Rabu, 06 Mei 2020

Kapan Wabah Corona di Indonesia Berakhir? Ini 6 Prediksi yang Pernah Dibuat

Pandemi virus Corona di Indonesia jumlahnya terus meningkat setiap hari. Banyak orang yang mulai menanyakan kapan virus ini akan berakhir, karena mulai bosan berada di rumah dan ingin beraktivitas normal.
Beberapa pakar memprediksi akhir dari wabah Corona di Indonesia. Di antaranya memprediksi virus Corona akan usai antara Mei dan Juni. Bahkan Presiden RI Joko Widodo pun meyakini wabah Corona baru akan usai di akhir tahun.

Berikut beberapa prediksi berakhirnya wabah Corona di Indonesia, yang dirangkum detikcom pada Rabu (6/4/2020).

29 Mei 2020
Pakar statistika asal Universitas Gadjah Mada memprediksi wabah Corona di Indonesia selesai pada 29 Mei 2020. Mereka menggunakan model probabilistik berdasarkan data nyata atau probabilistik data driven model (PDDM).

"Dari hasil analisis pandemi COVID-19 akan berakhir pada 29 Mei 2020 dengan minimum total penderita positif sekitar 6.174 kasus. Dengan intervensi pemerintah yang berhasil dengan baik, total penderita Corona positif minimal di sekitar 6.200 di akhir pandemi pada akhir Mei 2020," ujar Prof Dr rer nat Dedi Rosadi, SSi, MSc.

April - Mei 2020
Direktur Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Prof Amin Soebandrio, sempat menyebut wabah Corona diperkirakan usai pada pertengahan April hingga Mei.

"Banyak yang membuat prediksi perjalanan wabah di Indonesia. Terus terang prediksi labnya agak sulit sekarang karena penyebabnya multifaktorial. Saya pribadi memprediksi puncaknya akan terjadi dalam waktu dua-tiga minggu ke depan, setelah itu diharapkan jumlah kasusnya akan menurun. pertengahan puasa, mungkin pertengahan April ke Mei akan mencapai puncak," ucapnya beberapa waktu lalu.

Mei - Juni 2020
Prof dr Ascobat Gani, MPH, DrPH, Guru besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) mengatakan akhir wabah Corona di Indonesia bergantung pada tingkat kepatuhan dan perilaku masyarakat. Ia memprediksi antara Mei dan Juni apabila didukung oleh perilaku masyarakat yang baik.

"Bergeser tergantung perilaku masyarakat, yang dulu sudah bikin kan akhir April. Iya mungkin Mei, Juni, ya apalagi kalau mudik nanti bergeser lagi, ya kalau terus bergeser begitu beban kita, beban pelayanan kesehatan nggak sanggup, tenaga kesehatan juga sudah banyak yang jadi korban, ya kan," ungkapnya.

Juni 2020
Hasil riset dari lingkaran survei Indonesia (LSI) Denny JA menyebutkan wabah virus Corona berakhir di Indonesia pada Juni 2020. Riset ini berdasarkan data sekunder dari beberapa sumber, di antaranya Singapore University of Technology and Design, dan Worldometers.

"Bulan Juli-September 2020 adalah rentang waktu dimana virus Corona tak lagi menjadi masalah bagi dunia," ungkap Denny JA, seperti dikutip CNN Indonesia.

23 September 2020
Singapore University of Technology and Design (STUD), mengungkap data prediksi akhir dari wabah Corona di Indonesia akan mundur. Semula mereka memprediksi virus Corona di Indonesia akan berakhir pada 6 Juni. Namun kini berdasarkan hasil data terbaru SUTD menyebutkan akhir wabah Corona di Indonesia akan terjadi pada 23 September 2020.

Bahkan dalam data SUTD yang sudah diperbaharui pada Selasa (5/5/2020), Indonesia mengakhiri Corona di 7 Oktober 2020 mendatang.

Dalam memprediksi, SUTD menggunakan model matematika tipe susceptible-infected-recovered (SIR) yang diregresikan dengan data dari berbagai negara, termasuk Indonesia.

Akhir 2020
Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan prediksi bahwa wabah virus Corona (COVID-19) di Indonesia akan selesai akhir tahun ini. Karena itu, Jokowi yakin sektor pariwisata akan kembali booming pada 2021.

