Jumat, 27 Desember 2019

Siapkan Rp 100 M, Pemerintah Akan Percantik Situ Bagendit

Pemerintah RI berjanji akan menyulap kawasan wisata Situ Bagendit di Garut jadi objek wisata top kelas nasional. Anggaran Rp 100 M pun sudah disiapkan.

Menteri Pariwisata RI Arief Yahya mengatakan, mulai tahun depan Situ Bagendit akan didandani.

"Update untuk Situ Bagendit, tadi saya rekonfirmasi terakhir, biar masyarakat Garut tenang, tetap akan dibangun sebagai destinasi tingkat nasional," ujar Arief kepada wartawan di Situ Cangkuang, Kecamatan Leles, Garut, Senin (2/9/2019).

Arief mengatakan, pemerintah pusat, melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sudah menyiapkan anggaran untuk mempercantik objek wisata Situ Bagendit yang terletak di Kecamatan Banyuresmi tersebut.

Anggarannya Rp 100 Miliar. "Anggarannya sudah tersedia di PUPR, Rp 100 M," ujar Arief.

Proses pembangunan akan dimulai tahun depan. Tahun ini, prosesnya sedang dalam tahap pematangan desain. Arief berharap Situ Bagendit jadi objek wisata kelas nasional.

"Tahun ini diselesaikan desain dan detailnya. Tahun depan, konstruksinya. Jadi diharapkan di sana tahun depan sudah jadi destinasi kelas nasional," katanya.

Sementara itu, pemerintah sendiri serius dalam proses pengembangan Situ Bagendit jadi destinasi wisata tingkap nasional. Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil beberapa waktu lalu bahkan sudah membuat desain masjid terapung yang rencananya akan dibangun di kawasan wisata itu.

Heboh Penginapan Airbnb Berhantu, Turis Diajak Uji Nyali

Cerita soal hantu juga ada di Amerika Serikat. Suatu penginapan Airbnb, mengundang turis untuk bermalam dan uji nyali menghadapi teror hantu!

Dirangkum detikcom dari berbagai sumber, Senin (2/9/2019) penginapan tersebut bernama The Hobo Hill House. Lokasinya di Jefferson City, Negara Bagian Missouri, AS.

Ceritanya begini, rumah tersebut sudah berumur 100 tahun dan tidak ditempat dalam jangka waktu yang lama. Di tahun 2017, sepasang suami istri Aaron dan Erin Clark membelinya.

Mereka merombak rumahnya menjadi hunian idaman. Waktu terus berjalan, hingga kemudian keanehan-keanehan mistis bermunculan.

"Kami banyak mengalami aktivitas paranormal di dalam rumah, yang mungkin terdengar konyol," kata Aaron.

Menurut Aaron, seringkali televisi, lampu, pemanas ruangan hingga kran air nyala sendiri. Anjing mereka pun tidak berani mendekati area tertentu di dalam rumah seperti tangga dan ruang bawah tanah.

"Banyak suara-suara aneh, seperti 'hai' atau 'halo' yang memanggil di dalam rumah," ujar Aaron.

Puncaknya, anak mereka yang berusia 8 tahun seringkali berbicara sendiri. Malah, pernah kerasukan!

"Putri kami (Raena), kadang-kadang suka menangis tanpa sebab. Pernah suatu waktu, awalnya menangis lalu dia tertawa dengan senyum yang aneh," ungkap Aaron.

"Setelah itu, saya dan istri pernah melihat sosok besar dengan jubah hitam," tambahnya.

Ruangan bawah tanah, yang mana anjing peliharaan Aaron tak berani ke sana (Airbnb)Ruangan bawah tanah, yang mana anjing peliharaan Aaron tak berani ke sana (Airbnb)

Mereka sekeluarga sempat membeli rumah lain dan meninggalkan The Hobo Hill House selama 7 bulan. Aaron ingin menjualnya, tapi rasanya tidak ada yang berminat membeli rumah tersebut karena cerita-cerita horornya.

Apalagi, beberapa acara TV di AS soal yang mistis-mistis pernah mengulas tentang rumah mereka. Salah satunya The Dead Files, dari Travel Channel.

Terungkap, memang banyak hantu di sana!

"Syukurlah, ternyata kami tidak gila. Memang ada hantunya," tutur Aaron.

Aaron pun punya ide. Dia menjadikan rumah tersebut sebagai penginapan dan menyewakannya di website penyewaan akomodasi Airbnb. Disertai dengan tagline 'berani uji nyali di sini?'.

Dalam penelusuran detikcom di website Airbnb, The Hobo Hill House mampu menampung hingga 10 tamu. Ada 5 kamar dan 3 kamar mandi, fasilitas di dalamnya pun lengkap.

Berjumpa Istana yang Tak Lagi Utuh di India (3)

Selain Rana Kumbha Palace, kompleks Chittorgarh Fort memiliki beberapa istana lain dan kuil, satunya di antaranya adalah Meera Temple. Berbeda dengan Rana Kumbha Palace yang sepi, kuil-kuil di kompleks ini cukup ramai dikunjungi sebagai destinasi wisata religi oleh warga lokal. Mereka juga berziarah ke salah tempat yang dianggap sakral oleh umat Hindu, yaitu Gaumukh Reservoir, sebuah penampungan air yang dibatasi langsung oleh tembok benteng. Airnya yang hijau dipenuhi ikan, dan para peziarah biasanya memberi makan ikan-ikan tersebut.

Saya cukup lama menghabiskan waktu di Gaumukh Reservoir sambil memandang bentang kota Chittor dari atas. Angin semilir dan langit yang agak mendung menciptakan suasana yang nyaman untuk jalan-jalan.

Dari Gaumukh Reservoir, sopir tuktuk mengantar saya ke kompleks istana lain, Fateh Prakash Palace dan Rani Padmini Palace untuk melengkapi napak tilas sejarah Chittorgarh Fort. Konon, istana Rani Padmini alias Padmavaat dibangun di samping kolam teratai. Saat Alaudin Khilji meminta Ratan Singh untuk memperlihatkan wajah istrinya, Padmavaat berdiri di atas kolam, dan Khilji melihat pantulan wajah cantik itu pada air kolam.

Saat ini, istana Rani Padmini sudah tak utuh lagi. Hanya tersisa sebuah bangunan tua yang berdiri kesepian berlumur kenangan dari masa ke masa. Beberapa bagian temboknya berlumut dan mengelupas. Air hijau keruh menggenang di sampingnya.

Waktu sudah menunjukkan hampir jam 1 siang ketika saya keluar dari kompleks Fateh Prakash Palace. Saya pikir ini pemberhentian terakhir. Tapi ternyata, sopir tuktuk masih membawa saya ke spot lain, yakni salah satu gate Chittorgarh Fort. Gerbang itu masih kokoh berdiri hingga ini, diapit tembok benteng yang tinggi di kanan kirinya.

Hari semakin siang, dan langit mulai gelap. Kami segera melanjutkan perjalanan karena khawatir akan turun hujan. Sejenak sebelum pergi, saya menatap tembok benteng tua itu lekat-lekat. Kalau dipikir-pikir, ini perjalanan yang gila.

Saya rela menempuh perjalanan jauh, terbang dari Indonesia. Ditambah 16 jam perjalanan dengan kereta murah dari Agra. Lelah dan perjuangan menuju tempat ini memang tidak dibayar dengan megahnya istana-istana cantik khas India. Justru yang tersaji adalah bangunan yang tak lagi utuh, dibingkai tembok benteng yang kusam. Tapi saya puas setelah memenuhi rasa ingin tahu dan ingin menjejak Chittorgarh Fort secara langsung.

Perjalanan ini adalah salah satu extraordinary traveling yang pernah saya lakukan. Saya tak pernah menyesalinya. Kata pepatah Asia, Better to see something once than to hear about it a thousand times.

Saya tidak berhenti memimpikan extraordinary traveling lainnya, dan berusaha mewujudkannya. Dubai, kota megah di United Arab Emirates (UAE) ini telah lama mencuri perhatian saya, masuk dalam daftar tempat yang ingin saya kunjungi.

Membaca perjalanan Dubai dari perkampungan nelayan dan pelabuhan dagang yang miskin menjadi kota megah dengan bisnis yang berkembang pesat, membuat saya bertekad untuk mengunjungi kota ini, suatu saat nanti. Saat membaca pengumuman dari Detik Travel tentang Dream Destination, rasanya saya menemukan jalan. Dubai terasa selangkah lebih dekat. One step closer ....

Burj Khalifa yang iconic menjadi destinasi wajib saat ke Dubai. Salah satu keinginan saya adalah berfoto mengenakan kebaya di depan menara tertinggi di dunia ini. Berikutnya, saya akan menikmati tarian The Dubai Fountain. Air mancur yang mampu menyemburkan air setinggi gedung 50 lantai ini bisa dikatakan terbesar di dunia ini. Tak lupa, The Big Red juga menjadi destinasi yang paling ingin saya kunjungi.

Sebagai kota di Timur Tengah, padang pasir menjadi pemandangan yang khas. Dan, Big Red yang merupakan hamparan padang pasir berwarna kemerahan ini sangat layak dikunjungi. Dari Big Red, saya ingin berali ke Palm Jumeirah, pulau buatan dengan luas 4 juta meter persegi. Mengelilingi pulau dan menjajal berbagai atraksinya pasti menyenangkan dan tak terlupakan.

Selain tujuan-tujuan tersebut, masih ada Al-Saeef, Bluewater Island, dan tentu saja Dubai Mall yang ingin saya kunjungi jika jalan-jalan ke Dubai. Selebihnya, saya yakin Dubai dengan segala kemegahannya akan memberi pengalaman tak terlupakan yang terangkum dalam Extraordinary Journey bersama Detik Travel dan Dubai Tourism Board.