Jumat, 08 Mei 2020

Polisi Masih Dalami Motif Pembunuhan Peneliti Corona di AS

Kepolisian Ross Township, Amerika Serikat (AS) masih menyelidiki hubungan dan motif pelaku pembunuhan terhadap Asisten profesor riset di University of Pittsburgh Amerika Serikat, Bing Liu (37). Polisi menemukan jasad pembunuh sekitar 100 meter tidak jauh dari kediaman Bing.

Pria bernama Hao Gu (46) merupakan pelaku pembunuhan yang juga ditemukan tewas di mobilnya di Charlemagne Circle dekat Elm Court, Sabtu (2/5). Polisi menyebut, usai Hao mengeksekusi Bing, ia lantas melakukan aksi bunuh diri di dalam mobil.

"Penembak Hao Gu dari Pittsburgh, kemudian masuk ke mobilnya yang diparkir di kompleks itu dan bunuh diri," kata Detektif Polisi Ross Township, Sersan Brian Kohlhepp dilansir dari AP News.

Sebelumnya, Bing ditemukan tewas di rumahnya di Elm Court dengan sejumlah luka tembak di kepala, leher, dada, dan di sekujur tubuh, Sabtu (2/5) lalu.


Kepolisian setempat menyebut keduanya saling mengenal, namun belum ada bukti kuat terkait motif pembunuhan Bing. Waktu itu, Bing sedang sendiri di kediamannya saat Hao melancarkan aksinya.

"Motif penembakan itu masih diselidiki, tidak ada yang dicuri," imbuhnya.
Bing dikenal di Kampusnya sebagai mentor luar biasa serta seorang peneliti yang produktif dan rekan yang dikagumi di universitas

Selanjutnya, Pihak Universitas berjanji akan menyelesaikan penelitian Bing sebagai upaya untuk memberi penghormatan atas keunggulan ilmiahnya.

Sebelum meninggal, Bing dalam tahap penelitian untuk memahami mekanisme seluler yang mendasari Covid-19.

Terkait hal itu, polisi masih tidak bisa memastikan motif pembunuhan Hao terhadap Bing ada kaitannya dengan penelitian Bing atau tidak, karena tidak ditemukan barang bukti di tempat perkara.

Pabrik Gas di India Bocor, 11 Tewas, 5.000 Orang Dievakuasi

Kebocoran tangki pabrik gas kimia LG Polymers asal Korea Selatan di Visakhapatnam, India menewaskan 11 orang pada Kamis (7/5). Ratusan orang lainnya terluka, namun sudah mendapat perawatan di rumah sakit.

Menteri Industri, Perdagangan, dan Teknologi Informasi Negara Bagian Andhra Pradesh India, Mekapati Goutham Reddy memperkirakan hampir 1.000 orang yang terpapar langsung gas yang bocor, di mana sekitar 20 persen sampai 25 persen kritis lalu dilarikan ke rumah sakit.

Menurut Reddy, orang-orang yang terpapar gas merupakan mereka yang tinggal di sekitar pabrik.


"Sebagian besar orang mati saat tengah mengemudi dan berdiri di teras di luar rumah mereka. Lalu mereka kehilangan kesadaran dan jatuh di tempat, sementara yang lain jatuh pingsan ketika sedang tidur," kata Reddy, seperti dikutip dari CNN, Kamis (7/5).

Pejabat Pasukan Respons Bencana Nasional (National Disaster Response Force/NDRF) Kamal Kishore mengatakan pasukan NDRF langsung terjun ke tempat kejadian lengkap dengan alat pelindung diri (APD). Pasukan perlu waktu sekitar setengah jam untuk masuk dan melakukan evakuasi akibat gas yang terlalu menyengat.

Secara total, otoritas setempat memperkiraan ada 10 ribu orang yang terdampak penyebaran gas dari kebocoran tangki. Ada 5.000 orang yang sudah dievakuasi.

"Secara keseluruhan situasinya terkendali. Sekarang situasinya adalah rehabilitasi dan perawatan," kata Direktur Jenderal NDRF Satya Pradhan.

Kronologi Empat ABK WNI Meninggal di Kapal Milik China

Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi menjelaskan kronologi meninggalnya empat Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi Anak Buah Kapal (ABK) di kapal penangkap ikan berbendera China.

