Sabtu, 30 November 2019

Kondisi Terkini Kompol Aditia 5 Bulan Pasca Dikeroyok di Wonogiri

Kompol Aditia Mulya Ramdhani (35), eks Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Wonogiri yang menjadi korban kekerasan bulan Mei 2019 lalu hingga kini masih belum pulih. Bahkan alat bantu masih harus terpasang.

Meski tak lagi dirawat di Singapura, Kompol Aditia tetap menjalani perawatan intensif di rumahnya, Perumahan Taman Sari Hills, Mangunharjo, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, di Blok D05/11.

Di salah satu kamar, ia terbaring dan dipasangi alat bantu nafas dan alat untuk memasukkan nutrisi makanan. Menurut keluarga, Aditia sudah mulai bisa memberikan respons saat diajak berkomunikasi.

"Alhamdulillah sekarang terus bagus perkembangannya. Bisa merespons, kalau ada teman-temannya yang datang yang dia kenal, dia merespons walaupun hanya gerakan tangan," kata Dewi Setyawati, istri Aditia di rumahnya, Jumat (18/10/2019).

Dewi menceritakan, ketiga anaknya juga mulai menerima kondisi ayahnya dan selalu memberikan semangat.

"Biasanya kalau mereka selesai belajar, pada tiduran di samping Papinya. Kalau mau berangkat sekolah juga pamitan 'Pi, berangkat sekolah dulu', pulang sekolah juga," ujarnya.

Perhatian juga diberikan dari kepolisian seperti sejumlah perwira yang menengok dan juga datangnya dokter umum maupun spesialis dari RS Bhayangkara untuk melihat perkembangan Aditia.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam di RS Bhayangkara Semarang, dr Niken Diah mengatakan perawatan di rumah dilakukan karena sudah stabil dan untuk memulihkan kondisi psikologi Aditia.

"Dekat dengan keluarga, harapannya agar cepat memulihkan kondisi psikologinya," kata Niken.  http://nonton08.com/reuni-z/

Perkembangan berupa respons ditunjukkan Aditia dengan menggerakkan tangannya. Aditia juga merespons jika ada yang datang menjenguknya. Hal itu merupakan perkembangan positif.

"Memang perkembangannya sudah bagus, sudah bisa merespons. Misal kalau tidak nyaman dipegang di bagian mananya, tangannya menarik atau bergeser, itu merespons," jelasnya.

Sementara itu Dokter Spesialis Bedah RS Bhayangkara Semarang, dr Adi Purnomo, menjelaskan alat bantu napas itu diganti tiap tiga bulan, sementara alat bantu untuk memasukkan nutrisi makanan diganti tiap enam bulan.

"Saat ini dua alat ini vital untuk kelangsungan hidup Kompol Aditia. Masih perlu dipasang karena kondisi kesadarannya yang belum memungkinkan melakukan sendiri," kata dr Adi.

Untuk diketahui, Aditia menjadi korban pengeroyokan saat melerai tawuran dua kelompok silat di Wonogiri, Jawa Tengah pada 8 Mei 2019. Akibat peristiwa itu, Aditia menderita cedera di bagian tengkorak kepalanya karena dipukuli dengan batu conblock.

Kapolri ke Singapura, Besuk AKP Aditia Mulya Korban Pengeroyokan Massa

Kapolri Jenderal Tito Karnavian terbang ke Singapura. Dia menjenguk mantan Kasat Reskrim Polres Wonogiri AKP Aditya Mulya yang dirawat di rumah sakit akibat dikeroyok massa.

Kapolri membesuk AKP Aditya di Singapore General Hospital, Selasa (4/6/2019). Kapolri didampingi oleh Kepala RS Polri Brigjen dr. Musyafak, Koorspripim Polri Kombes Ferdy Sambo, dan Atase Polri di Singapura Kombes Joko Setiono.

Dalam pertemuan, Kapolri menyampaikan seluruh biaya perawatan hingga sembuh akan ditanggung Polri. Selain itu, Kapolri juga memastikan AKP Aditya akan mendapat pangkat kenaikan luar biasa.

