Jumat, 17 Januari 2020

Main Ski di Trans Snow World Bekasi Serasa di Pegunungan Salju

Tak hanya bermain salju, Trans Snow World Bekasi juga menyediakan banyak wahana seru untuk mengeksplorasi hamparan salju. Salah satunya adalah wahana ski. Di Ski Area, traveler bisa merasakan main ski dan berseluncur layaknya di pegunungan bersalju negara empat musim.

Ski Area merupakan satu dari lima wahana yang ada di Trans Snow World Bekasi selain Snow Area, Toboggan Area, Zorb Ball, dan Chair Lift. Kawasan Ski Area dikhususkan untuk wisatawan yang hobi atau baru ingin mencoba bermain ski dan berselancar di area menurun layaknya di pegunungan salju.

Untuk ke puncak atau ski slope, wisatawan bisa menggunakan kursi gantung atau chair lift. Jadi tak perlu mengeluarkan tenaga untuk jalan menanjak ke 'puncak'. Selama di chair lift, traveler bisa melihat hamparan salju dan pengunjung lainnya yang sedang bermain aneka wahana. Rasanya benar-benar seperti ada di pegunungan salju!

Untuk mencoba main ski, traveler tak perlu repot menyiapkan ragam perlengkapan. Sebab, Trans Snow World Bekasi menyediakan fasilitas penyewaan alat main ski dengan harga Rp 100 ribu untuk bermain sepuasnya.

Untuk merasakan serunya main salju di Trans Snow World Bekasi, traveler cukup membayar Rp 200 ribu untuk weekdays dan Rp 275 ribu untuk weekend, hari libur, dan musim liburan.

Sebagai informasi, lokasi Trans Snow World Bekasi hanya berjarak 100 meter dari Stasiun Bekasi Timur.

Cukup ke Bekasi dan tak perlu ke luar negeri untuk merasakan salju. Langsung ajak orang tersayang ke Trans Snow World Bekasi dan pilih jam bermain di www.transsnowworld.com.

Resah Isu Arabisasi, Tokoh Agama Minta Pemkab Banyuwangi Bersikap

Wisata halal yang dikembangkan Pemkab Banyuwangi disebut Arabisasi oleh sebagian netizen. Resah dengan ini, tokoh agama dan budayawan minta Pemkab bersikap.

Segmentasi wisata halal di Banyuwangi dengan mengembangkan pantai syariah beberapa tahun silam jadi perbincangan yang cukup hangat di media sosial beberapa waktu terakhir. Ada tulisan yang menuding konsep itu sebagai bentuk Arabisasi.

Tuduhan tersebut mendapat respons keras dari sejumlah tokoh lintas agama dan budayawan Banyuwangi. Mereka menggelar pertemuan dengan pejabat Pemkab Banyuwangi, di Pendopo Sabha Swagata Blambangan Banyuwangi, Sabtu (29/6/2019).

Ketua I Majelis Ulama Indonesia (MUI) Banyuwangi KH Nur Khozin menyebut pengembangan pariwisata halal di Banyuwangi sama sekali jauh dari Arabisasi.

"Arabisasi itu berarti menerapkan budaya Arab. Di Banyuwangi tidak ada seperti itu," ujarnya.

Perwakilan dari Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Banyuwangi I Komang Sudira mengatakan, pengembangan wisata dan kebudayaan di Banyuwangi telah berjalan dengan sangat baik dan menghargai keberagaman. Seni-budaya berbasis kearifan lokal Suku Osing (masyarakat asli Banyuwangi) digelar rutin dan semarak.

"Sampai saat ini, tidak saya temukan upaya untuk memaksakan nilai-nilai agama tertentu yang dapat merusak keberagaman yang ada. Apalagi dalam hal kebudayaan dan kesenian," terangnya.

Ketua Badan Musyawarah Antar Gereja (BAMAG) Banyuwangi Pendeta Anang Sugeng Sulistiyo mengatakan, kebudayaan dan kesenian yang berkembang dari suku Osing selama ini berlaku universal. Dia mencontohkan Tari Gandrung yang tak hanya ditarikan warga beragama tertentu. Anak-anak muda lintas agama juga menarikannya dalam berbagai festival seni yang ada di Banyuwangi.

"Semua agama bisa menarikannya. Baik muslim, Hindu, Kristen, Budha dan lainnya, semuanya bisa menarikannya. Jadi, tak ada pemaksaan sebagaimana yang dituduhkan dengan istilah arabisasi itu," tutur Pendeta Anang.

