Selasa, 05 Mei 2020

China Yakin Indonesia Akan Menangkan Perang Melawan Corona Secepat Mungkin

Sama seperti banyak negara lainnya di dunia, Indonesia kini tengah menghadapi tantangan pandemi virus Corona. Namun pemerintah China yakin bahwa Indonesia akan memenangkan pandemi ini dengan secepat mungkin.
"Di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo yang kuat, pemerintah Indonesia telah menerapkan kebijakan secara komprehensif dan menanggapi wabah secara ampuh," kata Duta Besar China untuk Indonesia, Xiao Qian dalam media briefing tentang pencegahan dan pengendalian COVID-19, Selasa (5/5/2020).

"Masyarakat Indonesia telah menunjukkan tekad dan keyakinan yang kuat untuk mengatasi epidemi Kami dengan tulus ikhlas mengapresiasi upayanya, dan sangat percaya bahwa Indonesia pasti dapat sesegera mungkin mengatasi epidemi dan memulihkan tatanan ekonomi dan sosial yang normal," imbuh Dubes RRC tersebut.

Dalam pernyataannya, Dubes Xiao Qian mengatakan, bahwa, Kementerian Luar Negeri Indonesia sudah beberapa kali mengadakan konferensi pers dengan misi diplomatik asing untuk menginformasikan situasi epidemi dan langkah-langkah penanganan wabah pemerintah Indonesia dengan akurat dan tepat waktu.

"Pemerintah Indonesia telah menunjukkan citra yang terbuka, transparan dan bertanggung jawab dengan melakukan kerja sama internasional secara aktif, memberikan perlindungan setara terhadap warga negara asing di Indonesia, serta menyediakan fasilitas bagi para diplomat dan anggota keluarganya untuk mengunjungi dokter," ujar Xiao.

Kata WNI melihat Cara Peru Berjuang Lawan Corona

 Peru termasuk salah satu negara sedang berjuang melawan wabah Corona. Salah seorang warga negara Indonesia (WNI) di sana membagikan cerita soal bagaimana cara Peru Melawan Corona.
Salah satu respons yang dilakukan pemerintah Peru atas wabah Corona ialah dengan menerbitkan status darurat nasional. Lewat status ini, sejumlah bandara dan perbatasan ditutup.

"Pada tanggal 15 Maret 2020 Pemerintah Peru mengumumkan status darurat nasional dan mulai pukul 00.00 16 Maret 2020 Peru langsung menutup seluruh perbatasannya termasuk bandara, pelabuhan, dan perbatasan darat, kecuali untuk kargo, pasokan pangan, dan kemanusiaan," kata Rangga Yudha Nagara, salah seorang WNI yang tinggal di Lima, Peru dalam keterangan tertulisnya, Selasa (5/5/2020).

Selain itu, Rangga mengatakan bahwa pemerintah Peru memberlakukan aturan jam malam. Yakni dari pukul 8 malam hingga 5 pagi (lantas diperketat menjadi pukul 6 sore - 5 pagi). Barangsiapa yang melanggar akan ditangkap dan didenda.

"Peru juga tidak main-main dalam menindak masyarakat yang bandel melanggar aturan jam malam, social distancing, atau kewajiban memakai masker dan memberlakukan karantina nasional," ujar Rangga.

Sampai akhir April 2020 sudah 60.000 orang ditangkap dan diamankan ke kantor polisi dengan kemungkinan didenda hingga 430 soles (sekitar 120 USD)," sambungnya.

Kendati demikian, pemerintah Peru juga melakukan pembagian 10 juta masker yang dapat dicuci-ulang juga sudah mulai dibagikan ke masyarakat.

Lebih lanjut, dia menjelaskan bahwa pemerintah Peru juga membagikan bantuan tunai kepada sekitar 380 soles atau sekitar 120 USD sebanyak dua kali kepada 3 juta rakyat miskin Peru.

Sebelumnya, seperti dilansir Reuters, Senin (20/4/2020) Peru mencatatkan kasus positif pertamanya pada 6 Maret 2020 dan membutuhkan waktu 25 hari untuk mencapai angka 1.000 kasus. Hanya butuh 14 hari untuk mencapai 10.000 pada 14 April. Peru termasuk negara di Amerika Latin yang paling parah terdampak wabah ini.

Merujuk pada data Worldometers per Selasa (5/5) total kasus Corona di Peru mencapai 47.372 kasus. Sedangkan 1.344 orang dilaporkan wafat dan 14.427 sembuh.

Senin, 04 Mei 2020

Selidiki Sumber Corona, Trump Disebut Utus Mata-mata ke China

Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut telah mengirimkan mata-mata ke China. Mata-mata ini ditugaskan untuk mencari tahu asal mula virus corona SARS-CoV-2 yang menjadi penyebab pandemi Covid-19.

Hal ini diungkap dari berbagai pemberitaan media di AS seperti dikutip AFP. Trump memang menjadikan penanganan yang buruk China atas penanganan wabah corona sebagai pusat kampanye pemilihan presiden AS yang akan dilakukan November mendatang.

Trump terus melakukan kritik atas manajemen penanganan wabah Covid-19 yang pertama muncul di kota Wuhan, China. Pekan lalu, Trump mengklaim memiliki bukti kalau virus itu berasal dari laboratorium virologi di Wuhan alih-alih bermula dari pasar hewan seperti yang selama ini diberitakan.

Sebelumnya, para ilmuwan percaya kemungkinan kalau virus ini pindah dari hewan ke manusia dari pasar hewan eksotis di Wuhan. Pasar hewan ini dikenal menjual berbagai hewan unik mulai dari kelelawar hingga trenggiling untuk dikonsumsi.

Belakangan, para peneliti pun mengutarakan kemungkinan kelelawar hingga trenggiling menjadi hewan perantara penyebaran virus itu ke manusia.

Trump pada Kamis (4/5) pekan lalu menyebut telah melihat bukti keterlibatan Institut Virologi Wuhan. Namun, ia tak memberikan rincian lebih lanjut soal pernyataannya itu. Pernyataan Trump ini menimbulkan spekulasi soal keberadaan laboratorium rahasia.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo juga mengutarakan hal serupa. Ia menyebut kalau ada bukti signifikan dalam jumlah besar bahwa virus itu berasal dari laboratorium di Wuhan.

"Saya kira seluruh dunia sekarang bisa melihat, ingat, China memiliki sejarah menginfeksi dunia dan menjalankan laboratorium di bawah standar."

Menanggapi tuduhan ini, Institut Virologi Wuhan menampik. Mereka menyebut hal itu sebagai sebuah kemustahilan.

 Sebelumnya, Pompeo menyebut usaha China untuk berusaha meredam pemberitaan tentang wabah virus corona adalah sebuah usaha klasik Komunis untuk melakukan disinformasi, "yang menciptakan risiko besar."

"Presiden Trump sangat jelas: kami akan menahan mereka yang bertanggung jawab akan hal ini," tutur Pompeo.

Pompeo pun sepakat dengan komunitas intelejen AS yang menyebut kalau virus ini bukan buatan manusia hasil modifikasi genetis.

Namun, ia menekankan bahwa ada bukti signifikan dan sangat besar kalau virus itu berasal dari laboratorium Wuhan.

Sebelumnya, seorang ilmuwan AS, Kristian Andersen menulis dalam jurnal Nature Medicine kalau virus corona SARS-CoV-2 bukan virus hasil mutasi buatan manusia untuk senjata biologis.

Menurutnya, virus ini adalah hasil evolusi alami setelah diteliti lewat analisis perbandingan data sekuens genom publik dari Covid-19.

Komentar Pompeo dilontarkan setelah surat kabar Australia, The Saturday Telegraph, melaporkan kalau China sengaja menyembunyikan atau menghancurkan bukti tentang wabah itu. Langkah ini disebut surat kabar itu sebagai pelecehan atas transparansi internasional yang kemudian menelan korban jiwa hingga puluhan ribu jiwa.

Saat ini Amerika Serikat menjadi negara terdampak Covid-19 terbesar di dunia. Terdapat lebih dari 66 ribu kasus kematian akibat infeksi virus corona SARS-CoV-2 di negara itu.

Kebijakan karantina yang dilakukan untuk mencegah penyebaran Covid-19 pun berimbas pada meningkatnya puluhan juta pengangguran di AS.

Meski demikian, AS telah menunjukkan gejala penurunan penularan. Sehingga, sejumlah negara bagian pun mulai melonggarkan kebijakan karantina.