Pemerintah akhirnya memutuskan untuk memberikan vaksin COVID-19 gratis untuk masyarakat. Selain itu presiden Joko Widodo (Jokowi) siap menjadi orang pertama yang disuntik vaksin.
Pakar epidemiologi UGM dr Riris Andono Ahmad atau dr Doni menilai sudah sewajarnya pemerintah menggratiskan vaksin untuk masyarakat. Menurutnya, ada dua kelompok masyarakat yang menjadi target awal vaksinasi.
"Sudah sewajarnya itu (vaksin) gratis. Yang divaksin awal yang paling berisiko tinggi. Antara mereka yang punya potensi tertular COVID-19 tinggi dan mereka yang tertular menjadi parah dan punya risiko kematian tinggi," kata dr Doni saat dihubungi wartawan, Kamis (17/12/2020).
Namun, ia melihat dalam penanganan pandemi ini banyak yang dipolitisasi. Termasuk langah presiden yang bersedia menjadi orang pertama yang menerima vaksin. Menurutnya, tidak masalah bagi presiden jika tak menjadi orang pertama yang menerima vaksin.
"Saya melihatnya terlalu mempolitisasi pandemi ini, semua yang dilakukan pemerintah menjadi keliru, tidak seharusnya seorang presiden menjadi orang pertama (disuntik)," sebutnya.
"Tapi kalau itu melakukannya sebagai sesuatu yang simbolis untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat (agar mau divaksin) itu tidak masalah, tidak jadi orang pertama pun tidak masalah," tambahnya.
Dampak politisasi ini, kata dia, membuat kepercayaan masyarakat untuk mau divaksin menjadi rendah. Masyarakat menurutnya lebih percaya pada teori konspirasi.
Kita sudah semakin terpolitisasi dalam menangani pandemi, dan itu menyebabkan sebagian orang tidak percaya kepada vaksin, bukan karena mereka paham bukti ilmiah kemanjuran vaksin tapi lebih kepada beredar teori konspirasi dan itu menjadi tidak produktif," ucapnya.
Hal ini lah yang menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah. Sebab, untuk bisa menangani pandemi dan menciptakan herd immunity paling tidak ada 70-80 % masyarakat yang divaksin.
"Karena vaksin itu digunakan agar herd imunnity tercapai dan butuh 70-80% orang yang divaksin," jelasnya.
"Artinya butuh penerimaan untuk diimunisasi, jadi kalau orang tidak mau menerima karena adanya teori konspirasi artinya kan investasi yang dilakukan pemerintah bahkan vaksin gratis bisa jadi tidak memberikan dampak yang cukup untuk menghentikan pandemi. Itu yang menjadi tantangan saat ini," tegasnya.
Untuk itu ia menyarankan agar semua orang bersatu dalam penanganan COVID-19 dan mengesampingkan kepentingan sesat.
"Yang dilakukan sosialisasi yang efektif agar masyarakat mau diimunisasi dan semua orang yang punya perbedaan politik mau meredam kepentingannya sesaat demi bangsa ini," pungkasnya.
https://kamumovie28.com/movies/suzanna/
Cerita Paramitha Rusady Alami 'Mati Suri' Berhari-hari Usai Melahirkan
Melahirkan adalah salah satu pengalaman dramatis yang dialami oleh para ibu. Pengalaman itu pun pernah dirasakan artis Paramitha Rusady.
Persalinan yang cukup sulit membuat artis yang terkenal pada 1980-an hingga 2000-an ini merasa seperti mati suri usai melahirkan puteranya, Adrian Tegar Maharaja Bago.
"Iya bener sih, waktu itu proses lahirannya tuh agak susah gitu, jadi pendarahan, terus dokternya tuh cuma satu gitu," ujar Paramitha Rusady seperti dikutip dari Youtube Trans TV, Rabu (16/12/2020).
Ia melahirkan di jam subuh dan dokter yang berjaga kala itu tidak banyak. Hal tersebut membuat dirinya semakin panik. Bahkan pada saat itu dokter seakan harus memilih antara ibu atau anak karena kondisinya yang cukup mengkhawatirkan.
"Terus kayak pada kondisi ini pilih ibunya apa anaknya, jadi sudah ada kondisi begitu, terus bingunglah keluarga," jelasnya.
Setelah melahirkan, Paramitha Rusady sempat koma selama empat hingga lima hari dan dipasangkan alat pendeteksi jantung.
"Line-nya tuh up and down kalau masih ada detak jantung, tadinya berdetak, lama-lama lemas, tapi mereka nganggapnya koma," ujar wanita 54 tahun itu.
Bagaimana cerita Paramitha Rusady saat merasa seperti mati suri?
KLIK DI SINI UNTUK KE HALAMAN SELANJUTNYA.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar