Minggu, 19 Januari 2020

Mengenal Sawahlunto, Calon Situs Warisan Dunia UNESCO dari Sumbar

Dahulu dikenal sebagai Ombilin di zaman Belanda, kini Sawahlunto kian mantap jadi calon Situs Warisan Dunia UNESCO. Sebelumnya, ayo kita mengenalnya lebih jauh.

Bicara Sawahlunto tak lepas dari sejarah pertambangan Indonesia yang diinisiasi oleh Pemerintah Hindia Belanda dahulu kala. Oleh sebab itu, tambang jadi salah satu budaya yang lekat dengan Sawahlunto.

Dilihat detikcom dari situs resmi pariwisata Sawahlunto, Rabu (26/6/2019), sejarahnya tak lepas dari kedatangan penjajah Belanda ke Indonesia di bawah Cornelis de Houtman tahun 1596.

Kala itu, Belanda yang datang dengan maksud mencari rempah-rempah menyadari akan kekayaan lain Indonesia yang begitu luar biasa. Ya, kekayaan itu adalah batu-bara dan hasil bumi lainnya.

Tahun 1858 di bawah peneliti geologi Belanda Ir C De Groot van Embden, keberadaan batu-bara di aliran Batang Ombilin (Kini Sawahlunto - red) mulai terendus.

Tahun 1862, De Groot yang kala itu menjabat sebagai kepala pertambangan mengajak serta ahli geologi Willem Hendrik De Greve (akrab di sapa De Greve) untuk meneliti kandungan mineral dari Buitenzorg (Bogor) hingga Bangka dan Ombilin.

Barulah pada 26 Mei 1867 di bawah Gubernur Jenderal Hindia Belanda kala itu, Pieter Mijer, menunjuk langsung De Greve untuk melakukan penelitian batu-bara lebih jauh di Ombilin.

Dari tangannya, De Greve menuliskan sebuah buku bersama WA Henny di tahun 1871 tentang hasil penelitiannya. Sejak saat itu De Greve juga membuka cerita lahirnya Ombilin sebagai Kota Tambang pertama di Indonesia.

Lama berselang, tampuk kekuasaan pun beralih dari Belanda ke Indonesia. Kini bekas tambang yang sempat jaya di masanya itu dikelola oleh PT Bukit Asam (BA).

Menariknya, tak sedikit pekerja Sawahlunto yang hidup dan bekerja di sektor tersebut. Hampir dari hilir ke hulu, masyarakatnya hidup dari tambang. Menjadikan batu bara sebagai budaya tak terpisahkan dari masyarakatnya.

Hanya seiring dengan usainya kejayaan tambang di Sawahlunto, pihak Pemkot Sawahlunto dan PT BA mulai membuka diri lewat sektor pariwisata. Ide itu pun sempat dibicarakan dalam Diskusi Nasional Pariwisata Sawahlunto tahun 2017 lalu.

"Kita sudah lihat bagaimana potensi Sawahlunto sebagai kota tambang, maka kita bahu membahu ingin membangun pariwisata lewat wisata tambang," ujar Walikota Sawahlunto, Ali Yusuf dalam pidatonya saat itu.

Wacana untuk menjadikan Sawahlunto sebagai kota wisata tambang pun sudah bergulir dari tahun 2001 silam dengan target kesiapan pada tahun 2020 mendatang. Sejumlah objek wisata terkait tambang hingga bangunan bersejarah peninggalan Belanda di Sawahlunto juga akan dibenahi agar lebih menarik.

Keinginan Walikota Ali untuk menjadikan Sawahlunto sebagai kota wisata tambang pun akan kian terwujud apabila status Situs Warisan Dunia oleh UNESCO dapat diraih tahun ini.

Keren! Nanti Sampah di Pangandaran Bisa Ditukar Voucher Hotel

 Pangandaran punya inovasi menarik untuk solusi sampah dan pariwisata. Sampah yang dikumpulkan wisatawan bisa ditukar voucher hotel hingga bus wisata gratis.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Kadisparbud) Jabar Dedi Taufik mengakui tingginya kunjungan wisatawan di Pangandaran berdampak produksi sampah di kawasan tersebut. Sehingga, perlu penanganan khusus untuk sampah di sana.

Ia mengaku sengaja memilih Pangandaran menjadi percontohan inovasi penanganan sampah destinasi wisata di Jabar. Mengingat, tempat wisata di Pangandaran menjadi salah satu destinasi unggulan.

"Pengelolan sampah di tempat destinasi wisata kita akan melakukan di Pantai Pangandaran menjadi model. Mungkin di hari Kamis ini kita akan lakukan FGD dengan beberapa komunitas," ujar Dedi Taufiq via pesan singkat, Rabu (26/6/2019).

Ia menuturkan skema penanganan sampah ini dilakukan dengan memberikan kantong sampah kepada wisatawan di loket tiket. Nantinya wisatawan diminta membawa sampahnya ke loket tiket lagi saat meninggalkan Pangandaran.

"Nah kantong sampah ini, nanti selama dia stay di Pangandaran ini satu hari atau dua hari kembalinya itu ditimbang, terutama yang sampah-sampah anorganik," ungkap dia.

