Senin, 18 Mei 2020

Pandemi Corona Tak Kunjung Usai, WHO Keluarkan Pedoman 'The New Normal'

Sejak menyebar pada akhir Desember lalu, pandemi virus Corona seperti masih jauh dari kata usai. Beberapa negara, termasuk Indonesia, menyinggung soal persiapan memasuki 'kondisi baru' di tengah wabah virus Corona.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) beberapa waktu lalu mengeluarkan protokol the new normal selama vaksin Corona COVID-19 belum ditemukan.

"Saat kami mempertimbangkan langkah transisi (penanganan COVID-19), kami harus mengakui bahwa tidak ada kemenangan yang cepat diraih. Kompleksitas dan ketidakpastian ada di depan, yang berarti bahwa kita memasuki periode di mana kita mungkin perlu menyesuaikan langkah dengan cepat," kata Direktur Regional WHO untuk Eropa Henri P. Kluge dikutip dari dokumen resmi di situs WHO, Senin (18/5/2020).

Sebelum menerapkan langkah seperti pelonggaran pembatasan untuk menuju 'the new normal, pemerintah suatu negara harus membuktikan bahwa transmisi virus Corona mampu dikendalikan. Meredakan pembatasan dilakukan secara bertahap dan terus mengevaluasi kebijakan tersebut.

Selain itu, kapasitas sistem kesehatan masyarakat termasuk rumah sakit harus tersedia untuk mengidentifikasi, menguji, mengisolasi, melacak kontak, dan mengkarantina pasien COVID-19.

Risiko penularan wabah juga harus terkendali terutama di tempat dengan kerentanan tinggi. Langkah-langkah pencegahan di tempat kerja juga harus ditetapkan, dengan adanya jarak fisik, fasilitas cuci tangan dan selalu mengikuti etika batuk atau bersin.

Setiap langkah menuju transisi 'the new normal' harus dipantau oleh otoritas kesehatan, bersama dengan pertimbangan ekonomi dan sosial. Disebutkan juga bahwa untuk mempercepat penanganan Corona, semua negara harus saling menyerukan solidaritas untuk mengakhiri wabah COVID-19.

"Pada akhirnya, perilaku kita masing-masing akan menentukan karakter virus. Ini akan membutuhkan ketekunan dan kesabaran, tidak ada jalur cepat untuk kembali normal," pungkasnya.

Hamil di Tengah COVID-19? Ini 3 Tips Bantu Jaga Daya Tahan Tubuh

Kehamilan yang berlangsung di tengah pandemi COVID-19 membuat kesehatan ibu hamil harus benar-benar diperhatikan. Bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk bayi dalam kandungan.
Menurut Head of Medical Kalbe Nutritionals dr Muliaman Mansyur, kekebalan janin dalam kandungan sangat tergantung pada ketahanan fisik ibu saat hamil. Sebab, jika ibunya terinfeksi beberapa penyakit maka akan berdampak pada bayinya.

"Jadi memang pada saat hamil ini perlu sekali menjaga ketahanan tubuh seperti pola hidup bersih sehat sehingga tidak terinfeksi oleh bakteri virus dan kuman lain baik berasal dari udara maupun dari makanan dan minuman," ujar dr Muliaman kepada detikHealth baru-baru ini.

Selain menjaga pola hidup bersih seperti yang dijelaskan dr Muliaman, ada beberapa cara lain menjaga daya tahan tubuh atau ketahanan fisik untuk ibu hamil selama pandemi COVID-19 seperti dilansir dari FirstCry Parenting sebagai berikut.

1. Istirahat yang Cukup

Tubuh juga perlu istirahat dengan baik selama masa kehamilan, terlebih untuk meningkatkan imunitas. Selama hamil, tubuh bergerak lebih aktif baik secara fisik, emosional, dan fisiologis. Berikan istirahat yang cukup pada tubuh sehingga kekebalan tubuh pun terjaga.

2. Jaga Tubuh Tetap Terhidrasi

Ibu hamil disarankan untuk selalu memenuhi kebutuhan air. Dalam sehari, pastikan untuk selalu mengonsumsi 8 hingga 12 gelas air sehari. Ini akan membantu meningkatkan daya tahan tubuh selama masa pandemi.

3. Pastikan Asupan Makanan Bergizi Terpenuhi

Saat hamil, banyak yang ngidam dan ingin makan-makanan yang aneh. Namun ibu hamil harus selalu memperhatikan asupan makanannya tetap bergizi.

"Ibu hamil dan menyusui membutuhkan nutrisi dan kalori yang berlebih dibandingkan saat tidak hamil. Kalori sendiri juga ada tanbahan sekitar 300-500 kcal saat hamil dan menyusui," terang dr Muliaman.

dr Muliaman juga menambahkan, nutrisi penting yang diperlukan untuk menjaga daya tahan tubuh adalah karbohidrat sebagai sumber tenaga, protein untuk membentuk antibodi, dan vitamin serta mineral untuk membantu sel-sel di saluran pernafasan dan cerna agar tidak mudah terinfeksi virus dan bakteri.