"Saya meyakini ini hanya sampai akhir tahun. Tahun depan booming di pariwisata," kata Jokowi dalam pengantar rapat terbatas mitigasi dampak COVID-19 terhadap sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, Kamis (16/4/2020).

Selasa, 05 Mei 2020

Kepedulian Didi Kempot Soal Kesehatan, Anti Narkoba hingga Bantu Korban Corona

Penyanyi campursari kenamaan Didi Kempot meninggal dunia di Solo pagi ini. Wali Kota FX Hadi Rudyatmo mengatakan berdasarkan keterangan dokter, Didi Kempot sakit jantung.
"Kalau menurut dokter, ya (Didi Kempot sakit) jantung," ujar Rudy kepada wartawan di RS Kasih Ibu, Jalan Slamet Riyadi, Solo, Selasa (5/5/2020).

1. Jual Tiket Konser untuk Korban 'Dampak' Corona
Sebelumnya, Didi Kempot diketahui sebagai seseorang yang selalu terlibat dalam aksi kepedulian dan kemanusiaan. Contohnya dalam unggahan terakhir di akun Instagramnya, ia hendak menyumbang hasil penjualan tiket konsernya untuk orang yang terdampak Corona.

"Tiket presale Konser #AmbyarTakJogeti sudah bisa dibeli mulai 1 Mei 2020," tulis Didi Kempot dalam caption Instagramnya.

"Sebagian hasil penjualan tiket bakal disumbangkan untuk pembuatan jamu, masker, dan alat pelindung diri lainnya," lanjutnya.

2. Relawan Narkoba
Musisi legendaris yang sering disebut "Bapak Pahah Hati" ini sempat berpesan kepada para penggemarnya agar menjauhi narkoba. Ia mengaku tak pernah menyentuh narkoba selama menghasilkan karya-karyanya.

"Sampai sekarang saya menjaga diri dari narkoba. Saya nulis lagu tanpa narkoba, teman saya hanya kopi saja dan pisang goreng," kata Didi beberapa waktu lalu di Kantor Badan Narkotika Nasional.

"Terutama sobat ambyar, janganlah menyentuh itu (narkoba). Lebih baik berkarya yang betul-betul bersih," pungkasnya.

Didi Kempot jadi salah satu tokoh yang ditunjuk oleh BNN sebagai relawan antinarkoba.

3. Menolong Anak Difabel
Didi Kempot sebelumnya menciptakan lagu untuk seorang anak difabel bernama Arda Tatu dengan judul 'Tulung'. Bila ditilik dari liriknya, 'Tulung' bercerita mengenai permohonan dan doa yang diungkapkan oleh seorang Hamba agar jalan hidup-Nya diterangi dan hatinya ditenangkan.

"Semenjak saya dengar suaranya Arda, seakan-akan terpanggil nurani saya untuk menolong, merekam dia. Bukan apa, tapi karena dia layak untuk memamerkan suaranya kepada orang banyak," kata Didi Kempot bercerita tentang Arda lewat akun Instagram pribadinya.

Gejala Henti Jantung, Kondisi yang Dialami Didi Kempot Saat Meninggal

 Didi Kempot dinyatakan meninggal dunia pada pukul 07:45 pagi ini. Hal ini dikonfirmasi oleh Asisten Manajer Humas Rumah Sakit (RS) Kasih Ibu, Divan Fernandez, di Solo.
"Tiba di IGD pagi ini pukul 07.25, kondisi tidak sadar, henti jantung, henti napas. Dilakukan tindakan resusitasi, namun pasien tidak tertolong. Dinyatakan meninggal oleh dokter pukul 07.45," kata Divan pada detikcom Selasa (5/5/2020).

Henti jantung terjadi ketika ada gangguan pada fungsi jantung. Hal ini bisa disebabkan karena penyakit jantung atau sebab lainnya. Lalu apa gejala dari henti jantung?

Mengutip Mayo Clinic, berikut gejala-gejala dari henti jantung:

- Dada merasa tidak nyaman
- Sesak napas
- Merasa lemah
- Palpitasi (jantung berdegup dengan kencang)

Sementara tanda dan gejala serangan jantung mendadak langsung yang menyebabkan henti jantung adalah:

- Tiba-tiba jatuh
- Tidak ada denyut nadi
- Hilang kesadaran
- Berhenti bernapas

Namun serangan jantung mendadak sering terjadi tanpa peringatan.