Senin, 03 Agustus 2020

Berbeda dengan Trump, Pakar Kesehatan AS Percaya Corona Tak Akan Hilang

Hingga kini sudah lebih dari 18 juta orang yang telah terinfeksi virus Corona (COVID-19) di seluruh dunia. Pakar kesehatan Amerika Serikat (AS) pun percaya bahwa COVID-19 tak akan pernah hilang.
"Saya tidak percaya itu akan hilang karena ini adalah virus yang sangat menular," kata penasihat kesehatan Gedung Putih, pakar ahli infeksi menular terkenal di AS, Dr Anthony Fauci, dikutip dari CNBC.

Pernyataan ini bertentangan dengan pernyataan sebelumnya yang dibuat oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Sang presiden beberapa kali menyatakan bahwa virus Corona akan menghilang dengan sendirinya.

Meski begitu, Fauci mengatakan bahwa kemungkinan para pemimpin dan pejabat kesehatan di seluruh dunia dapat melakukan suatu tindakan yang membuat pandemi Corona turun ke 'level' yang lebih rendah.

Namun, Fauci menjelaskan hingga kini belum ada jaminan bahwa para ilmuwan dapat menemukan vaksin yang aman dan efektif untuk virus Corona. Menurutnya AS saat ini jadi yang paling terdepan dalam mengembangkan vaksin Corona.

"Saya tidak yakin ada vaksin yang pengembangannya lebih jauh dari kita, sehingga kita sampai harus bergantung pada negara lain untuk mendapatkan vaksin," tuturnya.

Vietnam Sebut Virus Corona yang Kembali Mewabah Lebih Mudah Menular

Setelah sebelumnya dianggap berhasil mengendalikan wabah virus Corona COVID-19, Vietnam harus kembali menghadapi kemunculan kasus baru. Kementerian Kesehatan Vietnam melaporkan pada hari Minggu (2/8/2020), ada 34 kasus infeksi sehingga totalnya sudah mencapai 620.
Sumber wabah COVID-19 kali ini datang dari Kota Danang. Namun, otoritas setempat mengaku kesulitan melakukan pelacakan kontak di kota yang sudah memiliki sekitar 200 kasus infeksi tersebut.

"Di Danang, ada banyak sumber infeksi virus, dan masih ada lagi kasus-kasus penularan di komunitas," kata Kementerian Kesehatan Vietnam, seperti dikutip dari Reuters pada Senin (3/8/2020).

Menteri Kesehatan (Menkes) Nguyen Thanh Long mengatakan COVID-19 yang menyerang Vietnam kali ini datang dari jenis atau strain yang berbeda. Jenis ini disebut bersifat lebih mudah menular.

Nguyen menyebut jenis COVID-19 yang baru dapat menginfeksi sekitar 5-6 orang per satu orang terinfeksi. Dibandingkan jenis COVID-19 sebelumnya memiliki angka reproduksi sekitar 1,8 sampai 2,2 orang yang bisa tertular dari satu orang terinfeksi.

Otoritas di Danang kini berusaha meredam wabah dengan tindakan drastis mengerahkan ratusan calon tentara untuk membantu upaya pelacakan kasus dan pengumpulan sampel.

Berjemur Yuk! Ini 5 Tanda Tubuh Kurang Terpapar Sinar Matahari

 Vitamin D yang didapat dari sinar matahari membantu menguatkan tulang dan sendi. Oleh sebab itu, jika ingin mendapatkan vitamin D secara alami cukup dengan berjemur di pagi hari selama 15-30 menit.
Kekurangan vitamin D akibat jarang terpapar sinar matahari akan menimbulkan beberapa masalah kesehatan, seperti diabetes, osteoartritis (nyeri sendi), dan kanker.

Sebelum mengalami masalah kesehatan, biasanya tubuh akan memberikan tanda.

Berikut 5 tanda tubuh kekurangan sinar matahari, seperti dikutip dari Thehealthy:

1. Perubahan mood
Wesley Delbridge, RD dari Academy of Nutrition and Dietetic mengkonfirmasi bahwa sinar matahari dapat meningkatkan serotonin, yaitu hormon yang bertanggung jawab atas kebahagian diri.

Oleh karena itu, berjemur di pagi hari akan meningkatkan mood.

2. Berat badan semakin bertambah
Sinar matahari mengandung nutrisi nitrat oksida, yang membuat metabolisme tubuh berjalan lancar dan mencegah seseorang makan secara berlebihan.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal diabetes menemukan bahwa paparan sinar UV (ultraviolet) dapat memperlambat kenaikan berat badan dan mencegah diabetes.

3. Tulang terasa sakit
Menurut Delbridge, kekurangan vitamin D karena jarang terkena sinar matahari akan membuat orang dewasa sering merasakan sakit dan nyeri otot pada tulang mereka. Selain itu, tubuh menjadi kaku di pagi hari.

4. Insomnia
National Sleep Foundation mengatakan bahwa menghabiskan waktu dalam pencahayaan buatan (menatap layar elektronik), dapat membuang ritme sirkadian (jam internal tubuh) yang menyebabkan seseorang mengalami insomnia.