Selain itu juga dapat didukung dengan mengonsumsi Prenagen Mommy Lovely untuk membantu melengkapi kebutuhan energi dan zat gizi ibu hamil serta calon buah hati.

Prenagen Mommy Lovely memiliki Nutrisi lengkap gizi selama 1000 HPK (hari pertama kehidupan) dengan formula PRENAPro untuk menjaga stamina ibu lebih fit selama menjalani kehamilan. Ditambahkan pula Faktor Kecerdasan sehingga janin lahir cerdas, pertumbuhan bayi sempurna dan cukup umur yaitu 40 minggu dengan beratnya sesuai standar 2,5-4 kg

Tenaga Medis Protes, Buang Muka dan Tak Acuhkan Kunjungan PM Belgia ke RS

 Tenaga medis Belgia menunjukkan protes mereka terhadap pemerintah atas putusan terbaru yang mereka buat saat pandemi COVID-19 seperti sekarang ini.
Dilansir dari laman Sky News, saat Perdana Menteri Sophie Wilmes melakukan kunjungan tidak resmi kedua rumah sakit di ibukota Belgia, Brussels dan mendapat sambutan yang dingin dari para tenaga medis pada Sabtu (16/05/2020).

Dalam sebuah unggahan video akun Twitter, terlihat iring-iringan mobil Perdana Menteri tiba di Rumah Sakit Saint-Pierre dan disambut oleh staf rumah sakit yang berbaris di jalan masuk ke rumah sakit. Namun saat jajaran pemerintah tiba, tenaga medis justru membuang muka.


Giles Paley-Phillips
@eliistender10
Some of the most powerful demonstrations are the silent ones Hospital staff did this to greet The Prime Minister of Belgium due to their government's handling of the pandemic 

Video terlekat
47,5 rb
14.36 - 17 Mei 2020
Info dan privasi Iklan Twitter
14,9 rb orang memperbincangkan tentang ini

Menurut media setempat, aksi ini dilakukan para tenaga medis sebagai tanggapan terhadap penandatanganan undang-undang keputusan kerajaan yang memungkinkan staf yang tidak memenuhi syarat untuk melakukan tugas keperawatan di tengah pandemi COVID-19.

Awal bulan ini, Persatuan Perawat Umum di Belgia mengatakan dekrit tersebut merupakan 'tamparan nyata' bagi profesi kesehatan di Belgia. Aturan tersebut dapat berbahaya selama krisis terjadi.

Mereka beranggapan keputusan itu datang dari sektor kesehatan Belgia, mereka merasa tidak didengar, diakui dan dihargai oleh pemerintah.

Menurut data Research Johns Hopkins Senin (18/05/2020), hingga kini kasus COVID-19 yang telah tercatat sebanyak 55.280 kasus pada dan sebanyak 9.052 orang di Belgia telah meninggal.

Pandemi Corona Tak Kunjung Usai, WHO Keluarkan Pedoman 'The New Normal'

Sejak menyebar pada akhir Desember lalu, pandemi virus Corona seperti masih jauh dari kata usai. Beberapa negara, termasuk Indonesia, menyinggung soal persiapan memasuki 'kondisi baru' di tengah wabah virus Corona.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) beberapa waktu lalu mengeluarkan protokol the new normal selama vaksin Corona COVID-19 belum ditemukan.

"Saat kami mempertimbangkan langkah transisi (penanganan COVID-19), kami harus mengakui bahwa tidak ada kemenangan yang cepat diraih. Kompleksitas dan ketidakpastian ada di depan, yang berarti bahwa kita memasuki periode di mana kita mungkin perlu menyesuaikan langkah dengan cepat," kata Direktur Regional WHO untuk Eropa Henri P. Kluge dikutip dari dokumen resmi di situs WHO, Senin (18/5/2020).

Sebelum menerapkan langkah seperti pelonggaran pembatasan untuk menuju 'the new normal, pemerintah suatu negara harus membuktikan bahwa transmisi virus Corona mampu dikendalikan. Meredakan pembatasan dilakukan secara bertahap dan terus mengevaluasi kebijakan tersebut.

Selain itu, kapasitas sistem kesehatan masyarakat termasuk rumah sakit harus tersedia untuk mengidentifikasi, menguji, mengisolasi, melacak kontak, dan mengkarantina pasien COVID-19.

Risiko penularan wabah juga harus terkendali terutama di tempat dengan kerentanan tinggi. Langkah-langkah pencegahan di tempat kerja juga harus ditetapkan, dengan adanya jarak fisik, fasilitas cuci tangan dan selalu mengikuti etika batuk atau bersin.

Setiap langkah menuju transisi 'the new normal' harus dipantau oleh otoritas kesehatan, bersama dengan pertimbangan ekonomi dan sosial. Disebutkan juga bahwa untuk mempercepat penanganan Corona, semua negara harus saling menyerukan solidaritas untuk mengakhiri wabah COVID-19.

"Pada akhirnya, perilaku kita masing-masing akan menentukan karakter virus. Ini akan membutuhkan ketekunan dan kesabaran, tidak ada jalur cepat untuk kembali normal," pungkasnya.