Kamis, 26 Desember 2019

Belum Banyak yang Tahu, Ini Simbol Toleransi & Perdamaian di Papua

Fakfak di Papua Barat menyimpan suatu simbol toleransi dan perdamaian. Namanya satu tungku tiga batu.

"Dalam budayanya, masyarakat Fakfak sangat toleran. Itu tercermin dari filosofi satu tungku tiga batu," kata Peneliti Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto membuka percakapan dengan detikcom, Jumat (6/9/2019).

Hari menjelaskan, posisi masing-masing batu teratur, untuk menopang sebuah periuk tanah liat. Sehingga jika salah satu batu berubah posisi atau hilang maka tidak bisa digunakan untuk memasak.

"Arti filosofi ini adalah masyarakat Fakfak sangat toleran terhadap perbedaan. Dalam satu keluarga besar, biasanya anggota keluarga berbeda agama, tetapi mereka tidak pernah konflik. Sejak zaman dahulu, masyarakat Fakfak terbuka dengan masyarakat baru yang datang dari luar," paparnya.

Buktinya, pada abad ke-17 pedagang Muslim dari Bugis, Makassar, Ternate, Tidore sudah datang di Fakfak, mereka berdagang serta berdakwah. Bahkan pada abad ke-18, pedagang Tionghoa dan pedagang Arab juga datang ke wilayah ini.

"Masyarakat Fakfak sangat menghormati dan menghargai orang lain. Berbagai persoalan akan diselesaikan secara adat melalui mekanisme musyawarah adat," kata Hari.

Masjid Patimburak di Kampung Patimburak, Distrik Kokas, juga mencerminkan filosofi satu tungku tiga batu. Masjid ini dibangun pada tahun 1800-an secara gotong royong antara keluarga Muslim dibantu oleh keluarga Katolik dan keluarga Kristen Protestan.

Menurut Hari, filosofi satu tungku tiga batu merupakan bentuk kearifan lokal masyarakat Fakfak. Filosofi ini perlu digali kembali dan kalau perlu diajarkan di sekolah-sekolah.

"Filosofi Satu Tungku Tiga batu dapat digunakan sebagai bentuk pendidikan literasi digital guna menangkal berkembangnya hoaks," tutupnya.

Salat Jumat Syahdu di Jerman

 Siapa bilang di Jerman tidak bisa menunaikan Salat Jumat? Jumatan di Jerman bahkan suasananya lebih syahdu dan khidmat. Contohnya ada di Masjid Central Cologne.

Willkommen in Deutschland!
Selamat Datang di Jerman!

Ein Kaffee und Pretzel, bitte!

Selamat menikmati hamparan pesona alam yang menjinakkan mata, mendinginkan hati, menyejukan kalbu dan menyenangkan rasa dimulai dari deretan pegunungan, liarnya hutan, beningnya danau, riak serunai aliran sungai, dan suhu yang tepat untuk sekedar memulai hari dengan secangkir kopi hitam dan sebuah pretzel asin yang baru saja diangkat dari oven Bckerei sebelah. Hmm, aromanya menyenangkan perut.

Bckerei/toko bakeri ini milik orang Jerman, namun semua pekerjanya imigran dari Turki. Dari beberapa dekade lalu, kota Cologne yang terletak di bagian Jerman Barat merupakan cultural hub, kota penghubung budaya yang beraneka.

Ada yang dari negara tetangga seperti Belanda, Austria dan Prancis, dan sebagian lainnya berasal dari bauran budaya para imigran, mulai dari Kenya, Ghana dan sebagian besar dari imigran Turki.

Para imigran Turki tumbuh pesat dan besar di Cologne, pada awalnya mereka datang ke Cologne sebagai pekerja lepas yang datang dan menginap pada weekdays/hari kerja dan pulang kembali pada setiap akhir pekan/weekend, dengan populasi mereka yang meningkat disertai dengan tingkat pendidikan mereka yang mulai mendominasi wajah perguruan tinggi di Jerman, khususnya di Cologne membuat komunitas imigran Turki bukan hanya sebagai pekerja lepas atau pekerja kasar saja. Mereka tumbuh besar dan kuat di negara federal ini.

Meskipun mereka sudah menetap puluhan tahun di Cologne dan sebagian telah menjalani Neutralisation, pindah kewarganegaraan, namun akar mereka tetap kokoh, tidak bagaikan kacang lupa akan kulitnya, para imigran Turki ini membentuk organisasi yang melindungi para imigran dan upaya dalam pemenuhan hak-haknya termasuk hak menjalankan ibadah agama.

Nah, beberapa mushalla dan masjid dibangun dibeberapa tempat di kota Cologne, umumnya tidak berukuran besar dan bukan dijalan utama, namun sejak kisaran tahun 2015 lalu para Muslim di Cologne dibawah naungan organisasi Islam Turki menggalang dana untuk mendirikan Masjid berukuran besar yang bisa memuat banyak orang. Dilengkapi dengan pustaka pusat Kajian Islam dan juga terbuka buat umum untuk sekedar berkunjung dan menikmati megahnya arsitektur dan indahnya porcelein atap yang mengukir lembutnya kaligrafi Asmaul Husna.

Berlokasi dijalan utama Verlour Strasse, Masjid Central Cologne ini sangat mudah diakses. Hanya 11 menit berkendara dengan tram dari pusat perbelanjaan terkini Neumarkt, sekitar 15 menit berjalan kaki atau 5 menit menaiki taxi dari Cologne Dom/Cathedral.

