Kamis, 26 Desember 2019

Menemukan Coban Nirwana, Hidden Gem di Malang

Malang punya banyak coban alias air terjun yang menarik untuk dikunjungi. Salah satunya Coban Nirwana yang belum banyak orang tahu. Hidden Gem di Malang nih!

Pernah nggak tersesat pas traveling? Bagaimana rasanya? Senang, sedih, khawatir, tertantang, dan lain - lain pasti tercampur aduk jadi satu. Itu juga yang kami rasakan ketika kami tersesat. Tetapi pada akhirnya kami menemukan 'surga kecil' di Malang.

Awalnya saya dan beberapa teman saya berencana akan menjelajahi beberapa tempat wisata alam di Malang seperti Coban Rondo. Tetapi kami kehilangan arah sehingga secara tidak sengaja kami malah menemukan Coban Nirwana.

Sebelumnya kami tidak begitu mengetahui bagaimana bentuk alam ini. Ketika kami mencari tahu di internet, tidak terlalu banyak yang membahas tempat ini. Ada yang menyebut nama tempat ini Coban Gedangan, karena tempatnya di daerah Gedangan, Malang. Ada pula nama - nama lain seperti Coban Mbok Karimah atau Tundo Nirwana.

Petualangan kami dimulai ketika salah satu teman saya yang menyetir mobil mengantuk sehingga kehilangan fokus. Hal ini mengakibatkan kita tersesat, memasuki tempat sepi penuh dengan bebatuan sehingga ban mobil yang kami naiki meletus. Setelah beberapa menit kami mengganti ban mobil kami.

Kami harus berjalan kaki karena mobil yang kami naiki tidak bisa berjalan dengan beban 7 orang di dalamnya. Ketika kami berhasil melewati jalan tersebut, kami mencoba bertanya kepada warga lokal wilayah tersebut dan mendapati bahwa tidak jauh dari wilayah ini ada tempat wisata yang jarang dikunjungi orang.

Kami pun penasaran dan akhirnya menuju ke sana. Lokasi air terjun ini sekitar 50 km dari kota Malang, kurang lebih dibutuhkan waktu selama 90 menit perjalanan untuk menuju Kecamatan Gedangan.

Di kecamatan Gedangan, usahakan mengikuti google map atau bisa tanya langsung saja ke warga setempat kalau ingin mengetahui rute ke sana karena belum ada petunjuk jalan untuk menuju ke air terjun Coban Nirwana ini.

Akses jalan bisa dibilang cukup bagus dan beraspal, hanya beberapa kilometer sebelum sampai di lokasi saja ada sedikit yang tidak rata dan berlubang. Hati - hati ya, di sini kami melewati jalan yang naik turun dan banyak tikungan tajam.

Perjalanan menuju Coban Nirwana ini melewati Gondanglegi- Sidorejo-Clumprit-Putat-Sunber Nanas-Gedangan. Kemudian ketika mendekati arah Pantai Bajul Mati dan sekitar pemakaman, saya dan teman - teman harus memarkirkan mobil karena kami harus melanjutkan dengan trekking.

Trekking diperkirakan sejauh 200 meter dengan jalan menurun, berlubang dan licin. Memang terlihat cukup menantang bagi kami, tetapi perjalanan kami terbayar lunas ketika kita sampai di Coban Nirwana.

Saya dan teman-teman sangat terkejut karena pemandangan Coban Nirwana ini sungguh luar biasa. Selain itu hanya kami bertujuh saja yang ada di sana. Jadi tempat ini rekomendasi banget apabila kita ingin menenangkan diri dari keramaian kota.

Suasana alam, air terjun, udara yang sejuk hingga air yang jernih membuat saya dan teman-teman lupa sejenak untuk kembali ke villa. Dikarenakan Coban Nirwana masih sangat jarang dikunjungi wisatawan, sebaiknya pengunjung membawa perlengkapan pada waktu datang ke sini. Belum tersedia warung tempat makan, toilet, dan fasilitas-fasilitas lain. Benar-benar masih alami banget.

Kabar gembiranya, untuk datang ke Coban Nirwana tidak diperlukan membayar tiket masuk. Saya dan teman-teman hanya memberi uang seiklasnya ketika kami menitipkan mobil kami di dekat rumah warga. Karena kami harus menelusuri jalan dan persawahan dengan berjalan kaki.

Terlalu banyak yang ingin kami explore. Hanya kami tidak dapat mendatangi semua wisata alam dalam sehari. Maka esoknya, kami mencoba petualangan kami di beberapa tempat alam seperti Teluk Asmara, Coban Putri, Goa Pinus, dan lain-lain.

Bicara tentang "surga tersembunyi" atau Hidden Gem yang kami berhasil temukan di Malang, saya juga ingin menemukan beberapa lokasi indah yang tidak banyak ditemukan orang banyak tetapi sangat ingin saya kunjungi.

