Senin, 04 Mei 2020

Beberapa Negara Masih Dihantui Tinggi Angka Infeksi Corona

Ketika sejumlah negara mulai melonggarkan kebijakan lockdown dan menikmati matahari musim semi, beberapa negara terpadat dunia masih dibayangi peningkatan jumlah pasien positif Covid-19 akibat infeksi virus corona (SARS-CoV-2).

India dan Rusia masih harus berurusan dengan peningkatan jumlah infeksi. Tercatat, negara itu memiliki 2.600 kasus positif Covid-19 baru. Sementara Rusia, jumlah kasus mencapai 10 ribu untuk pertama kalinya.

Sementara di Inggris, angka kematian naik melebihi Italia yang menjadi pusat wabah Covid-19 di Eropa. Padahal rerata umur populasi di Inggris lebih muda dari Italia dan pemerintah Inggris punya lebih banyak waktu melakukan persiapan sebelum pandemi menyerang.


Amerika Serikat juga terus mencatat penambahan infeksi virus corona setiap hari. Tercatat ada 1.400 kematian pada Sabtu (2/5).

Ahli kesehatan mengingatkan wabah gelombang dua bisa kembali menghantam. Kecuali pemerintah melakukan pengetesan massal secara luas begitu lockdown dilonggarkan.

Tekanan untuk membuka karantina terus mengalir setelah lockdown diterapkan selama berminggu-minggu. Karantina ini membuat banyak bisnis kolaps dan membuat ekonomi dunia merosot tajam sejak era krisis 1930 dan menyebabkan jutaan pengangguran.

Sementara itu di China, infeksi virus corona baru di negara itu dilaporkan hanya dua kasus. Namun, negara itu menghadapi gelombang pengunjung di tempat-tempat wisata yang baru di buka.

Pemerintah China telah melonggarkan pelarangan perjalanan setelah ditetapkan libur lima hari pada Selasa pekan lalu. Hampir 1,7 juta orang mengunjungi taman-taman di Beijing pada dua hari pertama libur.

Sementara pusat wisata Shanghai pun kebanjiran 1 juta pengunjung, seperti dilaporkan media setempat. Namun, banyak tempat wisata ini membatasi pengujung hanya 30 persen dari total kapasitas mereka.

Di Spanyol, banyak warga yang keluar rumah dan berkeliling untuk pertama kali sejak negara itu menerapkan lockdown pada 14 Maret. Meski demikian, aturan social distancing masih diberlakukan. Pemakaian masker juga diwajibkan saat menggunakan transporatasi umum pada Senin (4/5).

Sementara Inggris, Perdana Menteri Boris Johnson tengah berada di bawah tekanan untuk mencari jalan keluar bagaimana negara itu akan mengangkat lockdown. Pembatasan berlangsung hingga Kamis (7/5). Namun, negara itu masih menghadapi angka kematian harian yang cukup tinggi. Dua kali lebih besar dari Italia dan Spanyol.

Di AS, negara bagian New Jersey telah kembali membuka taman. Namun, warga diminta untuk tidak memasuki taman setelah parkiran taman itu terisi 50 persen.

Selidiki Sumber Corona, Trump Disebut Utus Mata-mata ke China

Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut telah mengirimkan mata-mata ke China. Mata-mata ini ditugaskan untuk mencari tahu asal mula virus corona SARS-CoV-2 yang menjadi penyebab pandemi Covid-19.

Hal ini diungkap dari berbagai pemberitaan media di AS seperti dikutip AFP. Trump memang menjadikan penanganan yang buruk China atas penanganan wabah corona sebagai pusat kampanye pemilihan presiden AS yang akan dilakukan November mendatang.

Trump terus melakukan kritik atas manajemen penanganan wabah Covid-19 yang pertama muncul di kota Wuhan, China. Pekan lalu, Trump mengklaim memiliki bukti kalau virus itu berasal dari laboratorium virologi di Wuhan alih-alih bermula dari pasar hewan seperti yang selama ini diberitakan.

Sebelumnya, para ilmuwan percaya kemungkinan kalau virus ini pindah dari hewan ke manusia dari pasar hewan eksotis di Wuhan. Pasar hewan ini dikenal menjual berbagai hewan unik mulai dari kelelawar hingga trenggiling untuk dikonsumsi.

Belakangan, para peneliti pun mengutarakan kemungkinan kelelawar hingga trenggiling menjadi hewan perantara penyebaran virus itu ke manusia.

Trump pada Kamis (4/5) pekan lalu menyebut telah melihat bukti keterlibatan Institut Virologi Wuhan. Namun, ia tak memberikan rincian lebih lanjut soal pernyataannya itu. Pernyataan Trump ini menimbulkan spekulasi soal keberadaan laboratorium rahasia.

