatif lebih sedikit tetapi dengan sangat cepat episentrum berpindah ke Eropa terutama Italia," pungkas Fauci.

Menkes Terawan Apresiasi Bantuan CT Corp ke RSCM untuk Tangani Corona

Menteri Kesehatan RI, Terawan Agus Putranto, mengapresiasi bantuan CT Corp terkait alat kesehatan yang disumbangkan ke Rumah Sakit dr Cipto Mangunkusumo (RSCM). Dalam sambutannya, ia menyampaikan bantuan tersebut meningkatkan semangat para tenaga medis dalam menghadapi pandemi Corona.
"Semoga dengan adanya hibah alat kesehatan ICU utk pasien Corona di RSCM ini akan meningkatkan semangat tenaga kesehatan dalan memberikan pelayanan bagi pasien Coron. Sekali lagi kami ucapkan terina kasih kepada pak Chairul Tanjung melalui CT Corp yang telah memberikab bantuan," ungkapnya saat menghadiri acara penyerahan bantuan di RSCM Kiara, Kamis (30/4/2020).

Bantuan yang diberikan CT Corp yaitu berupa 20 intensive care unit (ICU) bed, 75 high care unit (HCU) bed, 128 unit multislice computed tomography (MSCT) scan, 1 digital mobile X-Ray, 20 ventilator, 95 monitor bed, 105 infusion dan sring pump, EKG dan defibrilator, central monitor, oxygen mobile.

Ia juga menjelaskan saat ini 213 negara tengah menghadapi kesulitan yang sama. Maka dari itu ia mengimbau untuk sama-sama bergotong royong menghadapi pandemi Corona.

"Peran serta masyarakat dalam membantu gotong royong peningkatan kapasitas pelayanan rumah sakit sangat diharapkan sebagai salah satu bentuk kepedulian sesama," pungkasnya.