Senin, 04 Mei 2020

Pemakaian Disinfektan Corona Tingkatkan Keracunan Anak di AS

Pandemi virus corona (Covid-19) membuat penggunaan disinfektan meningkat signifikan. Namun, di saat yang sama keracunan yang tidak disengaja karena disinfektan juga meningkat pada anak-anak.

Temuan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) menunjukkan lebih dari 300 anak dirawat setiap hari karena keracunan. Rata-rata dua dari anak-anak tersebut meninggal dunia.

Diperkirakan tingkat keracunan yang meningkat pada anak ini terkait dengan produk pembersih atau disinfektan yang digunakan orang tua untuk mencegah infeksi virus.


"Kami mengalami peningkatan lebih dari 100 persen dalam panggilan terkait dengan produk desinfektan dari 31 Maret hingga minggu ini," kata direktur medis dari National Capital Poison Center, Kelly Johnson-Arbor, dikutip dari CNN.

Sebuah studi yang dirilis CDC pekan lalu (24/4), menunjukkan laporan terkait keracunan disinfektan dan produk pembersih pada Januari hingga Maret naik 20,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Anak-anak merupakan orang yang berisiko paling tinggi keracunan disinfektan karena rentan terhadap bahan kimia.

Kelompok yang paling rentan adalah anak-anak berusia lima tahun ke bawah. Dari Januari hingga Maret, sebanyak 35,7 persen balita keracunan terkait dengan produk pembersih dan 46,9 persen terkait paparan disinfektan.

Sedangkan sebanyak 8,9 persen remaja usia 6-19 keracunan terkait paparan produk pembersih dan 13,6 persen terkait paparan disinfektan.

"Disinfektan umumnya memiliki komposisi yang mirip. Mereka umumnya terdiri dari pemutih, senyawa amonium, alkohol, zat abrasif, semua hal itu berpotensi beracun," kata Johnson-Arbor.

Dalam studi CDC, penyebab keracunan tertinggi adalah karena seseorang menelan zat berbahaya, lalu diikuti karena menghirup produk.

Oleh karena itu, setiap orang tua disarankan untuk menjauhkan produk pembersih dan disinfektan dari jangkauan anak-anak.

Saat menggunakan produk pembersih dan disinfektan pastikan anak-anak tidak berada di sekitar. Pastikan pula memiliki ventilasi yang baik agar zat kimia tidak terperangkap. Anak-anak yang menghirup bau disinfektan dapat mengalami iritasi pernapasan.

Jika anak-anak menunjukkan gejala keracunan seperti gatal-gatal, iritasi, sakit perut, mual, dan muntah, segera bawa anak ke dokter untuk mendapatkan pertolongan. 

Iran Akan Buka Kembali Masjid Usai Kasus Corona Menurun

Presiden Iran Hassan Rouhani berencana membuka kembali sejumlah masjid di seluruh negeri setelah tren penularan virus corona (covid-19) di sana berangsur menurun.

Rouhani menuturkan sebanyak 123 kabupaten di Iran akan membuka masjid-masjid mulai pekan ini. 

Rouhani tidak menjabarkan ratusan kabupaten itu namun menegaskan masjid-masjid akan dibuka di daerah yang memiliki risiko rendah penularan corona.

Dengan begitu, Rouhani tampaknya belum akan membuka masjid-masjid di ibu kota Teheran dan kota Masyhad. Kedua kota itu yang paling terdampak penularan corona.

"Menjaga jarak sosial lebih penting daripada ibadah berjamaah," kata Rouhani dalam sebuah rapat pada Minggu (3/5) seperti dilansir AFP.
Insert Artikel - Waspada Virus CoronaFoto: CNN Indonesia/Fajrian
Insert Artikel - Waspada Virus Corona

Kebijakan ini diambil setelah sejumlah pejabat Iran mengklaim ada penurunan tren penurunan kasus corona dalam beberapa waktu terakhir.

Rouhani mengatakan kunjungan suspect corona ke rumah sakit "jauh lebih rendah" dibandingkan dalam beberapa minggu terakhir. Ia menganggap tren penurunan penularan ini terjadi lantaran masyarakat patuh pada protokol kesehatan pemerintah.

Rouhani mengatakan pemerintahannya akan mencoba membuka kembali aktivitas bisnis dan perekonomian secara bertahap.

Sabtu, 02 Mei 2020

Kisah Relawan Perawat Jalani Puasa Sambil Rawat Pasien Corona

Perjuangan para petugas medis di garda terdepan dalam melawan virus Corona COVID-19 ini kembali diuji. Tak hanya harus berjuang merawat pasien, mereka juga harus berusaha menjalankan ibadah puasa di kondisi sulit.
Yuni, salah satu perawat di Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Persahabatan pun merasakan bagaimana berjuang merawat pasien virus Corona memakai alat pelindung diri (APD) lengkap sambil menjalankan ibadah puasa.

