Senin, 18 Mei 2020

Harap Sabar! Vaksin Corona Tersedia Paling Lambat Pertengahan 2021

Sebagian besar sadar bahwa pengembangan vaksin COVID-19 yang baik akan membutuhkan waktu. Diperlukan setidaknya satu tahun penelitian vaksin virus Corona, namun di masa pandemi seperti saat ini ilmuwan mempercepat proses pembuatan vaksin COVID-19. Walau beberapa perusahaan farmasi mengatakan tak bisa dalam waktu dekat, vaksin Corona bisa jadi baru tersedia di paruh kedua 2021.
Hal ini diungkapkan oleh Chief Executive Officer Novartis, Vas Narasimhan, yang mengungkapkan bahwa pembuatan vaksin yang terburu-buru bisa sia-sia dan menjadi kegagalan atau tidak efektif dalam menangani pandemi virus Corona.

"Cara untuk menangani pandemi ini adalah dengan vaksin. Namun itu akan membutuhkan waktu, tebakanku sekitar satu setengah sampai dua tahun," tulis Narashiman dikutip dari Medical Daily.

Perlu dicatat bahwa saat ini ada lebih dari 90 kandidat vaksin dan beberapa di antaranya sudah memasuki tahap uji klinis. Banyak perusahaan farmasi di seluruh dunia yang 'berlomba' untuk menciptakan vaksin secepat dan seefisien mungkin.

Bahkan Presiden AS Donald Trump mengumumkan akan membuat program 'Operation Warp Speed' dengan maksud mengimunisasi 300 juta orang pada akhir 2020. Dorongan tersebut juga dimaksudkan untuk melancarkan stimulasi ekonomi karena sebagian besar negara mulai kesulitan karena banyaknya bisnis yang tidak bisa beroperasi dan angka pengangguran meningkat.

Namun bergegas dalam pengembangan vaksin COVID-19 tidak menunjukkan banyak janji. Upaya tetap ada dan beberapa obat telah disarankan dan disetujui diberikan pada pasien. Pakar penyakit menular terkemuka AS Anthony Fauci juga menyebut vakisn mungkin tidak akan tersedia sampai tahun depan.

Fauci sebelumnya mengatakan bahwa vaksin coronavirus bisa memakan waktu 12 hingga 18 bulan untuk dikembangkan.

"Kami ingin membuat dengan cepat tapi kami juga harus memastikan itu (vaksin-red) aman dan efektif. Saya pikir jika tak ada yang salah, itu bisa dilakukan," kata Fauci dikutip dari CNN Internasional.

Suami Sebut YouTuber Indira Kalistha Introvert, Kenali Arti Sebenarnya

Youtuber Indira Kalistha kembali trending di Twitter, tak hanya karena permintaan maafnya di Channel Youtube Deddy Corbuzier. Hal lain yang membuatnya trending adalah kata introvert yang diungkapkan suaminya, Gustaf Syailendra atau Utap saat dirinya meminta maaf.
"Pas dia bilang kita kalau ke pasar kan nggak pakai masker atau gimana, gue baru ngeh tuh nih kayaknya bini gue ngablu nih, sejak kapan kita keluar gitu kan," kata Utap dalam Channel YouTube Deddy Corbuzier miliknya.

"Karena pada dasarnya gue dan bini gue ini introvert banget gitu. Kayak gue kalau ketemu orang banyak kalau berisik ya, kalau pada ngomong suka pusing. Kalau di restoran ramai gue suka pusing," tukas Utap lagi.

Psikolog klinis dari Personal Growth, Veronica Adesla, mengatakan bisa saja Indira ini memang introvert meski pastinya ia tidak tahu karena harus diperiksa lebih lanjut. Ini karena orang yang introvert pun bisa melakukan kegiatan yang bersifat ekstrovert, meski dengan usaha yang keras.

"Bisa saja, karena orang introvert bisa melakukan kegiatan ekstrovert meski susah payah karena tuntutan pekerjaan ataupun pilihan karir serta hidup yang diambil," ujarnya pada detikcom, Senin (18/5/2020).

Menurut Veronica, introvert adalah orang yang lebih menyukai atau terlibat dalam aktivitas yang bersifat intim. Artinya kegiatan tersebut tidak melibatkan banyak orang.

Selain itu, mereka yang introvert biasanya memilih beraktivitas di waktu luang dan bersifat solitary atau dengan kelompok kecil pertemanannya. Orang yang introvert lebih cenderung tampak pasif, tapi ia termasuk pengamat yang ulung dan peka terhadap sekitarnya.

"Orang introvert akan lebih cepat kehilangan energi, seperti merasa lelah dan capek, dan merasa tidak nyaman ketika harus bersosialisasi dengan banyak orang, termasuk juga ketika harus bersosialisasi dengan sekumpulan orang-orang baru di suatu waktu," kata Veronica.

"Namun perlu diingat, orang introvert tetap butuh kok bersosialisasi, dan ia tidak masalah untuk berada di manapun termasuk tempat publik," lanjutnya.