Masjid dua lantai ini dilengkapi dengan sistem penyimpanan sepatu yang canggih, seperti sistem parkir mobil di mall terkemuka di Ibukota Jakarta. Tempat sholat pria dan wanita juga terpisah, wanita berada dilantai dua begitu juga tempat berwudhu, tempat peminjaman mukenah, serta tempat menyimpan jaket.

Jantho, Kota yang Terlupakan di Aceh

Jantho adalah Ibukota dari Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Kota ini sekarang sedikit terlupakan. Padahal suasananya asri dan asyik buat liburan.

Jantho merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Aceh Besar yang dapat dikatakan termasuk daerah terpencil dan para penduduk daerah ini sebagian besar berprofesi sebagai petani. Jantho dijadikan sebagai ibukota sejak tahun 1976 sesuai peraturan pemerintah Republik Indonesia no 35 tahun 1976 tentang pemindahan ibukota Kabupaten daerah Aceh Besar dari wilayah Banda Aceh.

Salah satu tujuan dipindahkan ibukota ini ke daerah Jantho agar pemukiman tepencil di Lembah Salawah ini ikut merasakan kemajuan perekonomian dan pembangunan kemakmuran kota. Ibukota ini bisa terwujud karena adanya 7 desa yang dihibahkan oleh masyarakat Jantho, yaitu kampung baru, terbe, jantho lama, weu, jalin, mbung, dan tacue. Desa itulah yang mendukung pembangunan Ibukota Aceh Besar.

Perjalanan menuju Jantho pada tahun 2015, saya menggunakan bus dengan teman-teman seperjuangan, dalam rangka kegiatan giat prestasi pramuka Provinsi Aceh, kami menempuh perjalanan dari Kota Langsa ke Jantho selama 9 jam. Perjalanan ke daerah tersebut bisa menempuh jalan darat melintasi jalan Medan-Banda Aceh.

Untuk perjalanan menuju ke pusat kota Jantho dari jalan raya bisa menempuh waktu lebih kurang 25 menit bisa menggunakan sepeda motor, bus, dan kendaraan lainnya. Akses jalan menuju Ibukota Kabupaten Aceh Besar ini sangat mudah dan indah. Jalanan dengan aspal yang bagus dan pemandangan yang indah dengan pepohonan yang rimbun serta deretan bukit yang membuat perjalanan terasa sangat nyaman dan tenang.

Jika dibandingakan dengan ibukota daerah yang lain, Ibukota Kabupaten Aceh Besar ini terkenal dengan sebutan kota mati, karena tidak banyak orang yang mengunjungi daerah ini untuk dijadikan tempat wisata dan tujuan liburan keluarga di akhir pekan.

Meskipun merupakan jantung Kabupaten Aceh Besar, masyarakat lupa akan keindahan alam di kota ini, perbukitan yang sangat indah seakan melindungi Kota Jantho dari keramaian dan polusi kota, saya jadi teringat ketika kami melakukan penjelajahan dalam kondisi yang sulit saat kami merasa tersesat di atas perbukitan yang tidak jelas arah dan tujuannya, namun seakan suasana di sekitar yang sejuk dan pepohonan rindang mendukung kami untuk tetap tenang, untuk senantiasa menikmati keindahan suasana ini dan tetap berjalan mengikuti kata hati hingga sampailah pada lokasi tujuan kami.

Tidak lupa Jantho ini merupakan daerah tempat kelahiran dan dibesarkannya salah satu pahlawan Aceh yaitu Cut Nyak Dhien dan beberapa raja-raja, bangsawan Aceh yang lahir dan dikebumikan di Kota Jantho.

Kota ini juga memiliki beberapa bangunan yang tidak kalah indah dan megahnya dengan kota-kota yang lain salah satunya yaitu, Kantor Bupati di Kota Jantho ini sangat menawan dan bisa memukau setiap orang dengan perpaduan design bangunan Arab dan Eropa yang dimilikinya, kota ini juga diramaikan dengan keberadaan mesjid Agung Al-Munawwarah yang megang.

Menurut penulis, meski banyak masyarakat yang lupa akan keindahan kota ini, namun sebuah anugrah dan keistimewaan saya dapat merasakan kota yang sangat astri dan suasana yang alami jauh dari polusi dan hiruk pikuk seperti kota lainnya, dan kota ini tidak mati karena setiap hari waktu kerja banyak para pegawai yang tetap menjalankan kewajibannya untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di sekitar, hal ini merupakan suatu keistimewaan tersendiri dari kota Jantho.

Jika saya diberi kesempatan untuk bisa traveling ke Dubai, saya ingin mengabadikan keindahan kota dubai yang sangat mewah dan megah, serta belajar untuk lebih mengenal bagaimana kehidupan masyarakat di Dubai sehingga mereka bisa menjadi negara yang sangat maju seperti saat ini.

Momen ini akan saya abadikan untuk manfaat juga bagi orang di sekitar saya agar menjadi motivasi bagi semua orang bahwa jika ada keinginan dan tekad yang kuat untuk berusaha semua orang bisa mendapatkannya hingga ke ujung dunia sekalipun, meski banyak cobaann yang harus di lewati, tidak boleh khawatir gagal, tapi khawatirlah dengan kesempatan yang hilang karena tidak pernah mencoba.