"Ya biasa saja sih, dinikmati saja. Pasti lemas lah, biasanya kita kalau habis selesai ini tuh kita minum banyak," jelas Yuni saat dihubungi detikcom, Sabtu (2/5/2020).

"Tapi, karena puasa ini ya mau nggak mau ya selesai mandi, paling tiduran atau istirahat saja," lanjutnya

Disinggung soal waktu istirahat, Yuni mengungkapkan ia dan teman-temannya boleh berada di dalam ruang ICU tempatnya bekerja selama maksimal tiga jam. Setelah itu, akan berganti shift dengan teman lainnya.

Dalam satu shift, terdapat lima orang perawat yang merawat pasien COVID-19. Jika dijumlahkan, dalam sehari 24 jam penuh ada 13-15 perawat yang siaga setiap harinya.

Ilmuwan Korsel Sebut Pasien Virus Corona Tidak Bisa Kambuh Lagi

Para ilmuwan di Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Korea Selatan, mengungkapkan bahwa seseorang yang telah sembuh dari virus Corona COVID-19 tidak bisa kambuh lagi atau virus kembali aktif. Menurut mereka, laporan sebelumnya yang menyebut ada kasus pasien yang sembuh kembali terindikasi positif karena adanya kesalahan saat pengujian.
Ada laporan sebanyak 277 pasien Corona yang sembuh di Korea Selatan (Korsel) kembali positif. Hal ini memunculkan kekhawatiran mengatakan virus tersebut bisa bermutasi dengan cepat, sehingga sistem imunitas tidak bisa mencegahnya.

Tetapi, hal itu belum bisa dibuktikan. Ini karena belum ada penelitian yang menemukan adanya perubahan substansial hingga bisa menyamarkan virus tersebut dari sistem kekebalan tubuh.

CDC Korea Selatan mengungkapkan bahwa hasil tes pasien yang diduga kambuh itu adalah hasil positif palsu. Hal ini terjadi karena tes yang digunakan tidak bisa membedakan antara jejak virus masih hidup dan yang sudah mati di dalam tubuh.

Dikutip dari Sky, CDC juga menambahkan bahwa virus Corona tidak seperti HIV dan cacar air. Virus Corona tidak bisa menembus inti sel manusia, bertahan di dalam sana selama bertahun-tahun hingga akhirnya aktif atau kambuh lagi.

"Ini berarti virus Corona tidak menyebabkan infeksi kronis atau kambuh," kata Ketua komite CDC Korsel Dr Oh Myoung-don.

Bagaimana Pendarahan Lambung Bisa Sebabkan Kematian? Ini Penjelasan Dokter

Mantan bassist Dewa 19, Erwin Prasetya, dikabarkan meninggal dunia pada hari Sabtu (2/5/2020) karena pendarahan lambung. Pengamat musik Bens Leo mengatakan Erwin sempat dirawat di rumah sakit sebelum akhirnya meninggal dunia.
"Iya (meninggal), subuh tadi. Dia pendarah di lambung dan sempat turun kesadaran," ujar Bens.

Bagaimana pendarahan di lambung bisa berakhir fatal?

Ahli penyakit dalam dr Indra Wijaya, SpPD-KEMD, MKes, FINASIM, dari RS Premier Bintaro menjelaskan bisa saja pendarahan ini awalnya kecil. Namun, karena tidak disadari kondisi semakin parah hingga akhirnya luka membesar menyebabkan syok.

"Bisa ga ketahuan jika lukanya kecil tapi terjadi pendarahan terus yang tidak disadari. Pada akhirnya lemas dan sudah dalam kondisi drop yang harus segera ditangani," kata dr Indra saat dihubungi detikcom, Sabtu (2/5/2020).

Ahli pencernaan Profesor Dr dr Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) menjelaskan kejadian pendarahan lambung sebagai kondisi darurat. Ia menyebut data di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) menunjukkan sekitar 10 persen pasien yang mengalami pendarahan lambung meninggal dunia.

"Oleh karena itu penyakit ini penyakit emergensi. Harus ada penanganan segera, transfusi dan dicari penyebabnya apa. Bisa dilakukan endoskopi kalau emang perlu tindakan, bahkan kalau perlu operasi gitu," kata Prof Ari dihubungi terpisah.

Menurut para ahli kondisi pendarahan lambung ini bisa disebabkan karena tukak lambung, varises, tumor, hingga efek obat-obatan.