Apa Sih Herd Immunity Corona?

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tak merekomendasikan setiap negara yang menerapkan herd immunity dan melonggarkan lockdown . Sebab menurut WHO herd immunity dan melonggarkan lockdown bukanl cara yang tepat untuk memutus penyebaran COVID-19 atau corona.
Dikutip dalam Euronews, herd immunity adalah konsep dalam epidemiologi yang menggambarkan bagaimana orang secara kolektif dapat mencegah infeksi jika beberapa persen populasi memiliki kekebalan terhadap suatu penyakit.

WHO menilai cara mendapat herd immunity dengan pembiaran masyarakat tertular oleh virus corona sebagai hal yang berbahaya.

Berikut seputar herd immunity corona yang dilansir dalam Business Insider (16/05/2020):
1. Puluhan Ribu Meninggal, 5 Persen yang Kebal
Penelitian di Spanyol dan Perancis menunjukkan bahwa tidak lebih dari 5 persen dari populasi tersebut telah mengembangkan antibodi COVID-19.

William Hanage, seorang ahli epidemiologi di Harvard mengatakan,"Wabah besar dan kematian yang berlebihan tidak menghasilkan herd immunity yang bermakna."

Di Amerika Serikat, hampir 85.000 orang yang meninggal, prospek kekebalan massal tidak lebih baik. Pada bulan April, sebuah peneliti di Santa Clara Country, California memperkirakan bahwa antara 2,5 persen dan 4,2 persen penduduk di sana memiliki antibodi.

Sebuah penelitian di Los Angeles Country membuat perkiraan serupa yaitu 2,8 persen menjadi 5,6 persen "seroprevalensi" yang merupakan istilah untuk presentase orang yang memiliki antibodi di dalam darah mereka.

Sebuah studi antibodi New York menemukan bahwa 13,9 persen dari penduduk negara bagian New York telah terinfeksi dengan virus Corona. Di New York City, seroprevalensi setinggi 21,2 persen tetapi itu diantara orang yang mencari tes (berarti mereka mungkin mengira tubuhnya memiliki gejala). Ini masih jauh dari angka 50-70.

Hal ini bukan pertanda baik bagi bagian lain Amerika Serikat, yang belum menghadapi gelombang infeksi yang menghancurkan seperti menewaskan 27.500 orang di New York.

2. Manusia Bukan Ternak (Herd)
Bahkan Swedia yang tidak melakukan lockdown dan membiarkan hidup normal, tampaknya tidak memiliki kekebalan tubuh.

Badan Kesehatan Publik Swedia sendiri memperkirakan paling tidak sekitar seperempat populasi Stockholm mungkin kontak dengan COVID-19. Lebih dari 3500 orang telah meninggal di negara itu dan lebih dari 12 persen kasus yang dikonfirmasi.

"Manusia bukanlah ternak (herds), dan lagi pula konsep herd immunity biasanya digunakan untuk menghitung berapa banyak orang yang perlu divaksinasi dan populasi untuk menghasilkan efek itu," ujar Mike Ryan, direktur eksekutif WHO.

3. Vaksin, Cara Terbaik untuk Herd Immunity

Sebuah komunitas atau negara dapat mencapai kekebalan imunitas melalui vaksinasi. Sampai vaksin tersedia secara luas, para ahli merekomendasikan untuk memonitor virus melalui pengujian luas dan pelacakan kontak, kemudian mengisolasi orang yang terinfeksi dan siapa saja yang berhubungan dengan mereka.

Pemerintah mungkin juga perlu menutup kembali bisnis dan memberlakukan kembali pembatasan jika infeksi virus terjadi dan jumlahnya melampaui kapasitas rumah sakit.

"Proporsi yang sangat rendah dari orang yang telah diuji memiliki bukti antibodi," ujar Maria Van Kerkhove, seorang ahli epidemiologi WHO.

"Kami masih harus menempuh jalan panjang dengan virus ini, karena virus karena virus ini sangat mungkin dapat menginfeksi lebih banyak orang lagi," pungkas Kerkhove.

Herd immunity coronavirus diyakini sebagian besar ilmuwan, dapat terjadi bila sekitar 65 persen hingga 75 persen dari populasi telah terinfeksi.


Achmad Yurianto (Yuri), selaku juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19 mengisyaratkan Indonesia tidak akan menerapkan Herd Immunity. "Herd immunity itu kalau di text book ada, tapi di kita siapa yang memakai? Kalau herd immunity maka kenapa harus ada PSBB?."

Yuri menambahkan Herd Immunity itu hanya hukum rimba. Siapa yang kuat dia yang akan hidup dan yang tidak kuat akan mati. " Kalau seperti itu ngapain pemerintah dari awal capek-capek mengurus ini semua? Biarkan saja kalau yang masih hidup maka itu nanti yang akan melanjutkan. Itu namanya herd immunity. Kalau kita mau membiarkan herd immunity, ngapain kita berlelah-lelah membikin gugus tugas dan segala macamnya?" tutur Yurianto kepada detikNews (14/05/2020) lalu.