Jumat, 08 Mei 2020

Menlu: 14 ABK WNI Kapal China Akan Dipulangkan 8 Mei

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan pemerintah Indonesia akan memulangkan para Anak Buah Kapal (ABK) yang diduga mengalami eksploitasi di kapal pencari ikan China dari Korea Selatan (Korsel).

Ia mengatakan proses pemulangan terhadap para ABK yang berjumlah 14 itu dari Korsel akan dilakukan besok.

"Langkah-langkah yang dilakukan memfasilitasi kepulangan 14 awak kapal, dan kepulangan akan dilakukan pada 8 Mei. Selain itu KBRI terus berkoordinasi untuk memfasilitasi kepulangan almarhum E yang direncanakan pulang 8 Mei 2020," ujar Retno dalam jumpa pers yang digelar secara daring, Kamis (7/5) petang.


Sebelumnya, Badan Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) menyatakan saat ini berkoordinasi dengan pihak Kementerian Luar Negeri RI, terutama KBRI di Seoul, Korea Selatan untuk mengurus kepulangan sebanyak 14 WNI Anak Buah Kapal (ABK) Kapal China yang diduga mengalami eksploitasi.

Saat ini para ABK tersebut berada di Busan, Korea Selatan.

Selain itu, pihaknya juga masih melakukan penelusuran kasus kematian empat WNI ABK, dengan rincian tiga jenazah telah dilarung dan satu WNI yang meninggal di Rumah Sakit Korea Selatan akibat menderita pneumonia.

"BP2MI sedang melakukan koordinasi intensif dengan KBRI Seoul dan dengan Kementerian dan Lembaga terkait untuk kasus [kematian ABK] tersebut, dan juga ABK yang akan dipulangkan pada 8 Mei," kata Kepala Biro Hukum dan Humas BP2MI Sukmo Yuwono dalam keterangan tertulis yang telah dikonfirmasi CNNIndonesia.com, Kamis (7/5).

Sukmo mengatakan para ABK kapal yang diduga dieksploitasi dan mengalami pelanggaran HAM itu bukan berasal dari agen perusahaan Korea Selatan, namun berasal dari agen dari negara China. Alhasil, seluruh kebijakan dan hukum akan disesuaikan dengan pihak setempat. 

"Mereka bukan dipekerjakan oleh agensi Korea tapi oleh agency China jadi jenis visanya bukan E-9 maupun E-10, hanya mereka kebetulan bongkar muat di Korsel," kata dia.

BP2MI, kata dia, pun memantau persebaran WNI yang menjadi ABK di kapal asing. Khusus untuk kapal China, sejauh ini tercatat total tiga buah kapal dengan ABK WNI yang pernah bersandar di Korea Selatan, termasuk sebuah kapal yang ramai diberitakan.

Kemudian kapal kedua yang membawa 20 ABK kembali berlayar dengan kapal China, serta kapal ketiga yang menurut Sukmo telah memulangkan 14 ABK Indonesia sejak (24/4) lalu.

"Total tiga kapal yang pernah bersandar di Korea membawa 48 ABK asal Indonesia," kata Sukmo.

Untuk perkembangan kasus, ia menyebut saat ini KBRI Beijing, China telah berusaha mengusut ini kepada pihak otoritas setempat.

"Informasi dari KBRI Beijing bahwa mereka telah mengirimkan nota diplomatik ke otoritas setempat untuk meminta klarifikasi kasus tersebut," kata dia.   

Terkait pemanggilan agen perusahaan di Indonesia atas kasus ini, Sukmo tak memberikan keterangan jelas. Ia hanya menyatakan, "Kami sedang koordinasikan dengan Kementerian dan Lembaga terkait, [untuk ABK Lainnya] kami masih terus koordinasi dengan KBRI Seoul,."

Sebelumnya stasiun televisi Korea Selatan, MBC, menyiarkan laporan eksklusif mengenai dugaan menjurus ke perbudakan dan pelanggaran HAM yang dialami para ABK WNI di kapal berbendera China. Dilaporkan juga ada ABK yang tewas lalu jenazahnya dilarung ke laut, padahal kesepakatan awal dikremasi di darat lalu abu diberikan ke keluarga.

Sebelumya keberadaan ABK WNI yang diduga menjadi korban eksploitasi itu mencuat setelah stasiun televisi Korsel, MBC,
Dalam berita yang ditulis MBC, diduga sejumlah WNI mengalami praktik eksploitasi bekerja hingga 18 sampai 30 jam sehari, kemudian sakit dan meninggal dunia.

Menurut pengakuan dua ABK WNI yang dirahasiakan identitasnya, seorang rekan mereka yang bernama Ari (24), meninggal karena sakit saat kapal tengah berlayar. Jasadnya dibuang begitu saja di tengah laut dengan upacara seadanya.

Dua ABK WNI lainnya, Alphata (19) dan Sepri (24), juga meninggal di atas kapal. Jenazah ABK WNI itu kemudian dilaporkan dibuang ke laut dengan upacara seadanya. Kemudian, seorang ABK dilarikan ke rumah sakit akibat mengalami sakit pada dada, tetapi meninggal dunia pada 27 April.

Rabu, 06 Mei 2020

Gejala dan Penyebab Henti Jantung Seperti Dialami Didi Kempot Saat Meninggal

Penyanyi campursari Dionisius Prasetyo atau dikenal dengan Didi Kempot meninggal dunia pagi ini, Selasa (5/5/2020), di Rumah Sakit Ibu Solo. Hal tersebut dikonfirmasi Asisten Manajer Humas Rumah Sakit (RS) Kasih Ibu, Divan Fernandez.
Divan mengatakan, saat sampai di rumah sakit Didi sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri. Selain itu, Didi juga mengalami kondisi henti jantung.

"Tiba di IGD pagi ini pukul 07.25, kondisi tidak sadar, henti jantung, henti nafas. Dilakukan tindakan resusitasi, namun pasien tidak tertolong," kata Divan pada detikcom Selasa (5/5/2020).

Dokter spesialis ahli jantung dari RS Siloam Karawaci, dr Vito A Damay, menjelaskan henti jantung atau cardiac arrest merupakan kondisi saat jantung berhenti bekerja sebagai pompa darah yang efektif. Jadi ketika jantung bergetar saja, tidak memompa, misalnya karena adanya aritmia maka jantung tidak berfungsi sebagaimana seharusnya.

"Penyebab paling sering dari henti jantung mendadak adalah serangan jantung sehingga kedua ini sering disamakan oleh masyarakat," tuturnya kepada detikcom beberapa waktu lalu.

Henti jantung ini berbeda dengan serangan jantung. Saat serangan jantung, aliran pembuluh darah tiba-tiba tersumbat karena pembekuan darah. Menurut dr Vito, hal ini bisa menyebabkan henti dan gagal jantung sekaligus.

FAKTOR RISIKO
Dikutip dari Boston Scientific, ada beberapa faktor risiko sehingga seseorang bisa mengalami henti jantung.

Ada riwayat keluarga dengan penyakit jantung koroner
Tekanan darah tinggi
Kolesterol tinggi
Mengalami obesitas
Mengidap diabetes
Jarang berolahraga dan tidak aktif bergerak
Perokok aktif
Asupan alkohol berlebihan.
GEJALA
Adapun beberapa gejala yang bisa menunjukkan bahwa seseorang mengalami henti jantung yang dikutip dari Mayo Clinic, sebagai berikut:

Dada terasa tidak nyaman
Sesak napas
Merasa lemah
Palpitasi (jantung berdegup dengan kencang)
Sementara itu, tanda dan gejala serangan jantung mendadak langsung yang menyebabkan henti jantung adalah:

Tiba-tiba jatuh
Tidak ada denyut nadi
Hilang kesadaran
Berhenti bernapas.

Lagi Ngetren, Ini Plus Minus Masker Scuba Dibanding Masker Katun

Masker scuba menjadi salah satu tren baru di tengah pandemi virus Corona COVID-19. Jenis masker kain yang satu ini memang cukup nyaman karena elastis mengikuti bentuk wajah dan murah meriah. Meski begitu, masker berbahan dasar scuba ini tak lepas dari kekurangan.
Desainer Vivi Zubedi mengatakan ada plus minus dari penggunaan masker yang berbahan dasar scuba dibandingkan dengan masker katun, yaitu bisa dilihat dari segi penyerapannya.

"Lebih kepada segi penyerapannya, mungkin kalau bahan katun kalau kita bersin dari dalam dan mengeluarkan cairan mudah untuk menyerapnya, dari segi antibakterinya dan sebagainya itu lebih direkomendasikan," ujar Vivi saat dihubungi detikcom, Senin (4/5/2020).

Vivi yang juga pernah merancang busana berbahan scuba, memberikan contoh pemakaian ketika perempuan mengalami keputihan, celana dalam dari bahan katun lebih disarankan dokter dibanding dengan berbahan dasar scuba.

"Contoh orang yang keputihan pasti dokter melarang memakai celana dalam selain berbahan katun, karena memang bahan katun itu kebanyakan lebih cepat menyerap dan (dingin) jadi sirkulasi udara jalan," ujarnya.