Inggris Sebut Akan Longgarkan Lockdown Bertahap

Pemerintah Inggris menyebut kemungkinan pelonggaran lockdown bertahap. Pasalnya, jumlah kematian Covid-19 akibat infeksi virus corona di negara itu masih tinggi.

Perdana Menteri Boris Johnson menyebut akan mengungkap rencana pemerintah itu dalam beberapa hari mendatang ketika negara itu sudah melewati puncak penularan Covid-19.

Berdasarkan catatan terbaru, 28.446 orang positif Covid-19 telah meninggal. Angka ini naik 315 kasus pada Sabtu (2/5) dan membuat Inggris menjadi negara yang paling parah terkena dampak corona di Eropa setelah Italia. Jumlah kasus positif Inggris naik sejumlah 4.339 kasus dengan total 186.599.

Johnson sendiri sempat dirawat tiga malam di ruang perawatan intensif setelah terdeteksi positif Covid-19. Dalam sebuah wawancara surat kabar, ia menyebut pemerintah telah menyiapkan rencana jika ia meninggal.

"Itu adalah momen yang sulit, saya tidak akan menyangkalnya," katanya kepada The Sun, Minggu (4/5). "Mereka memiliki strategi untuk menghadapi skenario tipe 'kematian Stalin'," tambahnya.

Menteri senior Michael Gove mengatakan kemungkinan akan ada penerapan beberapa batasan ketika pembatasan dikurangi hingga vaksin ditemukan. Ia pun menyebut kalau suasana normal yang sebelumnya dirasakan bakal tidak akan kembali secepat itu.

Laporan surat kabar Weekend menyebut, kemungkinan sekolah dasar akan dibuka kembali pada awal Juni. Sementara di lokasi transportasi umum, akan dilakukan pemeriksaan suhu penumpang.

Bagi mereka yang bepergian ke Inggris, pemerintah pun tengah memperhitungkan soal periode karantina terlebih dulu, seperti diungkap Menteri Transportasi Grant Shapps.

Pemerintah Inggris juga telah menyiapkan pelacakan kontak menggunakan aplikasi smartphone. Aplikasi ini bisa digunakan untuk mengecek siapa sempat kontak dengan siapa. Sehingga, pemerintah bisa memetakan potensi penularan dan mencegah wabah gelombang kedua.

Inggris mulai memerintahkan semua toko dan layanan yang tidak penting ditutup pada 23 Maret. Pemerintah juga meminta warga untuk tinggal di rumah kecuali untuk keperluan berbelanja bahan makanan, obat-obatan, dan berolahraga sekali sehari.

Bank of England telah memperingatkan kalau langkah ini dapat menyebabkan resesi ekonomi terburuk dalam beberapa abad. Tetapi sebuah jajak pendapat Opinium untuk surat kabar mingguan Observer menunjukkan dukungan publik untuk melanjutkan pembatasan.

Beberapa Negara Masih Dihantui Tinggi Angka Infeksi Corona

Ketika sejumlah negara mulai melonggarkan kebijakan lockdown dan menikmati matahari musim semi, beberapa negara terpadat dunia masih dibayangi peningkatan jumlah pasien positif Covid-19 akibat infeksi virus corona (SARS-CoV-2).

India dan Rusia masih harus berurusan dengan peningkatan jumlah infeksi. Tercatat, negara itu memiliki 2.600 kasus positif Covid-19 baru. Sementara Rusia, jumlah kasus mencapai 10 ribu untuk pertama kalinya.

Sementara di Inggris, angka kematian naik melebihi Italia yang menjadi pusat wabah Covid-19 di Eropa. Padahal rerata umur populasi di Inggris lebih muda dari Italia dan pemerintah Inggris punya lebih banyak waktu melakukan persiapan sebelum pandemi menyerang.


Amerika Serikat juga terus mencatat penambahan infeksi virus corona setiap hari. Tercatat ada 1.400 kematian pada Sabtu (2/5).

Ahli kesehatan mengingatkan wabah gelombang dua bisa kembali menghantam. Kecuali pemerintah melakukan pengetesan massal secara luas begitu lockdown dilonggarkan.

Tekanan untuk membuka karantina terus mengalir setelah lockdown diterapkan selama berminggu-minggu. Karantina ini membuat banyak bisnis kolaps dan membuat ekonomi dunia merosot tajam sejak era krisis 1930 dan menyebabkan jutaan pengangguran.

Sementara itu di China, infeksi virus corona baru di negara itu dilaporkan hanya dua kasus. Namun, negara itu menghadapi gelombang pengunjung di tempat-tempat wisata yang baru di buka.

Pemerintah China telah melonggarkan pelarangan perjalanan setelah ditetapkan libur lima hari pada Selasa pekan lalu. Hampir 1,7 juta orang mengunjungi taman-taman di Beijing pada dua hari pertama libur.