Kapolri juga menyerahkan bantuan yang diterima langsung oleh istri AKP Aditya. Kapolri berpesan agar seluruh keluarga bersabar dan tabah dalam menghadapi ujian ini.

Di mata Kapolri, AKP Aditya Mulya adalah sosok yang berani dan bertanggung jawab dalam melaksanakan tugas yang diemban.

AKP Aditya Mulya menjadi korban pengeroyokan oleh massa saat melaksanakan tugas pengamanan perkelahian antar perguruan silat di Wonogiri pada 8 Mei 2019. Pada 16 Mei 2019, AKP Aditya Mulya dirujuk ke Singapore General Hospital untuk mendapatkan perawatan intensif lanjutan.  http://nonton08.com/total-chaos/

Unggah Video Mesum Selingkuhnya, Camat Sunarto Ditahan Polda Jateng

Sunarto, seorang camat di Wonogiri, Jawa Tengah, ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan oleh polisi setelah video mesum dirinya dengan perempuan bukan istrinya yang dinggahnya sendiri sebagai status whatsapp.

Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Iskandar Fitriana Sutisna, mengatakan camat Karangtengah, Wonogiri itu kini berada di Polda Jateng dan sedang ditangani Direktorat Reskrimum.

"Untuk tersangka Camat Karangtengah sudah ditahan di Ditreskrimum Polda Jateng," kata Iskandar lewat pesan singkat, Jumat (29/11/2019).

Wanita pasangan mesum Sunarto dalam video tersebut saat ini berstatus korban dan 5 saksi sudah diperiksa polisi. Iskandar menyebutkan tersangka melanggar UU No 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik pasal 45.

"Ancaman hukuman maksimal 6 tahun dan atau denda maksimal Rp 1 miliar," pungkasnya. https://nonton08.com/my-trip-my-adventure-the-lost-paradise/

Selain itu tersangka juga dijerat Pasal 29 UU RI No 44 tahun 2008 yang berbunyi 'setiap orang yang memproduksi, membuat, menyebarluaskan, menyiarkan, mengimpor atau ekspor, memperjualbelikan, menyewakan, menyediakan pornografi. Ancaman pidananya 6 bulan hingga 12 tahun dan atau pidana denda Rp 250 juta hingga Rp 6 miliar.

Bupati Wonogiri Joko Sutopo mengatakan yang bersangkutan kini sudah dipecat dari jabatan Camat. Untuk status ASN dari S masih menunggu proses hukum.

"Yang bersangkutan sudah kami berhentikan dari jabatannya sebagai camat, sejak Selasa (26/11) malam. Hal itu kami lakukan setelah mendapatkan bukti dan pengakuan dari yang bersangkutan," kata Joko.

Pasang Status WA Video Mesum, Camat Karangtengah Wonogiri Dipecat

Camat Karangtengah, Wonogiri, Sunarto (55) dipecat dari jabatannya. Pasalnya dipersalahkan karena mengunggah video asusila di status whatsapp (WA).

"Yang bersangkutan sudah kami berhentikan dari jabatannya sebagai camat, sejak Selasa (26/11/2019) malam. Hal itu kami lakukan setelah mendapatkan bukti dan pengakuan dari yang bersangkutan," tegas Bupati Wonogiri Joko Sutopo kepada detikcom, di Pendopo Rumah Dinas Bupati Wonogiri, Jumat (29/11/2019).

Menurut Bupati, tindakan Sunarto mengunggah rekaman video berisi adegan asusila melalui status WA sangat mencerminkan ketidakprofesionalan selalu pelayan publik. Juga dianggap mencederai jabatan dan ASN.

"Jelas kami sangat prihatin, itu mencederai profesionalitas dalam bekerja," tandas dia.

Pemecatan itu juga dalam rangka menjaga kondusifitas suasana di tengah masyarakat, terutama di Kecamatan Karangtengah.

Namun pemecatan itu sebatas dari jabatan dia sebagai camat. Sedangkan sanksi dari statusnya sebagai ASN masih menunggu proses hukum yang berjalan.

"Biarkan proses hukum berjalan, kita hormati bersama, kita percaya pihak berwenang tentu bekerja secara profesional," ujar Bupati.  http://nonton08.com/minggu-pagi-di-victoria-park/