Sabtu, 23 Mei 2020

Peneliti Klaim Gejala Corona Bisa Bertahan Hingga Berbulan-bulan

Penelitian terbaru dari King's College London mengklaim bahwa satu dari 10 pasien bisa mengalami gejala virus Corona COVID-19 selama satu bulan atau lebih. Efek jangka panjang ini memicu kekhawatiran petugas medis.
King's College London mengklaim 1 dari 10 pasien itu masih mengalami gejala Corona tiga minggu setelah terinfeksi. Padahal, umumnya waktu pemulihan kasus COVID-19 yang ringan hanya perlu waktu sekitar dua minggu. Bahkan data terbaru menyebutkan efek jangka panjang ini masih diremehkan pemerintah.

"Pemerintah memberitahu masyarakat kalau ini (COVID-19) seperti flu dan hanya memeriksa beberapa gejala, tapi ini sama sekali tidak seperti flu," kata Profesor Tim Spector dari King's College yang dikutip dari Daily Star, Jumat (22/5/2020).

"Bahkan banyak orang yang mengatakan gejala penyakit ini masih dirasakannya selama lebih dari tiga bulan," lanjutnya.

Prof Spector menggambarkan virus Corona sebagai salah satu penyakit yang paling aneh yang pernah ia temui. Ia pun semakin khawatir karena efek jangka panjang dari gejala penyakit ini bisa berlangsung lama dan luput dari perhatian pemerintah.

"Biasanya jika Anda sakit karena virus, dalam beberapa hari akan membaik. Tapi, penyakit ini berbeda, itu bisa kembali menyerang tubuh Anda bahkan dengan gejala yang berbeda dari sebelumnya setelah terinfeksi," ujar Paul Garner, seorang profesor penyakit menular di Liverpool School of Tropical Medicine.

Sebentar Lagi Buka Puasa, Ini Tips Berbuka untuk Kamu yang Berkulit Kering

 Setelah puasa lebih dari 12 jam, tubuh biasanya mulai kekurangan cairan. Kondisi ini ditandai dengan kulit yang mulai terlihat kusam dan kering.
Bila menemui kondisi tersebut, kecukupan cairan dalam tubuh sebaiknya segera dipenuhi saat buka puasa. Asupan yang sama sebaiknya juga dikonsumsi saat sahur untuk mencegah penurunan kesehatan kulit.

Namun tak usah khawatir detikers, berikut beberapa tips yang bisa membantu menjaga kesehatan dan kelembaban kulit dikutip dari Al-Arabiya.

1. Segera minum air putih
Saat dengar adzan maghrib, segera minum air putih 2 gelas untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh. Meski sedang puasa, tubuh tetap perlu 8 gelas air putih per hari.

2. Hindari minuman bersoda
Minuman bersoda kerap mengandung kafein dalam jumlah tinggi yang bisa mengakibatkan dehidrasi, sehingga berdampak buruk pada kesehatan kulit. Selain kafein, minuman bersoda juga banyak mengandung gula yang berisiko meningkatkan jumlah kalori dalam tubuh. Hidangan manis bisa dikonsumsi dalam jumlah secukupnya.

3. Konsumsi madu
Madu punya banyak manfaat bagi kesehatan dan kecantikan kulit. Madu mengandung vitamin C yang berfungsi sebagai antioksidan untuk mencegah penuaan dini. Berbagai produk kecantikan menambahkan madu untuk melembabkan bibir dan berbagai bagian kulit lainnya. Madu sebaiknya dikonsumsi saat sahur dan buka puasa.

4. Jangan lupa makan sayur dan buah
Selain dikonsumsi langsung, sayur dan buah bisa dibuat infused water yang diminum saat sahur atau buka puasa. Sayur dan buah mengandung kelengkapan vitamin dan mineral yang menjaga kelembapan dan kesehatan kulit.

5. Makan ikan
Ikan mengandung asam lemak esensial yang tidak bisa dibentuk tubuh sendiri. Kandungan asam lemak membantu kulit tetap lembab dan bercahaya sehingga tidak mudah kering. Sangat disarankan makan ikan sedikitnya 2 kali seminggu dengan cara mengolah yang minim garam, gula, dan minyak.

Vaksin Corona Belum Tersedia, Ilmuwan AS Minta Jangan Terlalu Diharapkan

Saat ini, kehadiran vaksin sangat dinantikan oleh masyarakat di dunia untuk mengatasi pandemi virus Corona COVID-19 yang tak kunjung usai. Berbagai penelitian mulai berdatangan dan berlomba untuk mencari siapa yang paling cepat dan ampuh untuk meredakan pandemi ini.
Namun, ilmuwan ternama asal Amerika Serikat malah meminta orang-orang di dunia untuk tidak terlalu berharap dan bergantung pada vaksin. Ilmuwan sekaligus peneliti di bidang kanker, HIV-AIDS, dan genom manusia, William Haseltine, mengatakan cara terbaik untuk mengendalikan Corona dengan pelacakan infeksi dan isolasi yang ketat.

"Tidak hanya karena kita tidak memilikinya (vaksin) sekarang. Mungkin kita akan memilikinya nanti, tapi belum tahu kapan pastinya," kata Haseltine yang dikutip dari Reuters, Jumat (22/5/2020).

Haseltine pun meminta orang-orang agar tidak mudah percaya dengan banyak pihak yang mengklaim bisa menyediakan vaksin dalam waktu dekat. Tak hanya itu, dia pun ragu apakah vaksin itu nantinya akan efektif melindungi manusia dari virus.

Ia menjelaskan, setiap vaksin Corona yang sebelumnya pernah dibuat, seperti vaksin SARS dan MERS tidak begitu efektif dalam melindungi manusia. Itu karena kedua vaksin tersebut gagal untuk melindungi selaput lendir di hidung yang menjadi pintu masuk virus ke tubuh.

Tetapi, Haseltine tetap yakin bahwa virus Corona bisa dikendalikan manusia, meskipun tanpa adanya vaksin atau obat.

"Kamu bisa mengontrolnya tanpa vaksin atau obat. Caranya dengan tiga prinsip dasar, yaitu identifikasi mereka yang terinfeksi, identifikasi mereka yang terpapar, dan isolasi secara paksa semua orang yang terpapar," jelasnya.

Sebagai contoh, Haseltine menyebut China, Korea Selatan, dan Taiwan berhasil melewati pandemi dengan strategi tersebut. Selain itu, ia juga mengatakan bahwa tes vaksin COVID-19 pada hewan memang mengurangi jumlah virus dalam organ, tetapi tidak menghentikan penularannya.

Peneliti Klaim Gejala Corona Bisa Bertahan Hingga Berbulan-bulan

Penelitian terbaru dari King's College London mengklaim bahwa satu dari 10 pasien bisa mengalami gejala virus Corona COVID-19 selama satu bulan atau lebih. Efek jangka panjang ini memicu kekhawatiran petugas medis.
King's College London mengklaim 1 dari 10 pasien itu masih mengalami gejala Corona tiga minggu setelah terinfeksi. Padahal, umumnya waktu pemulihan kasus COVID-19 yang ringan hanya perlu waktu sekitar dua minggu. Bahkan data terbaru menyebutkan efek jangka panjang ini masih diremehkan pemerintah.

"Pemerintah memberitahu masyarakat kalau ini (COVID-19) seperti flu dan hanya memeriksa beberapa gejala, tapi ini sama sekali tidak seperti flu," kata Profesor Tim Spector dari King's College yang dikutip dari Daily Star, Jumat (22/5/2020).

"Bahkan banyak orang yang mengatakan gejala penyakit ini masih dirasakannya selama lebih dari tiga bulan," lanjutnya.

Prof Spector menggambarkan virus Corona sebagai salah satu penyakit yang paling aneh yang pernah ia temui. Ia pun semakin khawatir karena efek jangka panjang dari gejala penyakit ini bisa berlangsung lama dan luput dari perhatian pemerintah.

"Biasanya jika Anda sakit karena virus, dalam beberapa hari akan membaik. Tapi, penyakit ini berbeda, itu bisa kembali menyerang tubuh Anda bahkan dengan gejala yang berbeda dari sebelumnya setelah terinfeksi," ujar Paul Garner, seorang profesor penyakit menular di Liverpool School of Tropical Medicine.