5. Berkeringat berlebihan
Berkeringat berlebihan di dahi padahal tidak sedang kepanasan, merupakan salah satu tubuh kurang mendapatkan asupan vitamin D.
https://kamumovie28.com/the-lies-within-episode-8/

Dokter Tegaskan Serum Antibodi COVID-19 Hadi Pranoto Hoax

 Wawancara antara musisi Anji dengan seorang pria yang diklaim sebagai pakar mikrobiologi, Hadi Pranoto, viral di media sosial. Hadi Pranoto mengaku telah mengembangkan serum antibodi COVID-19 yang bisa menyembuhkan ribuan pasien Corona.
Video asli wawancara tersebut tampaknya kini sudah dihapus dari Youtube. Namun, beberapa warganet kembali mengunggah ulang seluruh atau sebagian video tersebut di berbagai media sosial dan tidak sedikit juga yang mempercayainya.

"Rasanya seorang profesor dibidang mikrologi gak mungkin berbohong. Dari wawancara terlihat betapa Profesor ini sangat memahami jenis virus ini. Hanya saja orang baik, orang jujur, orang pintar saat ini justru dianggap musuh bagi penguasa," kata satu pengguna Facebook.

Menanggapinya, pegiat kesehatan dr Dirga Sakti Rambe, MSc, SpPD, memastikan bahwa informasi soal serum antibodi COVID-19 menyembuhkan ribuan pasien hoax atau keliru. Ia mengimbau agar warganet tidak mudah percaya terkait klaim obat Corona dari siapa saja tanpa disertai bukti ilmiah.

"Saya telah menyaksikan seluruh tayangannya dan saya menyatakan ini adalah informasi menyesatkan. Dalam kedokteran untuk mententukan apakah suatu terapi atau pengobatan efektif dalam menyembuhkan penyakit harus melalui serangkaian uji klinis," kata dr Dirga dalam video yang ia bagikan di akun pribadi Twitter-nya.

"Tidak boleh berdasarkan atas suatu klaim. Siapapun yang menyampaikan klaimnya, apakah dia profesor, menteri, presiden, atau saya sekalipun," lanjutnya.

dr Dirga mengingatkan agar Anji dan Hadi Pranoto berhati-hati menyampaikan informasi sehingga malah tidak melakukan pembodohan publik.

Berbeda dengan Trump, Pakar Kesehatan AS Percaya Corona Tak Akan Hilang

 Hingga kini sudah lebih dari 18 juta orang yang telah terinfeksi virus Corona (COVID-19) di seluruh dunia. Pakar kesehatan Amerika Serikat (AS) pun percaya bahwa COVID-19 tak akan pernah hilang.
"Saya tidak percaya itu akan hilang karena ini adalah virus yang sangat menular," kata penasihat kesehatan Gedung Putih, pakar ahli infeksi menular terkenal di AS, Dr Anthony Fauci, dikutip dari CNBC.

Pernyataan ini bertentangan dengan pernyataan sebelumnya yang dibuat oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Sang presiden beberapa kali menyatakan bahwa virus Corona akan menghilang dengan sendirinya.

Meski begitu, Fauci mengatakan bahwa kemungkinan para pemimpin dan pejabat kesehatan di seluruh dunia dapat melakukan suatu tindakan yang membuat pandemi Corona turun ke 'level' yang lebih rendah.

Namun, Fauci menjelaskan hingga kini belum ada jaminan bahwa para ilmuwan dapat menemukan vaksin yang aman dan efektif untuk virus Corona. Menurutnya AS saat ini jadi yang paling terdepan dalam mengembangkan vaksin Corona.

"Saya tidak yakin ada vaksin yang pengembangannya lebih jauh dari kita, sehingga kita sampai harus bergantung pada negara lain untuk mendapatkan vaksin," tuturnya.

Vietnam Sebut Virus Corona yang Kembali Mewabah Lebih Mudah Menular

Setelah sebelumnya dianggap berhasil mengendalikan wabah virus Corona COVID-19, Vietnam harus kembali menghadapi kemunculan kasus baru. Kementerian Kesehatan Vietnam melaporkan pada hari Minggu (2/8/2020), ada 34 kasus infeksi sehingga totalnya sudah mencapai 620.
Sumber wabah COVID-19 kali ini datang dari Kota Danang. Namun, otoritas setempat mengaku kesulitan melakukan pelacakan kontak di kota yang sudah memiliki sekitar 200 kasus infeksi tersebut.

"Di Danang, ada banyak sumber infeksi virus, dan masih ada lagi kasus-kasus penularan di komunitas," kata Kementerian Kesehatan Vietnam, seperti dikutip dari Reuters pada Senin (3/8/2020).

Menteri Kesehatan (Menkes) Nguyen Thanh Long mengatakan COVID-19 yang menyerang Vietnam kali ini datang dari jenis atau strain yang berbeda. Jenis ini disebut bersifat lebih mudah menular.

Nguyen menyebut jenis COVID-19 yang baru dapat menginfeksi sekitar 5-6 orang per satu orang terinfeksi. Dibandingkan jenis COVID-19 sebelumnya memiliki angka reproduksi sekitar 1,8 sampai 2,2 orang yang bisa tertular dari satu orang terinfeksi.

Otoritas di Danang kini berusaha meredam wabah dengan tindakan drastis mengerahkan ratusan calon tentara untuk membantu upaya pelacakan kasus dan pengumpulan sampel.
https://kamumovie28.com/the-lies-within-episode-1/