Dia mengatakan nantinya sampah yang dikumpulkan wisatawan itu akan dikonversi menjadi voucher hotel hingga layanan bus gratis. Pihaknya juga menggandeng pelaku usaha di sekitar Pangandaran untuk menyediakan hadiah tersebut.

Unicorn, Hewan Fantasi yang Dipuja Skotlandia

Hewan fantasi seperti unicorn sangat dekat dengan anak-anak. Tapi di Skotlandia, unicorn jadi lambang nasional yang punya arti khusus.

Hewan kerap menjadi lambang suatu negara. Biasanya mereka dipilih berdasarkan keunikannya. Bicara soal lambang negara, Skotlandia memilih sesuatu yang unik, unicorn.

Supaya tidak bingung, mari mundur sebentar untuk melihat awal kemunculan unicorn. Unicorn sendiri dikenal sebagai mitos dalam cerita Yunani.

Diintip detikcom dari BBC, Rabu (26/6/2019) hewan ini punya sejarah yang cukup panjang yang dimulai pada abad ke-4 sebelum Masehi.

Sejarawan klasik Ctesias di Indica menggambarkan unicorn sebagai binatang berkaki 4 dengan tanduk di pelipisnya. Dalam naskah tersebut unicorn dikenal sebagai keledai liar.

Ada pula teori yang mengatakan bahwa dulu unicorn memang sudah ada. Namun karena lambat sampai di bahtera Nabi Nuh, unicorn akhirnya tersapu oleh air bah.

Masuk abad ke-12, unicorn muncul perdana dalam bentuk lambang kerajaan pada pemerintahan William I atau dikenal dengan nama William the Lion.

Terus berlanjut, unicorn menjadi simbol kemurnian dan kekuatan bagi raja dan bangsawan Skotlandia. Lambang ini disahkan oleh James II pada abad ke-15. Dari sinilah unicorn diakui sebagai hewan nasional skotlandia.

Inilah yang membuat warga Skotlandia begitu erat dengan unicorn. Mereka menjadikan unicorn sebagai simbol kemurnian, kekuatan, keperawanan dan kelembutan. Mitos lain juga dikaitkan bahwa hanya perawan yang bisa menaklukan unicorn.

Mungkin sebagai pelancong, kita kurang memahami makna dari hewan mitos ini. Tapi begitu menginjakkan kaki di Skotlandia, kamu bisa melihat kecintaan pada unicorn ada di setiap sudut kota.

Ya, unicorn bukan cuma lambang negara tapi juga ideologi. Hal ini bisa terlihat dari banyaknya patung dan lukisan unicorn.

Tak ada batas antara kenyataan dan imajinasi, Skotlandia membuat siapa pun kembali percaya bahwa unicorn adalah mitos yang lekat di hati.

Mengenal Sawahlunto, Calon Situs Warisan Dunia UNESCO dari Sumbar

Dahulu dikenal sebagai Ombilin di zaman Belanda, kini Sawahlunto kian mantap jadi calon Situs Warisan Dunia UNESCO. Sebelumnya, ayo kita mengenalnya lebih jauh.

Bicara Sawahlunto tak lepas dari sejarah pertambangan Indonesia yang diinisiasi oleh Pemerintah Hindia Belanda dahulu kala. Oleh sebab itu, tambang jadi salah satu budaya yang lekat dengan Sawahlunto.

Dilihat detikcom dari situs resmi pariwisata Sawahlunto, Rabu (26/6/2019), sejarahnya tak lepas dari kedatangan penjajah Belanda ke Indonesia di bawah Cornelis de Houtman tahun 1596.

Kala itu, Belanda yang datang dengan maksud mencari rempah-rempah menyadari akan kekayaan lain Indonesia yang begitu luar biasa. Ya, kekayaan itu adalah batu-bara dan hasil bumi lainnya.

Tahun 1858 di bawah peneliti geologi Belanda Ir C De Groot van Embden, keberadaan batu-bara di aliran Batang Ombilin (Kini Sawahlunto - red) mulai terendus.

Tahun 1862, De Groot yang kala itu menjabat sebagai kepala pertambangan mengajak serta ahli geologi Willem Hendrik De Greve (akrab di sapa De Greve) untuk meneliti kandungan mineral dari Buitenzorg (Bogor) hingga Bangka dan Ombilin.

Barulah pada 26 Mei 1867 di bawah Gubernur Jenderal Hindia Belanda kala itu, Pieter Mijer, menunjuk langsung De Greve untuk melakukan penelitian batu-bara lebih jauh di Ombilin.

Dari tangannya, De Greve menuliskan sebuah buku bersama WA Henny di tahun 1871 tentang hasil penelitiannya. Sejak saat itu De Greve juga membuka cerita lahirnya Ombilin sebagai Kota Tambang pertama di Indonesia.

Lama berselang, tampuk kekuasaan pun beralih dari Belanda ke Indonesia. Kini bekas tambang yang sempat jaya di masanya itu dikelola oleh PT Bukit Asam (BA).

Menariknya, tak sedikit pekerja Sawahlunto yang hidup dan bekerja di sektor tersebut. Hampir dari hilir ke hulu, masyarakatnya hidup dari tambang. Menjadikan batu bara sebagai budaya tak terpisahkan dari masyarakatnya.