Beberapa waktu lalu selebriti dan host ternama Hollywood, Ellen DeGeneres mengumumkan bahwa dirinya positif terinfeksi virus Corona. Tetapi, pada saat itu Ellen merasa dirinya baik-baik saja.
Ia mengumumkan dirinya positif COVID-19 di akun Twitter miliknya. Ellen juga mengatakan semua orang yang telah melakukan kontak dekat dengannya sudah diberitahu terkait kondisinya tersebut.
"Saya ingin memberitahu Anda semua bahwa saya dinyatakan positif COVID-19. Untungnya, saya merasa baik-baik saja sekarang," ujarnya melalui postingan Twitternya beberapa waktu lalu.
Namun, baru-baru ini Ellen kembali mengumumkan kondisi terkininya setelah terinfeksi COVID-19. Ia baru merasakan gejala yang muncul akibat infeksi virus Corona tersebut, bukan gejala umum seperti demam, batuk, hingga anosmia.
Dalam video yang diunggah di akun Instagram miliknya pada Rabu (16/12/2020), Ellen berterima kasih pada orang-orang yang telah mendukungnya. Lalu, ia juga mengatakan sangat terkejut karena telah menghadapi gejala COVID-19 yang tak terduga, yaitu sakit punggung.
"Satu lah yang mereka tidak katakan adalah Anda mengalami sakit punggung yang menyiksa. Tidak tahu itu gejalanya, tapi saya berbicara dengan beberapa orang lain yang juga mengalaminya. Siapa yang tahu? Bagaimana itu bisa terjadi? Sakit punggung itu terasa buruk," ujarnya yang dikutip dari laman Channel News Asia.
Selebriti yang berusia 62 tahun tersebut pertama kali didiagnosis positif COVID-19 pada 10 Desember 2020.
https://kamumovie28.com/movies/insya-allah-sah/
Vaksin COVID-19 di Indonesia Gratis, Epidemolog UGM: Sudah Sewajarnya
Pemerintah akhirnya memutuskan untuk memberikan vaksin COVID-19 gratis untuk masyarakat. Selain itu presiden Joko Widodo (Jokowi) siap menjadi orang pertama yang disuntik vaksin.
Pakar epidemiologi UGM dr Riris Andono Ahmad atau dr Doni menilai sudah sewajarnya pemerintah menggratiskan vaksin untuk masyarakat. Menurutnya, ada dua kelompok masyarakat yang menjadi target awal vaksinasi.
"Sudah sewajarnya itu (vaksin) gratis. Yang divaksin awal yang paling berisiko tinggi. Antara mereka yang punya potensi tertular COVID-19 tinggi dan mereka yang tertular menjadi parah dan punya risiko kematian tinggi," kata dr Doni saat dihubungi wartawan, Kamis (17/12/2020).
Namun, ia melihat dalam penanganan pandemi ini banyak yang dipolitisasi. Termasuk langah presiden yang bersedia menjadi orang pertama yang menerima vaksin. Menurutnya, tidak masalah bagi presiden jika tak menjadi orang pertama yang menerima vaksin.
"Saya melihatnya terlalu mempolitisasi pandemi ini, semua yang dilakukan pemerintah menjadi keliru, tidak seharusnya seorang presiden menjadi orang pertama (disuntik)," sebutnya.
"Tapi kalau itu melakukannya sebagai sesuatu yang simbolis untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat (agar mau divaksin) itu tidak masalah, tidak jadi orang pertama pun tidak masalah," tambahnya.
Dampak politisasi ini, kata dia, membuat kepercayaan masyarakat untuk mau divaksin menjadi rendah. Masyarakat menurutnya lebih percaya pada teori konspirasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar