Sabtu, 28 Desember 2019

Koyasan, Kota Sakral di Negeri Sakura yang Mendunia (4)

Wah, ternyata kualitas makanan di Kumagaiji memang enak sesuai testimoni yang pernah saya baca sebelumnya dan porsi nasinya lumayan banyak. Tetapi, memang rasa kenyangnya sayur-sayuran tidak membuat perut begah seperti kenyang daging yang membuat saya lebih fit dalam melanjutkan perjalanan.

Walaupun saya bukan tipe orang yang susah makan sayur, pengalaman ini mengajarkan saya bahwa tidak selamanya kenikmatan makan sayur harus diiringi dengan dominasi bumbu yang kuat atau bawang yang banyak. Bahkan, ketidakadaan daging imitasi khusus vegetarian tidak membuat saya kangen daging. Santapan shojin ryori ini tentunya memperkaya pengalaman saya dalam berkuliner Jepang selain sushi, sashimi dan ramen yang sudah pasaran.

Secara keseluruhan, perjalanan saya ke Koyasan adalah sesuatu yang tak terlupakan dan suatu hari nanti saya ingin kembali lagi.

CARA MENUJU KOYASAN

Cara paling mudah dan praktis untuk menuju Koyasan adalah berangkat dari Osaka karena transportasinya mudah, praktis dan jarak tempuhnyang tidak terlalu jauh, hanya 90 menit. Dari stasiun Namba atau Shin-Imamiya, ambilah jalur kereta Nankai Koya Lines menuju stasiun Gokurakubashi, kemudian naik cable car selama 5 menit menuju stasiun Koyasan. Kemudian, naik bis sekitar 10 menit ke pusat kota Koyasan.

Anda juga bisa berangkat dari Wakayama City, seperti yang saya pernah lakukan, tetapi waktu yang ditempuh sedikit lebih lama. Karena setelah naik kereta JR Wakayama Line, Anda harus transit dahulu di stasiun Hashimoto untuk pindah jalur ke Nankai Koya Line menuju stasiun Gokurabashi untuk naik cable car ke stasiun Koyasan.

Saya sangat menyarankan untuk membeli Koyasan World Heritage Ticket yang berlaku untuk pulang pergi dari stasiun Namba atau Shin-Imamiya menuju Koyasan, tiket terusan atau unlimited trips dengan bis dalam kota Koyasan dan diskon tiket masuk tempat-tempat wisata utama. Tiket yang berlaku selama 2 hari berturut-turut ini dapat dibeli di stasiun Namba, Shin-Imamiya dan Hashimoto seharga 2860 Yen atau sekitar Rp 383.000.

Bagaimana, sudah siap menjelajahi kota suci Negeri Sakura sembari tinggal bersama para biksu dan uji nyali mengitari kuburan di malam hari?

MENGAPA SAYA INGIN KE DUBAI DAN APA YANG INGIN SAYA LAKUKAN DI DUBAI?

Kemegahan Dubai International Airport yang sempat saya kunjungi sekejap hanya untuk transit membuat saya memutuskan bahwa saya harus meluangkan waktu khusus untuk mengunjungi kota Dubai. Saya ingin melihat dengan mata kepala sendiri arsitektur dan interior gedung-gedung pencakar langitnya yang memukau. Variasi objek wisatanya yang bertaraf internasional pun seru-seru, dari resto dan resort eksklusif hingga yang memacu adrenalin seperti indoor ski, naik unta di gurun dan banyak lagi. Hal menarik lainnya adalah mengamati budaya dan norma Islam masyarakat lokal yang masih dipegang teguh dibalik kemegahan arsitektur modern bergaya barat.

Sesampainya di Dubai, saya ingin mengabadikan bangunan-bangunan pencakar langit dengan kamera saya, terutama di malam hari di mana cahaya lampu menerangi setiap sudut kota. Bersafari di gurun sangat saya tunggu-tunggu karena saya belum pernah melihat gurun dan tidak ada di Indonesia. Bersantai di observation deck dan sky lounge di Burj Khalifa, mengeksplor The Palm Jumeira, Mall of The Emirates dan tak ketinggalan, mengunjungi pasar tradisional di Dubai's Old Town.

Koyasan, Kota Sakral di Negeri Sakura yang Mendunia (3)

Di pagi hari di Kumagaiji, saya dan para tamu lain diberi kesempatan berpartisipasi dalam upacara pagi untuk mendoakan arwah leluhur dan homa atau upacara api untuk cleansing atau pembersihan secara spritual dan psikologis. Dalam upacara api misalnya, kami diberikan stik kayu lempeng yang sedikit lebih panjang daripada batang es krim untuk menuliskan doa-doa dan harapan, yang nantinya akan dibakar di api dalam wadah yang diletakkan di altar supaya terkabul.

Mengambil bagian sekecil apapun dalam sebuah ritual tradisional tentunya menjadikan pengalaman wisata saya jauh lebih berarti dan tak terlupakan daripada sekedar menjadi penonton.

Tentunya, masih ada beberapa kegiatan yang dapat dikerjakan di dalam kuil bila Anda ingin menikmatinya secara utuh dengan belajar meditasi, melukis di kain sutera serta kaligrafi yang masing-masing berbayar, mulai dari 500 Yen hingga 1000 Yen atau Rp. 65.000 hingga Rp. 140.000 per kelas. Berendam di kolam air panas atau onsen adalah fasilitas lain yang bisa digunakan secara gratis sebagai tamu penginapan.

Saya juga sangat menyarankan untuk mencoba santapan di dalam kuil yang menyajikan makanan vegetarian yang dikonsumsi para biksu Jepang, shojin ryori.

MAKAN MAKANAN A LA BIKSU JEPANG

Shojin ryori sudah dikenal menjadi makanan sehari-hari biksu Jepang sejak abad ke-13 seiring dengan perkembangan Budha Zen. Para pengunjung bisa menjumpai hidangan shojin ryori di restoran-restoran vegetarian di pusat kota dan penginapan dalam kuil.

Berhubung saya terlambat booking makan sore di Kumagaiji dan beberapa restoran sudah tutup setibanya saya di Koyasan, akhirnya saya hanya berkesempatan 1 kali menikmati shojin ryori sebagai makan pagi di kuil setelah ritual pagi selesai.

Pada dasarnya, bahan baku yang digunakan dalam shojin ryori mempunyai 5 warna, yaitu merah, kuning, hijau, hitam dan putih, serta mengandung 5 macam rasa dalam 1 hidangan, dari manis, asin, pahit, asam dan gurih karena keseimbangan antara rasa dan warna dipercaya memberikan keseimbangan asupan gizi sehari-hari. Pengolahan makanan pun tidak menggunakan bumbu berbau menyengat seperti bawang putih dan bawang bombay.

Pada pagi itu, saya disuguhi tumisan okra dengan saus wijen, tumisan radish dan wortel iris, sup miso dan side dish rumput laut, plum dan sejenis perkedel tofu, dihidangkan dengan nasi putih yang pulen. Sangat terasa aroma minyak wijen, kecap asin dan kaldu rumput laut menggantikan bawang-bawangan untuk menyedapkan masakan tanpa menutupi, bahkan menguatkan rasa asli sayurannya yang manis segar. Tak dipungkiri lagi bahwa kesegaran bahan baku memegang peran sangat penting dalam kenikmatan kuliner vegetarian a la Negeri Sakura ini.

Wah, ternyata kualitas makanan di Kumagaiji memang enak sesuai testimoni yang pernah saya baca sebelumnya dan porsi nasinya lumayan banyak. Tetapi, memang rasa kenyangnya sayur-sayuran tidak membuat perut begah seperti kenyang daging yang membuat saya lebih fit dalam melanjutkan perjalanan.

Walaupun saya bukan tipe orang yang susah makan sayur, pengalaman ini mengajarkan saya bahwa tidak selamanya kenikmatan makan sayur harus diiringi dengan dominasi bumbu yang kuat atau bawang yang banyak. Bahkan, ketidakadaan daging imitasi khusus vegetarian tidak membuat saya kangen daging. Santapan shojin ryori ini tentunya memperkaya pengalaman saya dalam berkuliner Jepang selain sushi, sashimi dan ramen yang sudah pasaran.