Total ABK yang meninggal di kapal milik perusahaan China itu berjumlah empat orang.

Satu orang disebut meninggal di darat setelah dilakukan evakuasi dari kapal. WNI tersebut meninggal di Busan Medical Center dengan dugaan pneumonia dan satu orang meninggal di laut yang jenazahnya dilarung ke lautan.


Sementara dua orang lainnya meninggal saat melakukan pelayaran ke Samudera Pasifik pada akhir tahun 2019 lalu.

Pelarungan terhadap tiga jenazah yang meninggal terpisah ini, kata Retno, sesuai dengan aturan Organisasi Buruh Internasional (ILO). Pelarungan juga dilakukan atas persetujuan keluarga dan pihak keluarga almarhum bersedia menerima kompensasi dari perusahaan atas meninggalnya ABK WNI tersebut.

"Dua yang meninggal di Pasifik dan jenazahnya sudah dikubur di laut pada Desember 2019," kata Retno saat melakukan konferensi pers melalui video teleconference zoom, Kamis (7/5).

Retno merinci secara keseluruhan ada 46 ABK yang bekerja di empat kapal penangkap ikan milik perusahaan China itu. Kapal-kapal itu yakni Longxin 629 yang memuat 15 orang ABK WNI, Longxin 605 yang memuat delapan orang ABK WNI, Longxin 606 memuat 20 orang ABK WNI, dan sebanyak tiga orang ABK WNI yang berada di Kapal Tian Yu nomor 8.

Dari total empat kapal yang mengangkut 46 orang ABK ini, Retno mengaku pihaknya telah menerima laporan terkait ABK WNI yang meninggal di salah satu kapal itu sejak 14 April 2020 lalu. Kala itu, pihaknya juga menerima laporan dua dari empat kapal ini akan berlabuh di Busan.

"Kapal Longxin 605 dan Tian Yu 8 [akan berlabuh]. Itu informasi yang diterima pada 14-16 April 2020," kata Retno.

Pihak KBRI Seoul kata Retno langsung mencari informasi berkaitan dengan kapal-kapal yang membawa WNI tersebut. Dari penelusuran pihak KBRI ke berbagai pihak di Seoul, baru pada 23 April 2020 diperoleh informasi rinci mengenai hal tersebut.

"Pertama Longxin 605 dan Tian Yu 8 yang membawa 40 ABK WNI sempat berlabuh di Busan dan berlayar ke China," kata Retno.

Namun, ada informasi lain terkait hal ini. Retno mengungkapkan kedua kapal itu ternyata sempat tertahan karena ada 35 ABK WNI yang tidak terdaftar di dua kapal itu yakni 15 WNI yang harusnya terdaftar di kapal Longxin 629 dan 20 ABK yang terdaftar di Longxin 606 justru malah diangkut oleh dua kapal lainnya yakni Longxin 605 dan Tian Yu 8.

"Jadi artinya 35 ABK WNI tersebut tidak terdaftar di kapal Longxin 605 dan Tian Yu 8. Mereka dianggap tidak sebagai ABK oleh pelabuhan otoritas di Busan, namun dihitung sebagai penumpang," kata dia.

Meski begitu, 15 ABK yang semula terdaftar di kapal Longxin 629 ini dapat diturunkan dari kapal atas dasar kemanusiaan. Para ABK itu juga saat ini tengah menjalani karantina di salah satu hotel di Busan selama 14 hari.

"Selain itu 20 ABK WNI yang terdaftar di Kapal Longxin 606, 18 di antaranya telah kembali ke Indonesia pada 3 Mei 2020. Sisanya masih berproses di imigrasi Korea untuk dipulangkan ke Indonesia," katanya.

Lihat juga: Menlu: 14 ABK WNI Kapal China Akan Dipulangkan 8 Mei
Sayangnya, satu dari 15 WNI yang berhasil diturunkan dan menjalani karantina di Busan justru mengeluh sakit. WNI berinisial EP ini mengeluh sesak napas hingga batuk berdarah.

"Atas permintaan KBRI, agen bawa [EP] ke RS, tapi saudara EP meninggal di RS. Dari keterangan Busan Medical Center, beliau meninggal karena pneumonia," kata dia.