Kamis, 24 Juni 2021

Perempuan Jadi Ujung Tombak Kemajuan UMKM Berbasis Digital

  Industri UMKM di Indonesia meningkat signifikan beberapa tahun terakhir, terutama dalam hal partisipasi perempuan yang memulai usaha mandiri di berbagai bidang.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2018, jumlah UMKM yang dikelola perempuan mencapai 64,5% dari total UMKM yang ada di Indonesia, atau mencapai 37 juta UMKM. Angka ini diyakini terus meningkat, terlebih selama pandemi.

https://tendabiru21.net/movies/flirting-scholar-from-the-future/


Sementara menurut laporan Women Will dari Google, 40% perempuan berusia 25-34 tahun di Indonesia lebih memilih mendirikan usaha sendiri dibanding bekerja di perusahaan milik orang lain.


Kemajuan teknologi digital menjadi salah satu pendorong utama dari tren positif ini. Riset McKinsey memaparkan bahwa UMKM yang dijalankan oleh para perempuan menghasilkan 35% pendapatan melalui e-commerce, dibandingkan hanya 15% dari offline.


Josephine Siswanto, Owner and Managing Director of Less For More, dan Astri Zakiyyah, Owner of BWBYAZ, merupakan contoh perempuan Indonesia yang merasakan betul kemudahan memulai bisnis online di era digital masa kini.


Dengan berkolaborasi bersama e-commerce enabler Sirclo, mereka berhasil membesarkan lini fesyennya dengan pertumbuhan pembelian yang konsisten. Mereka memberikan pandangan dan cerita bisnis mereka melalui acara Women Empowerment Weeks Conference Sirclo pada tanggal 29 April lalu.


"Walaupun saat ini sudah ada platform marketplace ataupun media sosial, kami percaya bahwa kehadiran website sangatlah penting untuk menjaga kepercayaan pelanggan dan menonjolkan identitas brand secara lebih kuat. Ketika pelanggan memiliki trust, maka mereka akan langganan jangka panjang, sehingga customer service benar-benar harus dioptimalkan untuk melayani dan menjawab pertanyaan mereka sebaik mungkin," ungkap Josephine dalam keterangan yang diterima detikINET, Senin (24/5/2021).


Sirclo merupakan perusahaan e-commerce enabler di Indonesia yang membantu brands berjualan online melalui ragam solusi, diantaranya SIRCLO Store, Sirclo Commerce, dan Icube by Sirclo. Sirclo Store merupakan teknologi pembuatan toko online instan, memberikan solusi bagi brand untuk memiliki situs resmi agar pelanggan dapat bertransaksi secara online.


"Saya memulai brand BWBYAZ ketika masih berkuliah. Ketika itu, saya harus membagi waktu sebaik mungkin antara mengelola usaha dan mengerjakan tugas-tugas kuliah. Untungnya, saat ini berbagai teknologi toko online seperti Sirclo Store bisa digunakan dengan harga terjangkau untuk membantu kita melayani pelanggan dengan lebih cepat, efisien, dan mudah," jelas Astri dalam keterangan yang sama.


"Dengan begitu, kami bisa berfokus untuk mengurusi aspek-aspek lain yang lebih strategis, seperti perencanaan pemasaran atau arah pengembangan bisnis," tambahnya.


Sirclo saat ini mendukung lebih dari 100 ribu brand yang mengembangkan bisnisnya secara online. Baik itu dari skala UMKM sampai skala besar seperti Unilever, L'oreal, dan Levi's.


"Dari 5 brand tersukses di SIRCLO Store saat ini, kami menemukan bahwa 3 diantaranya dimiliki oleh perempuan. Ini merupakan sebuah kebanggaan bagi kami, dimana kami melihat para perempuan Indonesia dapat menjadi ujung tombak kemajuan UMKM berbasis digital," tutup Brian Marshal, Founder dan CEO Sirclo.

https://tendabiru21.net/movies/flirting-scholar/

Cara Cek Kebocoran Data Pribadi di Internet

 - Data pribadi sering dianggap sepele oleh sebagian orang, dan seringkali tak dipedulikan saat bocor ke pihak tak bertanggung jawab.

Padahal dari data seperti nama, nomor telepon, alamat email, dan macam-macam data lainnya, saat diolah dan dipakai dengan tepat, bisa membahayakan dan tentunya merugikan untuk si korban.


Baru-baru ini pun ramai berita terkait bocornya data kependudukan warga Indonesia di dunia maya, yang diduga berasal dari data BPJS Kesehatan. Saat ini tampaknya memang belum ada cara untuk mengecek data kependudukan yang bocor di dunia maya, namun setidaknya kita bisa mengetahui apakah alamat email dan passsword yang kita pakai sudah tersebar dari aksi peretasan.


Untuk mengetahui apakah password dan email kita pernah bocor dalam peretasan bisa dilakukan dengan beberapa hal. Dihimpun detikINET dari berbagai sumber, Senin (24/5/2021) berikut ini adalah beberapa di antaranya:


1.Have I Been Pwned

Have I Been Pwned (HIBP) adalah situs populer yang sudah ada sejak lama. Mereka mengumpulkan data-data yang berasal dari berbagai kejadian peretasan, dan pengguna bisa mengecek apakah email yang mereka pakai ada dalam database peretasan tersebut.


Database yang dipakai HIBP juga bisa diakses lewat situs lain, salah satunya periksadata.com buatan Ethical Hacker Indonesia. Cara kerjanya sama, pengguna cuma perlu memasukkan alamat email ke dalam kolom pencarian, dari situ akan terlihat alamat email ini pernah bocor di kejadian peretasan mana saja.


2. Google Chrome

Google punya fitur keamanan yang dibenamkan ke dalam browser Chrome-nya. Jadi saat pengguna memasukkan password ke sebuah situs, Google akan mengecek apakah password tersebut pernah tersebar dalam kejadian peretasan yang pernah terjadi.


Kini fitur tersebut diperluas, jadi selain memperingatkan pengguna atas password yang bocor, Google juga menyediakan akses langsung ke situs akun untuk mengganti password.


3. Firefox Monitor

Sama seperti Chrome, Firefox juga menyediakan fitur pengecek email dan password lewat monitor.firefox.com. Cara kerjanya terbilang sama, yaitu dengan memasukkan email ke kolom pencarian.


Kemudian bisa dilihat email tersebut pernah dipakai di layanan ataupun situs mana yang pernah bocor.


4. Avast

Perusahaan keamanan Avast juga punya sistem serupa yang bisa diakses di avast.com/hackcheck/. Cara dan hasil pencariannya pun terbilang sama dengan situs di atas.

https://tendabiru21.net/movies/atm-5/


Perempuan Jadi Ujung Tombak Kemajuan UMKM Berbasis Digital


 Industri UMKM di Indonesia meningkat signifikan beberapa tahun terakhir, terutama dalam hal partisipasi perempuan yang memulai usaha mandiri di berbagai bidang.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2018, jumlah UMKM yang dikelola perempuan mencapai 64,5% dari total UMKM yang ada di Indonesia, atau mencapai 37 juta UMKM. Angka ini diyakini terus meningkat, terlebih selama pandemi.


Sementara menurut laporan Women Will dari Google, 40% perempuan berusia 25-34 tahun di Indonesia lebih memilih mendirikan usaha sendiri dibanding bekerja di perusahaan milik orang lain.


Kemajuan teknologi digital menjadi salah satu pendorong utama dari tren positif ini. Riset McKinsey memaparkan bahwa UMKM yang dijalankan oleh para perempuan menghasilkan 35% pendapatan melalui e-commerce, dibandingkan hanya 15% dari offline.


Josephine Siswanto, Owner and Managing Director of Less For More, dan Astri Zakiyyah, Owner of BWBYAZ, merupakan contoh perempuan Indonesia yang merasakan betul kemudahan memulai bisnis online di era digital masa kini.


Dengan berkolaborasi bersama e-commerce enabler Sirclo, mereka berhasil membesarkan lini fesyennya dengan pertumbuhan pembelian yang konsisten. Mereka memberikan pandangan dan cerita bisnis mereka melalui acara Women Empowerment Weeks Conference Sirclo pada tanggal 29 April lalu.

https://tendabiru21.net/movies/judge-dredd/