Tujuan saya berikutnya adalah menemukan Hidden Gem di Dubai dan melakukan aktivitas seru seperti melihat ratusan burung dan spesies reptil di Mangroves di Abu Dhabi, bersantai di pantai Pulau Delma, berpiknik di Dig Daga Farms, melihat Bukit pasir fosil Al Wathba, bersepeda di Al Qudra Cycle Path, mendaki gunung Jebel Jaiz, trekking dan melihat sungai di Wadi Shawka. Wow seru banget pastinya ya!

Salat Jumat Syahdu di Jerman

 Siapa bilang di Jerman tidak bisa menunaikan Salat Jumat? Jumatan di Jerman bahkan suasananya lebih syahdu dan khidmat. Contohnya ada di Masjid Central Cologne.

Willkommen in Deutschland!
Selamat Datang di Jerman!

Ein Kaffee und Pretzel, bitte!

Selamat menikmati hamparan pesona alam yang menjinakkan mata, mendinginkan hati, menyejukan kalbu dan menyenangkan rasa dimulai dari deretan pegunungan, liarnya hutan, beningnya danau, riak serunai aliran sungai, dan suhu yang tepat untuk sekedar memulai hari dengan secangkir kopi hitam dan sebuah pretzel asin yang baru saja diangkat dari oven Bckerei sebelah. Hmm, aromanya menyenangkan perut.

Bckerei/toko bakeri ini milik orang Jerman, namun semua pekerjanya imigran dari Turki. Dari beberapa dekade lalu, kota Cologne yang terletak di bagian Jerman Barat merupakan cultural hub, kota penghubung budaya yang beraneka.

Ada yang dari negara tetangga seperti Belanda, Austria dan Prancis, dan sebagian lainnya berasal dari bauran budaya para imigran, mulai dari Kenya, Ghana dan sebagian besar dari imigran Turki.

Para imigran Turki tumbuh pesat dan besar di Cologne, pada awalnya mereka datang ke Cologne sebagai pekerja lepas yang datang dan menginap pada weekdays/hari kerja dan pulang kembali pada setiap akhir pekan/weekend, dengan populasi mereka yang meningkat disertai dengan tingkat pendidikan mereka yang mulai mendominasi wajah perguruan tinggi di Jerman, khususnya di Cologne membuat komunitas imigran Turki bukan hanya sebagai pekerja lepas atau pekerja kasar saja. Mereka tumbuh besar dan kuat di negara federal ini.

Meskipun mereka sudah menetap puluhan tahun di Cologne dan sebagian telah menjalani Neutralisation, pindah kewarganegaraan, namun akar mereka tetap kokoh, tidak bagaikan kacang lupa akan kulitnya, para imigran Turki ini membentuk organisasi yang melindungi para imigran dan upaya dalam pemenuhan hak-haknya termasuk hak menjalankan ibadah agama.

Nah, beberapa mushalla dan masjid dibangun dibeberapa tempat di kota Cologne, umumnya tidak berukuran besar dan bukan dijalan utama, namun sejak kisaran tahun 2015 lalu para Muslim di Cologne dibawah naungan organisasi Islam Turki menggalang dana untuk mendirikan Masjid berukuran besar yang bisa memuat banyak orang. Dilengkapi dengan pustaka pusat Kajian Islam dan juga terbuka buat umum untuk sekedar berkunjung dan menikmati megahnya arsitektur dan indahnya porcelein atap yang mengukir lembutnya kaligrafi Asmaul Husna.

Berlokasi dijalan utama Verlour Strasse, Masjid Central Cologne ini sangat mudah diakses. Hanya 11 menit berkendara dengan tram dari pusat perbelanjaan terkini Neumarkt, sekitar 15 menit berjalan kaki atau 5 menit menaiki taxi dari Cologne Dom/Cathedral.

Masjid dua lantai ini dilengkapi dengan sistem penyimpanan sepatu yang canggih, seperti sistem parkir mobil di mall terkemuka di Ibukota Jakarta. Tempat sholat pria dan wanita juga terpisah, wanita berada dilantai dua begitu juga tempat berwudhu, tempat peminjaman mukenah, serta tempat menyimpan jaket.

Maklum saja, jika winter/musim dingin suhu bisa berada di kisaran 5-0 derajat Celcius, jaket yang digunakanpun bisa berlapis lima. Pada lobby utama lantai dasar ada pintu penjagaan yang lumayan ketat, ada dua orang berseragam dilengkapi dengan senjata laras panjang.

Eitsss...jangan takut, mereka semuanya ramah asalkan kita memang bertujuan untuk ibadah. Dan juga diperbolehkan untuk mengambil gambar atau foto sejauh tidak berisik dan tidak pada saat sedang sholat berjamaah.

Ternyata indah sekali bisa menunaikan sholat di bawah naungan megahnya Masjid Central Cologne sembari berada di tengah akrabnya keberagaman warga Turki.