Sabtu, 16 Mei 2020

Geger 70.000 Ton Gula 'Raib', Kemendag Buka Suara

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey membeberkan salah satu faktor yang dinilainya menyebabkan kelangkaan stok gula di ritel-ritel modern. Menurut Roy, pemerintah sudah menetapkan kesepakatan dengan Aprindo dan Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI), sekitar 160.000 ton gula rafinasi dapat dipasok ke gerai-gerai ritel modern.

Namun, Roy mengatakan ketika hendak memperoleh pasokan gula rafinasi tersebut, sekitar 70.000 ton stok gula menghilang. Ketua Umum Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI) Bernardi Dharmawan membantah hal tersebut. Ia menegaskan, sejak awal tak ada kesepakatan agar AGRI memasok 160.000 ton gula untuk Aprindo.

Bernardi menuturkan, stok gula rafinasi saat ini terus diguyur baik ke ritel modern maupun pasar tradisional untuk mengatasi kelangkaan.

Kemudian, dari sisi pemerintah yang menerbitkan penugasan gula rafinasi tersebut juga angkat bicara. Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) Suhanto mengatakan, memang ada evaluasi dari pihaknya terkait volume gula rafinasi yang akan dipasok AGRI ke Aprindo.

"Jadi pemerintah sesuai dengan rapat bersama memutuskan sudahlah penugasan 160.000 ton itu kita gelontorkan saja ke ritel modern, dan harapannya juga distributor yang memasok ritel modern juga memasok ke pasar tradisional, 2 jalur. Ternyata di dalam perjalanannya, kita kan evaluasi 1 minggu setelah itu, kenapa kok ini belum bergerak? Rupanya packer atau distributor yang menyuplai ke ritel modern pun punya keterbatasan," kata Suhanto kepada detikcom, Jumat (15/5/2020).

Dengan kondisi tersebut, Kemendag pun mempertanyakan kemampuan Aprindo menyerap gula rafinasi dalam 1 bulan. Angka terakhir yang diperoleh, kemampuan dari peritel modern tersebut hanyalah 20.000 ton per bulan.

"Setelah dihitung, kami mendapatkan angka dari Aprindo bahwa ritel modern untuk bulan Mei hanya mampu 20.000 ton," ungkap Suhanto.

Dengan hasil perhitungan kemampuan serap Aprindo, Kemendag pun memutuskan agar AGRI (dan juga Pabrik Gula PT Kebun Tebu Manis) memasok gula rafinasi ke ritel-ritel modern sebanyak 30.000 ton.

"Kami untuk meyakinkan ritel modern, kalau komitmennya hanya 20.000 ton, sudah kita kesepakatan baru dengan para anggota AGRI Anda kita kasih 30.000 ton," jelas dia.

Hal tersebut diputuskan, pasalnya pemerintah tidak ingin ada stok yang berlebih di gudang distributor jika kemampuan serap peritel hanyalah 20.000 ton. Oleh sebab itu, sisa dari 30.000 ton tersebut diarahkan Kemendag untuk dipasok ke pasar tradisional.

"Sisanya kami minta lagi kepada AGRI disalurkan melalui 2 cara, pertama tetap bekerja sama dengan pedagang pasar melalui jaringannya, tetapi langsung ke pedagang pasar. Cara kedua AGRI kerja sama dengan para pengelola dan dinas-dinas seluruh Indonesia melakukan operasi pasar. Jadi bukan berarti Aprindo nggak dipenuhi, tapi nggak mampu untuk menyerap sebanyak itu (160.000 ton)," papar Suhanto.

Ia pun menegaskan, perubahan volume pendistribusian gula rafinasi dari AGRI kepada Aprindo, yang awalnya 160.000 ton menjadi akhirnya 30.000 ton (termasuk dipasok dari Pabrik Gula PT Kebun Tebu Mas), bukanlah mengartikan stok gula tersebut menghilang begitu saja. Namun, pemerintah memang menyesuaikan dengan kemampuan dari peritel modern sendiri.

"Bukan menghilang, ada. Aprindo sendiri nggak akan mampu menjual segitu," pungkas dia.

Persoalan stok gula rafinasi disebut menghilang ini berawal dari pernyataan Roy dalam diskusi pangan yang digelar Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) pada Rabu (14/5) kemarin. Roy menuturkan, melalui rapat dengan Kemendag pada Rabu (22/4) lalu, AGRI telah sepakat memasok 160.000 ton gula rafinasi kepada Aprindo. Gula rafinasi tersebut memang dialihkan fungsinya untuk menjadi gula konsumsi demi memenuhi pasokan dalam negeri.

Namun, menurut Roy 2 hari kemudian AGRI menyatakan stoknya hanya tersisa 93.000 ton. Roy menyatakan kebingungannya dengan mengatakan sekitar 70.000 ton stok gula rafinasi menghilang dalam 2 hari entah ke mana. Terlebih lagi, menurut Roy ketika Aprindo hendak memperoleh keseluruhan stok tersebut, lagi-lagi kesepakatan akhirnya AGRI hanya memasok 30.000 ton gula rafinasi.

Kamis, 14 Mei 2020

Wuhan Berencana Tes 11 Juta Penduduk Setelah Muncul 6 Kasus Corona Baru

Kota Wuhan di China sedang menyusun rencana untuk menguji seluruh populasi yang berjumlah 11 juta penduduk untuk COVID-19. Rencana tersebut tampaknya masih dalam tahap awal, dengan semua distrik di Wuhan diminta untuk menyerahkan rincian tentang bagaimana pengujian dapat dilakukan dalam waktu 10 hari.
Hal ini dilakukan setelah Wuhan, kembali mencatatkan enam kasus baru selama sepekan terakhir. Sebelumnya, tidak ada kasus sama sekali sejak 3 April.

Wuhan, yang dikunci ketat selama 11 pekan, mulai dibuka kembali pada 8 April. Untuk sementara waktu, kehidupan di Wuhan berjalan normal, sekolah mulai dibuka, bisnis dijalankan lagi dan angkutan umum mulai beroperasi.

Tetapi setelah kemunculan cluster atau kelompok baru, yang semuanya berasal dari kompleks perumahan yang sama, kini mengancam kembali kehidupan di Wuhan. Menurut sebuah laporan, mengutip dokumen internal yang beredar luas, setiap kabupaten dan kota diminta menyusun rencana pengujian 10 hari.

Mengutip BBC, setiap kabupaten bertanggung jawab untuk membuat rencana sendiri berdasarkan ukuran populasi mereka dan apakah saat ini ada wabah aktif di kabupaten tersebut. Dokumen tersebut, yang merujuk pada rencana pengujian sebagai "pertempuran 10 hari", juga mengatakan bahwa orang tua dan masyarakat padat harus diprioritaskan dalam hal pengujian.

Namun beberapa pejabat kesehatan senior yang dikutip oleh surat kabar Global Times mengindikasikan bahwa pengujian seluruh kota tidak akan mudah dan mahal.

Peng Zhiyong, direktur unit perawatan intensif Rumah Sakit Zhongnan, Universitas Wuhan, mengatakan sebaiknya pengujian itu cenderung ditargetkan pada pekerja medis, orang-orang yang rentan dan mereka yang memiliki kontak dekat dengan kasus.

Di situs media sosial China, Weibo, orang-orang mengajukan pertanyaan tentang apakah sejumlah besar tes dapat dilakukan hanya dalam hitungan hari.

"Tidak mungkin menguji begitu banyak orang," kata seorang komentator, yang juga mempertanyakan berapa biayanya.

WHO Peringatkan Virus Corona Mungkin 'Tak Akan Pernah Hilang'

 Virus Corona yang menyebabkan COVID-19 bakal menjadi endemik seperti HIV, menurut penuturan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Peringatannya ini datang saat banyak orang 'berlomba' membuat prediksi akhir wabah COVID-19.
Ketika beberapa negara secara bertahap melonggarkan pembatasan dan lockdown, WHO menyebut COVID-19 mungkin tak akan pernah hilang seluruhnya.

"Penting untuk mengingat ini: virus ini bisa menjadi virus endemik lain di komunitas kita dan mungkin tidak akan pernah hilang," kata pakar kedaruratan kesehatan WHO, Mike Ryan, dalam pertemuan daring dan dikutip dari SCMP, Kamis (14/5/2020).

"Saya pikir penting bagi kita untuk realistis dan tidak berpikir siapa pun dapat memprediksi kapan penyakit ini akan hilang. Tidak ada janji dalam hal ini, tidak ada tanggal. Penyakit ini bisa menjadi masalah yang lama, atau mungkin juga tidak," sambungnya.

Namun, dia mengatakan dunia memiliki kendali untuk mengatasi COVID-19, meski akan membutuhkan upaya besar bahkan jika vaksin ditemukan. Saat ini lebih dari 100 vaksin potensial sedang dikembangkan termasuk beberapa telah memasuki uji klinis, tetapi para ahli telah menggarisbawahi kesulitan menemukan vaksin yang efektif terhadap virus Corona.

Terlebih, Ryan mencatat ada beberapa vaksin untuk penyakit lain, seperti campak, yang hingga kini penyakitnya belum dieliminasi atau hilang seluruhnya.

Ryan menyebut kontrol yang signifikan dari virus sangat diperlukan untuk menurunkan risiko yang tetap sangat tinggi di tingkat nasional, regional, dan global.