Pengalaman Menjelajahi Puncak Gunung Tertinggi di Jawa (2)

Setelahnya kami mulai menikmati suasana sejuk di Kalimati dan juga pemandangan puncak Mahameru yang terpampang jelas. Sekitar pukul 5 sore kami beristirahat untuk melanjutkan pendakian ke puncak Mahameru pada pukul 11 malam. 11 malam waktunya bagi kami untuk melanjutkan perjalanan ke puncak Mahameru.

Bagi kalian yang kondisi fisiknya kurang baik jangan memaksakan untuk melanjutkan perjalanan karena medannya cukup menguras banyak tenaga. Bawalah peralatan secukupnya, tidak perlu membawa barang yang berat.

Jalur yang kami lewati cukup berat karena yang kita tapak adalah pasir yang mudah longsor, sehingga harus berhati-hati dan juga waspada bila ada bebatuan yang ikut longsor. Sayang dalam perjalanan menuju Mahameru kami tidak bisa menikmati sunrise di puncak.

Pukul 6 pagi barulah kami tiba di puncak Mahameru. Lelah, putus asa, bahagia, segala emosi bercampur aduk namun terbayarkan oleh indahnya pemandangan di Mahameru ini. Momen yang akan selalu kami abadikan selamanya. Dengan secangkir kopi dan biskuit serta dimanjakan dengan pemandangan indah ini seakan lupa dengan penatnya kehidupan di kota.

Sekitar 1 jam lebih kami harus turun, karena tidak diperbolehkan terlalu lama di puncak, dikhawatirkan apabila Wedus Gembelnya turun. Kami pun akhirnya kembali ke tenda dan langsung beristirahat yang cukup lama. Setelah itu kami mengisi perut dan bersiap untuk kembali ke Ranukumbolo. Kurang lebih 2 jam kami tiba di Ranukumbolo dan bermalam di sini.

Sungguh pemandangan yang sangat indah dan bisa dikatakan sangat puas di sini. Kalian dilarang untuk berenang di Ranukumbolo. Tak luput kami mengabadikan momen dalam bingkaian foto. Keesokan paginya kami melanjutkan perjalanan ke Ranupani dan langsung ke Surabaya.

Note: jika ingin mendaki Gunung Semeru kalian harus membawa surat keterangan sehat, selalu mematuhi segala peraturan yang ada, serta bawalah sampah yang kalian buang. Jadilah pendaki yang bijaksana agar kelak ana cucu kita bisa merasakan apa yang kita rasakan.

Info terupdate mengatakan bahwa jalur Ayak2 ditutup karena bukan jalur utama untuk mendaki. Di jalur utama menuju Ranukumbolo kalian akan melewati 4 pos peristirahatan, sedangkan di jalur Ayak2 tidak ada posnya.

Tepat pukul 8 pagi kami memulai pendakian menuju Ranukumbolo, kami mendaki melalui jalur Ayak2 beserta dengan 2 orang porter. Jalur iniagak berat sehingga menguras banyak tenaga, tetapi ini merupakan jalur cepat menuju Ranukumbolo. Pukul 12 siang kami sudah tiba di Ranukumbolo, di sini kami beristirahat sembari menikmati hawanya yang sejuk tak luput pula kami menyantap makan siang yang sudah disiapkan.

Hamparan danau yang luas seakan menghilangkan rasa lelah kami. Setelah beristirahat selama 1 jam kami melanjutkan perjalanan kami. Dari Ranukumbolo kami berencana untuk berkemah di Kalimati.

Untuk menuju Kalimati kalian akan melewati Bukit Cinta. Konon bukit cinta memiliki mitos "apabila mendaki puncak bukit cinta tanpa menoleh ke belakang serta membayangkan orang yang terkasih maka cinta kalian akan terwujud/abadi."

Setelah melewati bukit cinta perjalanan kalian akan terasa lebih ringan karena jalur untuk menuju Kalimati sangat landai sehingga tidak menguras banyak tenaga. Dari bukit cinta kalian akan melewati Oro-Oro Ombo, kalian bisa melihat puncak Mahameru dengan jelas di sini.

Pukul 3 sore kami sudah tiba di Kalimati. Ini merupakancamp groundterakhir sebelum menuju Mahameru. Ada 1 titik poin bernama Arcopodo yang pasti akan dilewati namun tidak disarankan untuk berkemah di Arcopodo karena jauh dari sumber air. Kami mulai membagi tugas, ada yang mendirikan tenda, ada yang mempersiapkan makanan, dan ada yang mengambil air di sumber air.