Jumat, 18 Juni 2021

Flashback Corona RI Hingga Mengamuk Lagi, Bagaimana Agar Faskes Tak Kolaps?

  Kasus baru Corona di Indonesia lagi-lagi menyentuh angka 12 ribu. Jumlah ini jadi rekor terbanyak kasus baru dibandingkan beberapa pekan sebelumnya.

Penambahan kasus baru di atas 10 ribu terakhir kali tercatat pada 7 Februari dengan 10.827 kasus. Setelah itu tren cenderung menurun bahkan sempat menyentuh posisi terendahnya pada 15 Mei 2021 dengan 2.385 kasus.


Para ahli sebenarnya telah memprediksi adanya lonjakan COVID-19 kasus usai masa libur Idul Fitri di pertengahan Mei lalu. Meski sudah diantisipasi, ledakan kasus Corona di Indonesia tetap tidak terbendung.


"Jika tak ada containment, tidak ada pengendalian yang tepat dan cepat saya bisa katakan 2 minggu sampai 1 bulan lagi kita sudah akan kolaps," kata Kabid Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Dr Masdalina Pane.


Pane menegaskan, penambahan kapasitas tempat tidur bukan solusi atau jalan keluar mengatasi membludaknya keterisian tempat tidur pasien COVID-19. Pemerintah perlu menjalankan komunikasi risiko efektif dan tegas mengawal penerapan protokol kesehatan.

Cara agar Indonesia 'selamat' dari Corona

Pane dengan tegas mengingatkan agar memberi perhatian khusus pada 3T (testing, tracing, treatment) untuk mencari kasus COVID-19. Selain itu peran masyarakat terhadap kepatuhan protokol kesehatan tidak boleh diabaikan.


"Yang harus dilakukan adalah containment di hulu jadi bagaimana caranya agar masyarakat itu tetap mematuhi protokol kesehatan tapi tracingnya kuat," lanjutnya.


Terpisah, pakar epidemiologi Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengatakan penting bagi pemerintah untuk gerak cepat membangun RS darurat COVID-19. Jika tahapannya jelas, beberapa rumah sakit besar bisa khusus menangani pasien kritis COVID-19 sehingga risiko kolaps terminimalisir.


Dicky menilai perlu adanya perawatan pasien Corona yang berjenjang. Meski diakuinya di beberapa wilayah sudah tersedia, ia ingin hal demikian terus dimasifkan.


"Sehingga mereka bisa segera ditangani sejak awal di rumah, dan dilakukan isolasi karantina, kemudian juga dibuat penguatan sistem rujukan jadi jangan sampai dikit-dikit ya ke rumah sakit," bebernya.

https://nonton08.com/movies/seven-dangerous-women/


Meski Sudah Vaksin Gaya Hidup Sehat Harus Dijalankan


 Sebagian masyarakat di Indonesia sudah mendapatkan vaksin COVID-19 sejak awal tahun 2021 ini. Pemberian vaksin ini dilakukan untuk menekan angka penularan COVID-19 di Tanah Air. Namun, hal ini masih belum sempurna melindungi diri dari infeksi virus jika tidak diimbangi dengan disiplin protokol kesehatan.

Pasalnya, jumlah kasus virus Corona hingga saat ini masih terus bertambah. Tercatat, berdasarkan data Kementerian Kesehatan pada Rabu (16/6), kasus COVID-19 bertambah 12.624, sehingga total kasus positif mencapai 1.950.276, sembuh 1.771.220, dan meninggal 53.753 jiwa.


Dilansir dari healtgrades, vaksinasi penting untuk memproteksi diri dari ancaman virus Corona. Namun, selain vaksinasi juga ada kebiasaan harian yang wajib kita terapkan untuk meningkatkan daya tahan tubuh, salah satunya disiplin protokol kesehatan. Berikut di antaranya.


1. Jalani Gaya Hidup Sehat


Mempertahankan gaya hidup sehat adalah cara alami untuk menjaga sistem kekebalan tubuh. Ini bisa dilakukan dengan menjaga berat badan, makan makanan yang sehat dan berserat untuk meningkatkan stamina, berolahraga secara teratur serta membatasi asupan alkohol.


2. Disiplin Protokol Kesehatan


Disiplin protokol kesehatan merupakan kunci agar kita bisa memproteksi diri dari virus secara langsung. Di Indonesia, protokol kesehatan yang berlaku itu bisa dilakukan dengan memakai masker, mencuci tangan, menjaga jarak dan menghindari kerumunan yang berisiko.

https://nonton08.com/movies/demons-de-midi/

6 Fakta Varian Delta, Varian 'Ganas' yang Mendominasi Corona RI

 Varian Corona B1617.2 yang pertama kali ditemukan di India atau varian Delta mulai menyebar di beberapa wilayah Indonesia. Varian ini diklasifikasikan sebagai variant of concern (VoC) oleh WHO karena diduga lebih menular dibandingkan varian aslinya.

Data dari Kementerian Kesehatan RI menunjukkan per 13 Juni, sudah ada 107 varian Delta yang tersebar, menjadikannya VoC yang mendominasi di Tanah Air.


Mantan Direktur WHO SEARO, Prof Tjandra Yoga Aditama, mengungkap beberapa hal terkait varian Delta, mulai dari tingkat penularan hingga dampaknya terhadap vaksin.


1. Terbukti lebih menular

Varian Delta telah terbukti meningkatkan risiko penularan. Di Inggris, ada lebih dari 42 ribu kasus varian Delta, naik 70 persen dari minggu sebelumnya atau naik 29 ribu kasus dalam waktu sepekan.


"Juga, Public Health England (PHE) melaporkan bahwa varian Delta ternyata 60 persen lebih mudah menular daripada varian Alfa. Juga waktu penggandaannya (doubling time) berkisar antara 4,5 sampai 11,5 hari," jelas Prof Tjandra kepada wartawan, Kamis (17/6/2021).

2. Jumlah penderita baru

Data terbaru dari Inggris menunjukkan bahwa secondary attack rates atau jumlah penderita baru varian Delta lebih tinggi daripada Alfa. Secondary attack rate varian Delta adalah 2,6 persen dan varian Alfa sebesar 1,6 persen pada mereka yang ada riwayat bepergian. Pada kontak kasus yang tidak ada riwayat bepergian, kasus varian Delta 8,2 persen, sementara varian Alfa 12,4 persen.


3. Keparahan penyakit

Meski varian Delta belum terkonfirmasi membuat infeksi lebih berat atau menyebabkan kematian yang lebih tinggi, ada laporan peningkatan kasus rawat inap akibat varian ini.


"Di sisi lain, memang ada beberapa laporan yang membahas tentang kemungkinan lebih beratnya penyakit yang ditimbulkan varian ini," papar Prof Tjandra.


4. Reinfeksi

Dalam pemaparannya, Prof Tjandra menyinggung dampak varian Delta terhadap kemungkinan terinfeksi ulang sesudah sembuh. Ia mengatakan ada laporan bahwa pada varian Delta, terjadi penurunan aktifitas netralisasi yang berkaitan dengan risiko reinfeksi.


5. Diagnosis

Sejauh ini belum ada laporan ilmiah yang sahih tentang dampak varian Delta terhadap hasil pemeriksaan COVID-19 dengan PCR dan atau rapid antigen.

6. Kebal vaksin?

Laporan awal dari Inggris menunjukkan ada sedikit penurunan efektifitas vaksin Pfizer BioNTech dan AstraZeneca-Vaxzevria terhadap varian Delta dibandingkan dengan varian Alfa. Penelitian lain yang dipublikasi di jurnal internasional Lancet menemukan adanya penurunan netralisasi pada varian Delta yang diberi vaksin Pfizer, lebih tinggi dari penurunan netralisasi pada varian Alfa dan Beta.


"Dari berbagai data yang ada maka secara umum pemberian vaksin Pfizer dan AstraZeneca dua dosis masih dapat melindungi terhadap varian Delta, tetapi memang harus dua kali dan jangan hanya satu kali," pungkasnya.

https://nonton08.com/movies/first-kill-2/


Flashback Corona RI Hingga Mengamuk Lagi, Bagaimana Agar Faskes Tak Kolaps?


 Kasus baru Corona di Indonesia lagi-lagi menyentuh angka 12 ribu. Jumlah ini jadi rekor terbanyak kasus baru dibandingkan beberapa pekan sebelumnya.

Penambahan kasus baru di atas 10 ribu terakhir kali tercatat pada 7 Februari dengan 10.827 kasus. Setelah itu tren cenderung menurun bahkan sempat menyentuh posisi terendahnya pada 15 Mei 2021 dengan 2.385 kasus.


Para ahli sebenarnya telah memprediksi adanya lonjakan COVID-19 kasus usai masa libur Idul Fitri di pertengahan Mei lalu. Meski sudah diantisipasi, ledakan kasus Corona di Indonesia tetap tidak terbendung.


"Jika tak ada containment, tidak ada pengendalian yang tepat dan cepat saya bisa katakan 2 minggu sampai 1 bulan lagi kita sudah akan kolaps," kata Kabid Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Dr Masdalina Pane.


Pane menegaskan, penambahan kapasitas tempat tidur bukan solusi atau jalan keluar mengatasi membludaknya keterisian tempat tidur pasien COVID-19. Pemerintah perlu menjalankan komunikasi risiko efektif dan tegas mengawal penerapan protokol kesehatan.

https://nonton08.com/movies/first-kill/